Aku diizinkan pulang dari rumah sakit adalah suatu kebahagiaan. Oke, sekarang Freya bukan lagi perempuan si kembang desa. Aku akan mengikuti plot cerita tepatnya mengubah plot 'Lovesick' yang hanya berkaitan denganku.
Untuk tokoh utama aku tidak peduli walaupun rasanya mustasil. Di part Freya menyelamatkan Ganes itu sudah satu bulan aksi kegilaan Freya pada siswi baru di SMA Aurora. Rayena, si tokoh utama wanita berhasil memikat hati Ganes.
Layaknya tokoh antagonis Freya terus melukai Yena bahkan sampai membuat Yena nyaris botak.
Menurutku Freya tidak salah.
Bagaimana bisa perjuangan terasa sia-sia satu tahun lebih mengejar cinta Ganes. Mengejar cinta di sini Freya masih dibatas wajar, misalnya membuat bekal makanan kesukaan Ganes.
Kursi di pinggir lapangan selalu ada botol minum itu untuk Ganes yang selesai latihan basket.
Mengerjakan tugas Ganes padahal keduanya beda jurusan. Membantu Ganes tidak dihukum para guru karena keseringan bolos. Cuih! Freya sangat bucin. Mungkin aku akan jijik kalau Freya terus menempeli Ganes, untungnya Freya bukan seperti itu.
Dia hanya pengamat dari jarak jauh baru makin terang-terangan saat Yena muncul di sekolahnya dan Ganes dengan senang hati mengantar pulang Yena saat itu. Dulu, Freya pernah pakai kode sayangnya Ganes mengabaikan kode Freya untuk di antarkan pulang.
Siapa yang tidak sakit?
Aku saja sakit hati membacanya.
Ingin sekali meneriaki Ganes yang tidak punya hati nurani. Bermodal tampang dan harta sudah berada di atas angin.
"Nona!"
Panggilan itu membuat lamunanku buyar, aku berkedip. Ternyata telah sampai di rumah, mobil mewah ini singgah di halaman luas. Tanpa sadar aku menciut, kalau mereka tau sosok di mobil ini bukan Freya Lovely Astagina aku pasti ditendang.
Tadi pagi aku bertukar pesan dengan Namira dan Sena bahwa aku hanya bercanda soal lupa ingatan, mereka biasa saja. Tidak marah, bahkan respon Namira mengharapkan aku amnesia, katanya siapa tau aku jadi sosok dermawan. Aku tertawa membacanya.
Keluar dari mobil sambil mengeret koper. Ini layaknya aku habis selesai liburan padahal tas besar itu cukup, namun aku kan baru tadi malam menetap di tubuh Freya.
Aku mengangkat kepala manik kecoklatan ini menangkap beberapa orang di ambang pintu berjarak beberapa meter termasuk Lingga.
Dua orang remaja laki-laki seumur Freya jelas menatap lurus aku berdiri, aku tidak mengerti tatapan mereka. Wanita di samping pria berumur aku yakini Papa--Freya bernama Astar.
Apa harus berbalik dan memilih kabur saja. Entah kenapa aku teringat sesuatu, sesuatu yang bikin aku mungkin kencing di celana. Bahaya!
"Nona, kenapa berhenti? Ada sesuatu yang ketinggalan biar saya mengambilnya." Pak Toyo cerewet sekali, aku menggeleng kaku. Mengatur napas, tidak apa. Hadapilah jangan menjauh.
Tepat setelah aku berdiri di hadapan mereka aku hanya melirik sekilas, kemudian berjalan melewati keluarga yang detik ini keluargaku sekarang. Di novel Freya dingin dengan keluarganya, membenci ibu sambung dan dua kakak tirinya, adik tirinya, bahkan sang papa kandung.
"Kamu masuk rumah sakit karena kamu tawuran?" Suara Papa terdengar menahan amarah, aku mengedikkan bahu semakin melangkah cepat menuju undakan tangga. Seingatku kamar Freya berada di lantai dua, di pintu ada kertas tertempel bertulisan kata-kata menusuk.
"FREYA!" Meninggikan oktafnya bersamaan derap langkah kaki, aku belum sempat menoleh ketika rasa nyeri mendarat di pipi. Bunyinya menggema di ruangan, aku tercengat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)