"Hutang lo sama gue banyak. Gara-gara lo telapak tangan gue bau jigong pake tanah pun baunya nggak hilang."
"Lo kira gue anjing?!" Aku mengacak rambut frustasi yang secara langsung tangan Ziyan juga terborgol ikut terangat.
Aku lelah fisik dan batin.
Apalagi satu mobil dengan pemuda yang di malam itu meraba pahaku. Dia nampak terdiam kaku, fokus mengemudi sesekali pemuda bernama Rey tersebut melirik melalui kaca spion ke jok belakang aku dan Ziyan berada.
Sebenarnya Ziyan itu mau apa? Jawabannya tadi aku anggap lelucun. Mungkin kah dia sengaja membuat Ganes marah, mengingat Ganes ke kelasku beberapa hari lalu karena Glen jadi pengadu yang melihatku bersama Ziyan di parkiran minimarket.
"Kita ke markas, Rey."
"Oke."
Mataku memicing tanpa sadar sudah memajukan badan, kejadian beberapa minggu lalu itu wajah mereka hanya terlihat samar.
"Ck, diam deh! Tenang aja Rey khilaf ... Rey sekalian katanya mau minta maaf, minta maafnya dia bahkan bersedia bersimpuh di hadapan lo, tambahan cium kaki lo juga bisa kayaknya," ujar Ziyan.
Aku mendelik sambil memperlihatkan kepalan tangan. Entah kenapa ucapan Ziyan malah terdengar mesum di telingaku, tidak usah selebay itu, minta maaf secara tulus saja cukup. Lagipula Laskar berhasil membuat Rey babak belur.
Ziyan tertawa.
"Ternyata lo lucu ya, gimana bisa Ganes menyia-nyiakan cewek purba kaya lo. Hm, ini agak menusuk sih. Gue kasih saran nyerah aja deh, buang-buang waktu mengejar yang nggak pasti lebih baik di depan mata!" tutur Ziyan santai.
Kedua alisku naik apalagi kemudian mendengar suara tawa Rey sembari berkata. "Jangan modus deh, Zi. Ini gadis ke 102 yang akan lo pacarin."
Aku melotot horor. Demi apapun membayangkannya sukses membuatku hendak muntah. Bagaimana bisa Ziyan se-playboy itu seharusnya aku tidak kaget karena di novel juga dijelaskan, bertemu Yena akhirnya Ziyan tobat dan keluar dari peternakan buaya.
"Jangan percaya sama Rey. Musyrik!" seru Ziyan bersungut-sungut. Kaki panjang Ziyan menendang kursi kemudi, membuang muka saat aku mengamati tingkahnya yang tiba-tiba gelisah.
Aku mengalihkan pandangan, menatap keluar jendala mobil. Awan masih menumpahkan isinya, untunglah tubuhku telah dilapisi dengan jaket yang diberikan Radit ketika kami bertemu di koridor.
Radit jadi sosok kakak yang baik selalu aku idamkan, begitupula Laskar walaupun Laskar jelas masih tampak canggung dan cara bicaranya tetap ketus. Semuanya aku maklumi.
"Sabda..." Aku bergumam pelan sambil jemariku membentuk garis di jendela mobil. Sensasi dingin menenangkan. Lalu kubuka jendelanya, sengaja mengeluarkan tanganku hingga sebatas siku.
Hampir dua bulan di sini aku tetap lah merindukan Sabda. Calon tunanganku.
Sabda, yang bersikap lembut terhadap perempuan. Bicaranya dalam bertutur sangat baik.
"Pasti sekarang kamu udah jadi kepala desa." Dengan bibir tertarik keatas, aku membayangkan Sabda memakai pakaian dinas.
Sepuluh menit kemudian, tibalah di tempat yang dimaksud Ziyan soal markas. Aku duduk diam di sofa panjang, mereka semua orang-orang yang di malam itu mengepungku bersama Laskar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)