Adik?
Aku punya adik di kehidupan sebelumnya. Itu berarti aku dan Radit saudara seibu, tapi beda Ayah. Radit kembali seperti biasa, terkejut cuma beberapa detik. Seolah tinggal menunggu ini memang akan terungkap.
"Kenapa diam?"
"Hah?" Agak linglung aku tersenyum kaku. Terus harus bagaimana? saking banyaknya yang ingin aku tanyakan pada Radit jadi bingung mengeluarkan kata.
"Lo nggak mau tanya kenapa gue meninggal dan jiwa gue malah berakhir di novel Mama," kata Radit.
"Nah, itu. Aku mau tanya!" Ujung-ujungnya aku heboh seraya bergeser lebih dekat dengan tempat Radit, duduk di sisi ranjang. Takut-takut nanti ada yang mendengar pembicaraan kami.
"Seharusnya kamu bilang dari awal kalo aku di sini itu nggak sendirian, dunia antah-berantah... aku itu frustasi, semuanya terasa asing!" lanjutku mengebu.
Radit tertawa pelan, memandangi Radit lekat aku nyaris dibuat terpesona. Jika Radit kehidupan lalu bernama Rian, kira-kira umurnya berapa. Berarti Radit di sini telah lama.
"Gue punya karakter introvert di masa itu, mungkin alasan Mama buat tokoh Radit menyamakan anak laki-lakinya," ungkap Radit.
"Sekitar dua tahun lalu gue korban kecelakaan beruntun di tol ... dan ya, meninggal di tempat tanpa salam perpisahan terlebih ke adik gue, Saka."
Radit mengatakannya tanpa beban, kuat-kuat aku menahan air mata.
"Umur kamu berapa? Dan gimana ... bisa kamu tau bahwa aku bukan lah Freya asli agak aneh didengar kamu liat dari pancaran mata," sahutku bergetar.
"Lo sendiri?" Radit bertanya balik. Aku manyun, melempar pertanyaan lagi padahal Radit sudah mengetahui umurku yang sebenarnya.
"Dua puluh lima tahun, mungkin nih ya aku udah kuliah semester akhir, kalau misalnya nerima beasiswa, tapi Ayah melarang keras aku menerimanya." Secara mendadak aku curhat.
"Ayah lo melarang itu pasti ada alasannya."
Kening berkerut dalam aku membalas binaran mata Radit bingung. Alasan? Jujur, saat aku menunjukkan kartu undangan salah satu universitas bergensi di kota pada Ayah, di detik itu pula Ayah merobeknya lalu membakar undangannya hingga jadi abu.
Aku tentu menangis. Impian untuk menjadi seorang dokter spesialis terkubur pahit.
"Alasan?"
"Ya."
"Aku nggak paham maksud kamu."
Badan menegang aku melirik jemari Radit mengusap pipiku. "Mama, itu alasan Ayah lo melarang keras. Ayah lo benci sama Mama, berusaha kuat menjauhkan lo dari nyokap."
Benar kata orang di luar sana, rahasia yang tersembunyi pasti akan tersibak. Aku cukup bersyukur Radit banyak bicara malam ini, giliranku sekarang mengorek apa yang tidak aku ketahui.
"Selama ini tangan kanan Mama bahkan Mama sendiri memantau lo dari jauh. Setiap Mama berniat mendekat Om Fio lebih dulu mengancam."
"Kamu tau ancaman Ayah ke Bunda?" Suaraku terdengar serak. Berarti Bunda menyayangiku hanya Bunda tidak bisa berbuat banyak jika aku keluar rumah saja harus izin dulu ke Ayah, itu pun aku sesekali kabur tanpa Ayah sadari ketika Ayah tidur siang.
Beruntung aku punya Sabda yang pandai bicara.
Radit terdiam, kemungkinan Radit lupa. Radit telah lama menetap di dunia ini, memori kehidupan sebelumnya pasti terhapus aku yang belum enam bulan saja mulai hilang kebersamaan dengan Ayah dan Sabda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasíaBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)