Mengatakan itu gampang, melakukannya itu sulit. Bukannya tidak bersyukur, hanya saja terkadang mengeluh itu perlu aku lakukan.
Mungkin jika tiga hari lalu Laskar bersikap cuek, kemungkinan tiba di rumah aku jadi sasaran kemarahan Papa.
Nyaris Papa melakukan tindakan kekerasan untuk kesekian kali dan wajar jika aku membedakan antara kehidupan sebelumnya dan menetap di sini.
"Gue bangga..." kata Radit serak.
Lamunan buyar aku menunduk sembari tersenyum hampa, tangan bergerak memperbaiki letak handuk basah dikening Radit. Radit demam tinggi sebelumnya, kini berangsur membaik.
Kuamati lekat muka Radit yang lebam hasil karya si tokoh utama novel 'Lovesick'. Ganes lebih parah kata Laskar, berjalan di bantu alat yaitu tongkat.
"Jangan nangis." Jemari Radit membelai pipiku yang lagi-lagi bulir hangat menetes, kuusap hidung yang mulai basah.
"Aku takut." Menyahut jujur, bahu bergetar mengingatnya. Radit bilang harus kuat itulah aku maksud mengatakan gampang, melakukannya justru sulit.
"Ada gue lagipula Papa ke luar kota." Radit menjawab yakin.
"Papa mana berani pukul kamu, sedangkan anak kandungnya Papa malah ringan tangan," ujarku lirih.
"Gue beneran nggak suka lo ngomong kaya gitu, sekali lagi gue tegasin pertunangan itu mustahil terjadi dan Papa nggak akan gue biarin lukain lo." Deru napas Radit memburu, tangannya terkepal meremas selimut.
Aku menghela napas mengiyakan singkat.
"Orang tua si ngenes itu pasti nggak terima. Aku takut kamu dalam posisi bahaya."
"Posisi bahaya maksudnya?"
"Kamu bikin anak mereka babak belur bahkan kaki Ganes bengkak."
"Bagus dong."
"Bagus?!"
Aku dibuat syok, menggeleng heran. Laskar bercerita lengkap walau kesusahan berjalan Ganes tetap berpijak di Aurora seperti aku bilang pakai alat bantu. Oh, bisa jadi Yena bersedia membantu Ganes menuntun hingga ke kelas bahkan kantin.
"Kak Reya..."
Kali ini aku berdecak sungguh geli Radit memakai embel-embel 'kak'. Ada yang dengar pasti mereka bertanya-tanya.
"Kita sudah sepakat di sini aku adik kamu."
"Gue lupa."
Seketika ekspresi masam aku perlihatkan. Radit ini jarang tersenyum apalagi tertawa palingan tawanya mengandung ledekan.
"Kalau misalnya kamu gagal menghentikan pertunangan itu gimana? Aku tetap dipaksa tunangan."
Radit meraih punggung tanganku, dapat kurasakan kulit Radit hangat kelopak matanya tampak sayu. Jujur, hingga kini aku masih tak menyangka punya adik di kehidupan lalu, Radit atau Rian sangat mirip.
"Gue janji pertunangan itu nggak akan terjadi. Nyawa hilang bukan lah apa-apa asal lo bahagia, untuk sementara bertahan. Strong girl."
"Tapi aku takut ... dan aku tidak suka kamu bahas nyawa."
Sekilas aku tercenung Radit mencium punggung tangan kananku, bibir pucat Radit kembali mengukir senyum tipis. "Bertahan sebentar, kalau bisa lo harus cari seseorang mampu melindungi lo, Reya!" ujarnya.
"Justru itu juga aku takuti."
Radit terdiam cukup lama keheningan, kening Radit berkerut seolah tengah berpikir. Pandangan Radit memandangi lurus aku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasiaBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)