(15) Cantik

42.5K 6.2K 63
                                        

Keadaanku berantakan.

Keadaan Ziyan lebih berantakan.

Jangan berpikiran aneh, dengan sekuat tenang aku banting pintu mobilnya yang katanya menggantikan melalui ginjalku pun belum cukup. Dasar sombong!

"Eh, cewek kurang waras tangan lo pengen gue potong?" ujarnya ketus.

Aku mendelik.

"Gue punya nama. Nama gue Freya!" sahutku kesal. Tau tidak saat di parkiran minimarket pantatku yang sedang bergoyang langsung Ziyan dorong, aku jatuh mencium tanah.

Sebagai balasannya aku menjambak rambut Ziyan bruntal hingga menyisakan beberapa helai rambut di tanganku.

Kami berdua kelelahan, kompak angkat tangan berkata telah menyerah.

Lagi-lagi sebelum aku pergi Ziyan menahanku kali ini dengan lenganku digengamnya. Dia sok cenayang, dari segi wajah katanya aku banyak pikiran walaupun faktanya memang iya.

Di sinilah aku, Ziyan membawaku ke bukit. Tidak aku sangka ibu kota yang ramai masih ada tempat penuh hamparan hijau dan udaranya sejuk.

"Sebelum kita masuk, kenapa harus izin dulu? Kan tempat umum, terus ada gerbang masuk di tempat asri kaya gini," tuturku berjalan di samping Ziyan.

"Enggak orang sembarangan masuk, orang kurang waras aja perlu dipertimbangkan." Ziyan melirikku sinis.

Sepertinya Ziyan dendam karena aku membuat rambutnya malam ini lebih pantas disebut sarang burung.

"Sori, jambul lo tetap bagus kok." Cengar-cengir lengkap memasang muka menyesal kemudian, aku lelah. Mendudukkan diri di anak rumput, langit malam sedikitpun tak ada bintang apalagi bulan, untungnya terdapat tiang lampu di bukit ini beberapa meter dari tempat aku duduk.

Ziyan duduk di samping dan aku membiarkannya.

"Jadi lo anggota geng Aster?"

Ziyan tertawa, menoleh menghadapku. Arti tatapan matanya seolah aku gadis polos yang baru tau tentang dunia, memang benar. Aku sekitar satu bulan, masih banyak yang tidak aku ketahui. Ingatan sekedar kehidupan sebelumnya dan novel.

"Gue leader Aster."

Aku tercenung. Pantas saja nama Ziyan terasa tidak asing dia adalah second lead tokoh novel 'lovesick' soal sifatnya pasti sudah tau bagaimana perilakunya menyebalkan padaku.

"Seharusnya kakak tiri lo itu bilang ke lo, tentang gue ini siapa. Cih, cewek purba. Semua orang tau gue!" seru Ziyan besar kepala.

Giliran aku yang tertawa, tawa Ziyan berhenti mendadak. Telunjukku mengarah pada Ziyan, memandanginya dari atas sampai bawah.

"Yang kaya gini leader ... nggak salah toh? Kurus kerempeng, urakan. Mendingan Ganes ke mana-mana...," sahutku geli. "Lo pasti tau kan Ganes, leader Dark."

"Dia musuh gue, musuh Aster."

Aku mengangguk setuju, saking keasikan tertawa bahkan tak menyadari ekspresi Ziyan yang berubah suram.

"Jangan kebanyakan ketawa nanti bibir lo siapa tau satu jam kemudian udah gue iris."

"Bibir lo ya---"

Suaraku tertelan, sejak kapan duduk Ziyan telah merapat. Kini aku dapat merasakan lutut Ziyan bertemu lututku, aku hendak berdiri. Tapi Ziyan tidak membiarkan.

Punggung jadi bertemu anak rumput, napasku tertahan. Kami dalam keadaan setengah berbaring dan Ziyan mengurungku, tangannya sengaja di letakkan di sisi pinggang.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang