Tubuhku bergetar begitu saja tanpa bisa dicegah. Jika jiwa Freya asli, mustahil tremor semacam aku sekarang.
Papa marah besar dan aku tak tau alasannya.
"Berapa kali Papa bilang sama kamu, berhenti bersikap kasar. Teman kamu itu terluka, tangannya bahkan diperban!" desis Papa, matanya memerah.
Tiga orang bodygruad Papa yang merusak pintu kamarku berdiri diam di ambang pintu, mereka seolah berjaga-jaga kalau nanti ada yang berani masuk kamar.
"Reya enggak tau..." Akhirnya suara yang aku nantikan keluar, berhasil menenangkan diri.
Papa semakin marah.
Rasanya aku ingin teriak bagian mana kesalahanku? Aku jadi mempertanyakan apa benar aku ini anaknya, anak satu-satunya. Penerus keluarga Astagina.
"Oke, Papa beritahu!" Dengan suara yang terkesan sinis. Papa membalas tatapanku, sayangnya arti tatapan itu membuat sesuatu di organ dalam terasa sakit. "Kamu melukai bungsu Ardinata, Papa sekali pun tidak pernah mengajarimu menghina orang statusnya lebih rendah dari kita, siswi pindahan itu pun kamu bully!"
Keluarga Ardinata?
Jawabannya adalah Denis, tanganku terkepal kuat. Dasar banci! Dia terlihat tak ingin disalahkan, sudah tau salah paham dan memfintahku. Buktinya juga ada direkaman CCTV. Oh, di mana Yena. Mungkin kah Yena ikut serta atau dia memang tak tau bahwa aku di sini sebagai kambing hitamnya.
Masalah kecil sampai ke telinga Papa tambah rumit, aku kira selesai, akhirnya panjang. Di mana Radit, aku bisa meminta bantuan.
"Jangan-jangan tokoh di novel ini semuanya antagonis," gumamku. Sempat-sempatnya aku berpikir hal itu.
Plak
Belum sempat aku membuka mulut, kedua kali aku ditampar orang yang sama. Bunyi tangan Papa bertemu pipiku mengisi kekosongan kamar.
Dosa apa aku dimasa lalu harus masuk ke tubuh tokoh yang sudah dicap buruk, paling buruk.
Tergagap, aku mendengus kuat. Mengeyahkan dadaku yang tambah sesak. "Kalo aku jelasin akhirnya sia-sia, Papa .... pasti enggak akan ... percaya. Papa ... Papa tetap keras kepala, tanya ke Kak Radit sana."
Selesai mengatakannya aku berlari cepat keluar kamar, mendorong mereka menghalangi. Menuruni undakan tangga, wajahku memerah.
Sebelumnya aku tertawa bersama Namira karena menertawai Denis.
Kini, aku menangis karena balasan Denis yang tak pernah aku sangka.
Kurang ajar! Jika keadaan memaksa untuk menjadi orang jahat maka bersedia aku turuti, orang-orang layaknya Denis sedikit pun tak pantas berkeliaran.
Aku pemegang semua rahasia tokoh 'lovesick', sebagai pembaca novelnya. Aku tau rahasia Denis, bungsu Ardinata itu dijelaskan dalam novel karena memengaruhi jalan cerita.
"Gue bahagia liat lo nangis!"
Detik ini suara itu sangat aku benci. Langkahku berhenti berlari, aku menoleh. Di sana sofa Denis duduk bersama Laskar yang sibuk memainkan ponselnya.
Biarkan keadaanku yang berantakan mengingatkan bahwa hari ini musuh terbesarku adalah cowok banci seperti Denis.
Aku berjalan ke arahnya dengan bibir tertarik ke atas, mari kita buat dia bungkam. Sebelah kakiku menendang pelan kaki Laskar untuk mengalihkan perhatiannya.
"Lo apa--- eh, kenapa nangis?!" Ucapan Laskar tidak aku pedulikan.
Dia bahagia melihat aku menangis. Tanpa menunggu lama, jemariku yang terkepal memukul tepat pipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)