Mengurung diri di kamar adalah pilihan terbaik. Satu jam lalu Papa menyeretku keluar dari rumah Namira, harga diri benar-benar terinjak.
Papanya Ganes hanya terdiam setelah aku memberitahu tentang anaknya justru Papa lah yang meradang.
"Freya!"
Gadis berseragam putih abu tersebut dalam wujud kabut samar menoleh, jelas setiap detik berlalu aku tidak dapat lagi menangkap raut wajah Freya kecuali aku dekat dengannya maka sengaja bergeser badan dan duduk di sebelah Freya.
"Kamu beneran anak kandung di sini, kan? Cucu perempuan satu-satunya di Astagina?" tanyaku penasaran. "Papa kamu terus membela Ganes bahkan berambisi kuat agar pertunangan itu terjadi!"
"Itu Papa lo sekarang bukan Papa gue." Freya bersedekap. Aku mendelik kesal, gatal sekali meraup gemas muka Freya yang kembali menunjukkan besar kepalanya.
"Terus aku harus gimana, Freya? Aku nggak mau tunangan sama Ganes. Dasar Ganes edan! Cintanya buat Rayena tapi maunya terikat dengan hal konyol itu sama gue, bajingan!"
Pandangan mata Freya menerawang lurus. Keningnya berkerut, tampak berpikir. Sahutan Freya di detik kelima membuat kekesalanku semakin bertambah.
"Terima aja, soal Yena gampang disingkarkan lagipula lo punya alasan untuk menyingkirkan si sampah itu! Intinya lo harus jadi istri pertama, Kak Reya. Lalu larang Ganes mencari selir!" tutur Freya lempeng.
Ibaratnya dua tanduk muncul, hidung kempas-kempis aku berkacak pinggang kemudian berdiri di depan Freya.
"Itu maunya kamu."
"Kak Reya menolaknya?"
"Tentu saja."
"Sayang sekali."
"Sayang?" Aku dibuat syok, tertawa sumbang. Sayang sekali katanya. Berjalan mondar-mandir aku berpikir otak Freya itu kira-kira isinya apa? Pasti isinya cuma Ganes, Ganes, dan Ganes.
"Kamu memiliki kelebihan terlampau pintar soal pelajaran sekolah termasuk hitung-hitungan, tapi kamu bodoh tentang cinta. Ganes membunuh kamu dengan alasan cape kamu kintilin terus padahal kamu mengamati hanya dari jarak jauh."
"Tambahan. Gue sering bawain bekal letakin di laci mejanya, botol minum di pinggir lapangan, bantuin Ganes sembunyi dari kejaran Pak Tio atau kami ketangkap gue rayu Pak Tio biar Ganes bebas!" ungkap Freya disusul tawa menggelegar.
Aku bergidik ngeri. Benar-benar cinta sejati bedanya cinta sejati bertepuk sebelah tangan lalu berakhir malapetaka.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Semenjak gue di sini elo emang banyak tanya."
Dengan bibir manyun aku berujar. "Kamu udah tau kan Ganes dan Yena adalah pelaku yang membunuh kamu, Freya. Yang aku tanyakan ... apa kamu masih cinta sama Ganes?" Di sisi lain aku sudah tau jawabannya.
"Perasaan gue pada Ganes tetap sama bahkan makin besar," jawab Freya berbinar.
Aku cuma bisa menepuk kening. "Edan, cinta membuat orang goblok! Aku dan Sabda nggak pernah kaya gitu, palingan saling bucin."
"Jangan pernah samakan cerita gue dan lo, cerita lo dengan pria kampungan itu sangat murahan!" sinis Freya.
Berhasil mengantarkan rasa sakit di hati, aku bersedekap keheningan berlangsung. Seharusnya aku yang marah tetapi Freya lah yang cemberut.
"Freya." Aku lebih dulu memecah kecanggungan ini, jujur tak nyaman. Freya bangkit aku mengikutinya menuju meja belajar.
"Lo belum nemu kunci laci paling bawah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasíaBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)