Ujian semester telah selesai itu termasuk surga dunia, tinggal menunggu rapot. Layaknya sekolah kebanyakan tidak ada KBM untuk sementara. Aku bersama Namira dan Sena duduk di pinggir lapangan.
"Lengan lo masih lebam emang nggak dioles sama salep gitu?" ucap Namira. Aku memang sengaja menggulung seragam sampai siku karena cuacanya panas.
Seragam seakan basah oleh keringat kipas elektrik punya Sena tidak membantu.
"Ini gara-gara Yena!" Mengingat gadis itu aku berpikir Rayena bukan lagi gadis protagonis, tapi Yena tetap jadi tokoh utama. Terbukti Ganes mencintainya. Satu orang pun tak membenci Yena, kini Namira dan Sena memasang raut tidak percaya.
"Lo pasti buat masalah lagi ya ke Yena terus senjata makan tuan deh," ujar Namira.
Cuma bisa cemberut, aku jelaskan pun sia-sia. "Terserah yang penting sekarang gue dan ngenes itu udah nggak punya hubungan apa-apa, entah itu sahabat atau teman apalagi terikat konyol!" sahutku mengebu.
Namira dan Sena saling pandang lalu kompak tertawa.
"Kita percaya kok, buktinya kamu nggak kasih lagi botol minum ke Ganes walaupun sekarang Ganes lagi main bola basket," sahut Sena.
Namira sudah berpindah duduk menghadap lapangan, berjarak beberapa meter di sana Ganes bersama tiga orang yang sering membuntutinya tengah berebut bola.
Mata bikin sakit. Itu juga kenapa Laskar ikut serta, rasanya aku ingin menyeret Laskar keluar lapangan tapi ke sana pasti bertemu Ganes.
"Eh, pawangnya datang!" Namira berseru sambil bertepuk tangan pelan. Aku tadinya malas menoleh ikut penasaran.
Di sana ada Yena menghampiri Ganes dengan kantong yang Yena tenteng.
"Kok gue kesel ya?" Namira bersedekap, bibirnya berdecih menyorot sinis kemudian. "Yena kaya mencoba menarik perhatian gitu, caranya justru merugikan diri sendiri. Selama ini kan dia rundung gara-gara deket sama Ganes."
"Beda sama kamu, Reya. Baru cibir udah balas mereka melebihi itu bahkan senior ... kalau Yena bisanya selama ini aku lihat memelas atau nggak menungggu Ganes datang," tambah Sena.
Beruntung aku tidak disamakan. Soal itu mana tau alasannya, aku tak tau isi hati Yena.
"Antara Laskar dan Denis yang paling ganteng siapa?" Namira ini sepertinya banyak bahan obrolan, pipi Namira bersemu menyebut nama pangeran Aurora itu.
Denis menerima uluran botol minum yang Yena ulurkan disusul Laskar dan Glen. Ganes? Tentu saja pertama kali.
"Enggak ada."
"Laskar."
Aku dan Namira melongo, menangkap sahutan Sena menyebut mantap nama Laskar. Sena lalu tertawa yang malah tawa dibuat-buat, Namira melempar senyum meledek ujung-ujungnya Sena panik.
"Laskar ganteng, semua orang juga tau! Terus muka Laskar kalem beda sama Denis agak sangar," ujar Sena cepat.
"Suka Laskar nggak papa, Sena. Tapi lo hati-hati sama mantan Laskar gue hampir dikeroyok namanya Nora. Mukanya mirip nenek lampir." Teringat aku raut masam Nora beberapa bulan lalu yang tidak percaya bahwa aku adiknya Laskar. Nora justru mengataiku 'lonte' kurang ajar memang!
Saat itu mata Nora berkaca-kaca karena dibentak Laskar, singkat cerita Nora minta maaf walau gaya bicaranya terdengar terpaksa.
"Nora itu mantan Laskar yang gamon!" ungkap Namira.
"Pantas. Nora ngamuk, katanya motor Laskar nggak pernah diduduki orang asing ... gue bukan orang asing, ini adiknya paling cantik." Karena jarang yang memuji maka aku lebih baik memuji diri sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)