(14) Luka Sebagai Pengingat

46.2K 6.2K 127
                                        

Aku harus menelan pel pahit, bukannya Ganes terkejut atau langsung berlari ke arahku sesuai aku halukan Ganes justru berjalan menuju pintu.

Tidak semudah itu.

Kaki jenjangku mengejar Ganes sambil berteriak memanggil namanya.

"Ganes, ini Yaya! Kamu harus ingat aku Ganes, sahabat pertama kamu!"

Langkah Ganes yang lebar membuatku jadi kesulitan mengejarnya. Kucari jalan pintas, syukurlah aku sudah hafal seluk-beluk sekolah ini.

"Ngapain?" Pertanyaan bernada datar tersebut bersamaan aku berhenti berlari, nyaris saja jatuh. Untungnya Radit segera menangkap lenganku.

"Lo udah mau pulang, kan? Duluan aja, gue sama Laskar." Aku berusaha menepis tangan Radit bukannya lepas Radit malah menguatkan sampai-sampai Laskar tadinya membuntuti berhasil berdiri di sisiku.

Benar-benar tidak pernah aku bayangkan di kurung oleh dua cowok yang berstatus sebagai saudara tiri.

"Hari ini Papa pulang," tutur Laskar memandangiku lurus.

"Terus apa urusannya sama gue?!" sahutku sewot.

Kali ini aku menyentak lebih kuat pegangan Radit hingga akhirnya terlepas, aku kembali berlari menuju parkiran motor. Sebelum pergi aku berkata pelan. "Maaf, tapi ini penting banget."

Di sana sosok jangkung Ganes sudah terlihat, aku menghampiri harus menahan kesal karena di sebelahnya terdapat Yena. Padahal tadi Ganes menjauh dariku sendirian.

"Ganes!"

Ganes menoleh, kentara ekspresinya nampak muak. Aku tak ambil peduli.

"Ganes, ingat aku ... ini Yaya, sahabat pert--"

"Berisik!" Ganes menyela. Yena selalu di sisi Ganes mengusap punggung Ganes, seakan dengan cara itu Ganes dapat mengendalikan emosinya.

Aku tersenyum kecut. Izinkanku membuktikan maka detik kedua tanganku merogoh saku seragam, tadi malam aku memecahkan piguranya dan mengambil selembar fotonya.

"Kamu tau aku punya foto kit--"

"Freya!"

Rasanya aku ingin mengamuk setiap berbicara ada saja yang menyela, telingaku menangkap suara Ganes yang tertawa namun tawanya terdengar cemoohan di susul nada sarkasnya.

"Adik tiri lo beneran nggak jera, Las. Lo bilang dia udah tobat, minta maaf dan terima kalian berdua. Terus kenapa masih jadi parasit dihidup gue, bilangin jauh-jauh atau milih gue tendang."

Radit mendorong badanku pelan untuk berdiri di belakangnya, kini posisinya Radit berdiri berhadapan dengan Ganes. Laskar cuma diam, sebagai anggota Dark dan Ganes posisinya lebih tinggi jelas Laskar tak mampu berkutik.

"Maksud lo apa?" tanya Radit dingin.

Aku melihat bagaimana tangan Ganes menepuk bahu lalu turun ke siku Radit penuh makna, dan sadar itu luka bakar yang pernah Radit bilang bahwa Freya asli hampir saja membunuh mamanya, namun digagalkan Radit dengan cara Radit menyelamatkannya walaupun Radit yang terluka.

"Lo lupa sama kesalahan dia, bekas luka bakal ingatin kita setiap peristiwa yang terjadi termasuk di bahu lo. Segila apa manusia iblis kaya dia, pembunuh berdarah dingin," tutur Ganes sengaja menekan ucapan terakhirnya sambil melirik ke arahku.

Aku hilang kata, membiarkan Ganes kembali bersama Rayena, si tokoh utama berhati salju. Ganes yang manisnya menggengam tangan Yena berjalan menuju motor besarnya.

"Seharusnya di posisi Yena itu aku." Bergantian aku pandangi telapak tangan yang terisi foto, baru kusadari hancur karena aku meremasnya terlalu kuat.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang