"Freya, berhenti! Tingkah lo malu-maluin!" Namira berteriak kesal, berusaha merebut ponsel yang Sena acungkan untuk merekam kekonyolanku.
Sena sendiri terbahak di kursi panjang pinggir lapangan, berjarak dua meter aku berdiri sambil menggoyangkan pom-pom anak cheerleader yang aku temukan di koridor sebelum menuju lapangan.
"Ganti jadi boomerang."
Sena mengacungkan jempolnya menuruti perkataanku, semakin semangat aku bergoyang pom-pom di kedua tangan aku goyang ke atas, bawah. Sesekali merentangkan tangan, berjoget ubur-ubur.
"Namira sini, angkat gue!" titahku melambai pada Namira yang memasang muka frustasi.
"Enggak mau. Temenan sama lo bikin malu, Reya!" sahutnya teriak.
Aku mengedikkan bahu, kapan lagi aku bisa bersikap bar-bar saat semua kelas sedang KBM kecuali kelasku jadwalnya olahraga, tapi karena Pak Billy izin sebab keponakannya menikah.
Layaknya murid kebanyakan, semua penghuni kelas 11 IPA 2 terpecah belah. Aku memilih pinggir lapangan sebagai tempat paling adem setelah halaman belakang Aurora.
"Sena, yaudah lo yang angkat gue."
"Tinggi badan kita nggak beda jauh, belum juga angkat kamu aku udah penyet."
Aku cemberut menghentakkan kaki menghampiri mereka, tepat ketika sampai di hadapan Sena aku merebut ponsel miliknya, menekan layar sesukati hati.
"Kita foto bertiga."
Tanpa mendengar jawaban keduanya, kudaratkan pantat ke kursi duduk di tengah Namira dan Sena.
"Lo serius? Katanya dulu pernah jijik liat gue dan Sena foto, apalagi lo illfeel pakai filter."
Jujur, kadang aku tercengang dengan ucapan Namira tentang Freya asli. Ada kalanya aku kesulitan menjawab Namira yang kebingungan.
"Itu dulu, sekarang beda. Freya suka foto." Aku merangkul Namira, menyuruhnya merapat begitupula Sena bahunya aku sikut. Gadis itu tengah melamun, curhat tadi pagi katanya serba salah menolak adik kelas yang menyatakan cinta.
Keirianku mendadak kepermukaan, selama ditubuh Freya tidak ada yang menyatakan cinta padahal di novel di jelaskan ada beberapa orang walaupun harus dapat penolakan.
"Reya!"
Aku tersentak.
"Jadi, kan?"
Pertanyaan Sena membuatku meringis, ternyata giliran keduanya menunggu yang aku dari tadi diam. Namira memicing penuh tanya aku balas berupa gelengan.
"Suasana hati lo berubah-ubah, sekarang muram sebelumnya cengar-cengir," kata Namira.
"Terserah gue dong!" sahutku sewot setelah posisi kami saling merapat, berpose dengan gaya berganti-ganti.
Hampir lima menit fotonya lebih dari sepuluh. Namira protes atas badan Sena yang kaku, maklum saja Sena jarang foto sekali lihat pun aku tau. Disorot kamera saja dia tak nyaman.
"Haus. Gue pengen minum." Rambut pirang terikat satu aku longgarkan. "Kalian nggak sibuk, Namira tolong beliin gue minuman dingin nanti susul gue di toilet sekalian deh Sena bawa seragam," lanjutku memerintah.
Sena mengangguk berbeda dengan Namira langsung protes. Apa aku peduli? Tentu saja tidak, segera merogoh saku celana olahraga kuberikan lembaran dua puluh ribu pada Namira.
"Kembaliannya buat lo, Nami."
Namanya juga duit Namira seketika berbinar, bibirnya tadi protes tertutup rapat kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)