Ziyan tersenyum jumawa, berjongkok tepat di depanku. Posisi ini mengingatkan akan kejadian di bukit, sebelah tangan Ziyan meraih tangan yang tidak tertempel infus lalu Ziyan letakkan di atas tangannya yang memegang payung.
"Basah kuyup tapi gue yakin dalaman lo belum basah!" katanya.
Edan! Untung saja aku tidak terpesona oleh sok kegantengan Ziyan, menarik tangan dari modus cowok buaya ini aku beralih mengeplak kepala Ziyan.
"Jauh-jauh."
"Lagi hujan, nanti lo basah."
"Gue udah basah jadi nggak butuh benda pelindung."
Sembari berdiri, aku mencoba menghilangkan mata yang mulai memburam dengan pijitan lembut di kening.
"Jauh-jauh dari gue!"
"Ck, kenapa? Lo ke makan sama perkataan Ganes tadi."
Aku mendelik itu berarti Ziyan sudah lama di halaman belakang rumah sakit ini, menguping pembicaraanku bersama Ganes dan aku tidak menyukainya.
"Pokoknya gue enggak suka sama lo, Ziyan. Gara-gara lo sering ganggu gue Ganes bareng pawangnya itu ikut teror gue, ingat ya seorang Freya Lovely Astagina cuma piguran. Seharusnya lo tempelin itu Yena!"
"Yena dan Yena nama itu terus terselip, siapa itu Yena? Gue nggak tau?!"
Aku terdiam tidak menyangka Ziyan balas membentakku, dapat aku lihat kilatan manik gelap itu berubah makin suram bersamaan dengan tangan Ziyan menangkup pipiku.
Tersadar, buru-buru aku menyentak keras tangan Ziyan kemudian mundur menjauh.
"Kalian semua itu bencana!" Berbalik badan, seakan kemarahan mampu menyembuhkan kaki yang sebelumnya kaku. Kini, aku bisa berjalan mudah walaupun agak pelan. Kuusap wajah, menghapus sisa air hujan yang membasahi kelopak mata hingga mempersulit arah pandangku.
Ziyan mengejar dan aku tidak peduli, menulikan atas seruan Ziyan yang meminta penjelasan.
Tepat kaki berpijak di ujung lobi aku bernapas lega. "Sialan!" Mataku bertemu Ganes di belokan sana, tujuannya jelas ke arahku dan lagi-lagi Yena di samping Ganes.
Bagus sekali tiga tokoh utama akan bertemu dan anggap saja aku manekin.
Di sisi lain aku tak akan membiarkan Ganes kembali melihatku bersama Ziyan, mengetahui munculnya aku dan Ziyan di tempat sama.
"Udah gue duga pasti lo bakal balik sama gue!" Ziyan sumringah.
Gerakan cepat aku mendorong punggung Ziyan dan menarik tali hoodienya, kupaksa kepala Ziyan menunduk. Dua pipiku bersemu setelahnya saat aku menarik Ziyan ke salah satu ruangan di dekat kami.
Ruangan alat pembersih, aku menutup mata merafalkan doa di balik pintu. Sangat berharap Ganes tidak meledak untuk malam ini.
"Terlambat, my boo. Si ngenas itu udah liat gue."
Aku menahan napas Ziyan tepat sejengkal di wajahku, bibir yang mengukir senyum Ziyan kembali melanjutkan.
"Gue mustahil jahat ke orang yang gue suka."
Belum sempat aku mendorong Ziyan, pintu ruangan tersebut di tendang kasar nyaris saja aku jatuh menghantam lantai dan pintunya, sebelum itu Ziyan memutar badanku, membiarkan pintu tersebut mengenai punggungnya.
Rasanya perut serasa ada yang mengocok, aku menahan mual. Antara Freya dan Ganes lebih bahaya Ganes Ridha Maherta. Kenapa aku selalu dalam situasi seperti ini, jangan lupakan adegan dramatis Yena yang berusaha meredam emosi Ganes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)