(32) Alergi & Ruang Waktu

30.8K 4.7K 223
                                        

Itu tadi beberapa menit lalu aku yang mengacak rambut Ziyan anggap kerasukan dedemit. Kupandingi tangan, lalu secepatnya aku celup pada baskom.

Ngomong-ngomong sekarang duduk d kawasan Jalan Taman Sari, area penjual angkringan pinggir jalan.

Makan adalah cara jitu memperbaiki suasana hati terlebih Ziyan bersedia membayar apa yang aku minta.

"Lagi dong, boo. Rambut gue yang lo acak-acak malah hati berantakan." Ziyan duduk di samping sambil menyodorkan sepiring daging bakar padaku.

Aku berdecak kesal, memberikan pelototan. Ziyan tertawa, mengerling jahil.

"Rambut lo ada ketombenya!" Aku berseru kesal lalu memukul kepala Ziyan menggunakan sendok.

Ziyan tak hentinya menggoda bahkan kepala Ziyan sengaja di maju-mundurkan.

"Aw, sakit!" Ziyan manyun.

"Jijik, bego!" Kelamaan piring aku pegang bisa mendarat di wajah rupawan Ziyan.

"Gue punya pantun untuk Freya." Belum dua menit keheningan Ziyan kembali bersuara, aku melirik sinis sambil mencelupkan sate ayam ke sambal kacang.

Sebenarnya nih bocah mau apa?

"Jangan mulai deh."

"Lagi serius nih."

"Terserah."

Bodo amat, aku melahap satu persatu makanan bakar di piring, mendengarkan deheman Ziyan seakan nada suaranya nanti harus terkesan.

"Oke, dengar." Jemari Ziyan mencolek bahuku mau tak mau aku duduk menghadapnya, siap mendengarkan.

"Burung puyuh, burung kutilang, i love youh, Freya sayang..." Saking dramatis Ziyan sampai-sampai memajukan bibir di depan mukaku segera aku keplak wajah Ziyan.

"Bacot!"

"Balas, Reya."

"Diam!"

Kurang ajarnya Ziyan menarik ikatan rambutku. Ziyan tipe orang yang permintaannya wajib dituruti, setengah ikhlas aku menjawab.

"Burung irian, burung cendrawasih, cukup sekian, dan terima kasih. Bye!" Lalu aku duduk membelakangi Ziyan tanpa peduli protesannya.

Aku cuma ingin makan tenang, tidak berbicara sepatah katapun. Sayangnya Ziyan, cowok petakilan.

"Reya, kita belum pernah fotbar." Ziyan beralih menarik rambut pirangku, aku menoleh memberikan pelototan mengancam.

Bukannya menurut Ziyan malah menggeserkan badannya hingga aku dan Ziyan duduk saling merapat, tak membiarkan aku menjaga jarak Ziyan melingkarkan satu tangannya di bahuku.

"Senyum, Reya!" Ziyan mengancungkan ponsel, tersenyum manis ke arah kamera. Kamera depan tersebut dapat menampilkan mukaku agak pucat.

Baiklah, aku turuti karena Ziyan bersedia mentraktir gadis yang kalau makan lupa waktu, aku tersenyum tipis sambil mengangkat jemari tengah dan telunjuk.

"Udah?"

"Sekali lagi."

"Nggak bisa."

Aku merebut hape Ziyan, mengamati hasil potretnya lumayan bagus apalagi benda ini yang kupastikan harganya mahal.

"Kak Reya!"

Terlonjak kaget aku mengangkat kepala mendengar suara panggilan tak asing, Freya. Freya berwujud capung hitam, sudut mataku melirik Ziyan. Beruntung Ziyan sibuk melahap bubur bakarnya.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang