Kesadaran seolah kembali muncul.
Bahu terguncang kuat dengan napas tersengal aku membuka paksa kelopak mata, menyesuaikan cahaya yang masuk. Salah, aku kira telah berada di kamar tapi masih tetap di tempat sama hanya saja pinggir pantai.
Pasir menempeli kaki, kedua tangan pemuda yang sudah menjadi kekasihku kini menangkup kedua pipiku, tangan hangatnya menyadarkan bahwa aku selamat.
"Yena, bangsat! Seret si ular itu ke sini, Ratu!" bentak Ziyan emosinya tersulut sambil menatap nyalang gadis berambut sebahu tersebut yang telah basah kuyup akibat di dorong kuat.
Leher Yena terdapat bekas cakaran tentu saja hasil karya Ratu. Primadona SMA Andromeda itu menurut, tersenyum sinis. Bagi Ratu, Yena adalah semut kecil gampang diinjak, tapi bagiku Yena kini berdiri di belakang Ziyan bagaikan malaikat pencabut nyawa yang tertutup wajah lugu.
"Kamu nggak papa, kan?" Pertanyaan Ziyan memecah lamunan. Kubalas berupa senyuman.
Tidak.
Sangat dingin.
Aku terbatuk parah, tangan terjatuh lemas di paha Ziyan bersamaan badan limbung.
"Please, jangan tutup mata!" Ziyan panik badanku di peluknya erat, Ziyan berdiri secara refleks aku melingkarkan kedua tangan di leher Ziyan. Mengatur napas, menghilangkan sesak.
Jika Ziyan meminta maka aku menurut, pandangi lekat garis wajah Ziyan. Untuk pertama kali dan detik ini aku memandangi kekhawatiran murni, biasanya aku cuma melihat di Radit.
"Ziyan."
"Buka matanya."
Aku mengulas senyum tipis semakin menempelkan kepalaku di dadanya rasa nyaman dan ketenangan hadir begitu saja.
"Terima kasih, Ziyan."
"Reya." Ziyan mengalihkan tatapan, manik gelap Ziyan tadinya berserobok iris coklatku beralih melihat jalan yang di lalui. "Ancaman aku ke Yena cuma dianggap angin lalu, kamu bersedia aku yang turun tangan?"
Aku hendak membuka mulut terhenti, lagi-lagi buram. Panggilan Ziyan terdengar samar kelamaan menghilang lalu kegelapan menyelimuti.
****
Entah berapa lama tertidur. Sebelumnya aku telah bangun dari pingsan, tapi kelopak mata terlalu berat dan aku berlanjut tidur.
Aku kira guling tengah aku peluk, bukan guling melainkan sosok pangeran penyelamat atas insiden tadi malam.
Di kamar ini kami tidak berduaan, ada Damian, Ratu, dan Rey asik menonton tv.
"Dingin ya?" Suara serak khas bangun dari tidur tersebut memenuhi pendengaran.
Aku tercenung Ziyan mundur dari posisi berbaring kemudian tangan Ziyan menarik selimut, menyelimuti badanku mencapai dagu.
"Freya-ku kamu tenang, percaya sama aku ... kamu masih perawan kok." Diakhir kata Ziyan tertawa, aku mendelik kesal. "Ratu tidur di sebelah kamu, terus kami bertiga di lantai. Tapi pas pukul empat pagi Ratu nyuruh aku pindah ... tebakan Ratu benar, aku nggak bisa tidur di lantai."
Jemari kanan mengusap bawah mata Ziyan yang berwarna gelap, pantas saja. Membalikkan tangan, jemariku keriput menegaskan aku memang kedinginan parah.
"Makasih." Aku menjawab parau, cukup kaget suara tidak seperti biasa lebih mirip tikus kejepit.
"Kenapa kamu selalu berterima kasih. Hm, udah tugas aku melindungi kamu, Freya-ku." Ziyan membelai pipi kananku, kami saling tatap cukup lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)