"Jadi lo berangkatnya sama siapa?" tanya Laskar. Aku tengah memasukkan pakaian ke dalam koper terhenti, intinya Laskar tidak boleh tau bahwa aku berangkat dengan dia. Liburan semester ini kami akan bersenang-senang, biarkan aku rehat sejenak lagipula Papa masih di luar kota.
"Sama temen." Aku melirik Laskar yang mengambil koper satunya. Koper itu tidakku pakai karena penasaran aku bertanya. "Kenapa diambil?"
"Gue, Ganes, dan lainnya juga liburan ke pantai. Kayaknya pantai yang sama." Laskar berucap lempeng aku yang mendengar langsung berdecih sinis.
"Pasti ada Yena?"
"Iya."
Menghela napas aku kemudian memaksa badan Laskar berbalik untuk berdiri berhadapan.
"Kenapa lo selalu belain ngenes? Sebelum ngenes berniat dekatin gue lo harus menghalanginya, jangan dibiarin gitu saja."
"Buat apa gue menghalangi Ganes? Namanya Ganes bukan ngenes, panggilan itu dari Ziyan. Ternyata kalian emang udah sedekat itu ya, gue banyak ketinggalan."
Nada ketus Laskar berhasil membuat aku kesal, buru-buru aku keluar kamar lebih baik meminta Mbak Lia saja.
"Masih pagi ini."
"Siapa bilang ini udah malam?"
Pemuda yang sebentar lagi akan memasuki perguruan tinggi tersebut menghalangi jalanku.
"Bisa nggak kamu nasehatin adik kamu itu jangan bikin mood aku hancur, pagi-pagi gini udah bahas orang yang paling enggak aku suka!"
"Kalau mood lo hancur, coba ingat satu nama."
"Siapa?"
"Ziyan..."
Aku tak mampu menutupi salah tingkah. Ziyan ya? Benar adanya, kebersamaan kami cuma buat kulineran. Ziyan manggut saja ketika aku menariknya ke warung tenda pinggir jalan.
Ziyan tidak protes, raut muka Ziyan justru bahagia. Aku salah sangka mengira Ziyan termasuk kalangan yang lebih suka makan di restoran.
"Diam nanti ada yang dengar ... bahaya! Karena Kak Radit nggak sibuk tolong bantuin aku masukin kopernya ke dalam bagasi terus tas selempang di sebelahnya juga bawain." Memerintah sekenanya, aku kemudian berlalu di depan Radit.
****
Aku dan Ziyan tidak berduaan, Damian dan Rey ikut serta. Oh, jangan lupakan Ratu yang terus mengoceh tanpa henti selama perjalanan, setiap aku hendak memasuki alam mimpi selalu buyar sebab setiap apa yang Ratu lihat termasuk pantas dikagumi Ratu berseru heboh.
Tiga jam perjalanan cukup melelahkan, pantai dikunjungi bukan pantai yang sering aku datangi bersama Ziyan. Pantai ini lebih privat, vila yang Ziyan perlihatkan di foto pun membuat aku melongo bagaimana bisa kolam renangnya menghadap laut.
"Boleh kan kita sekamar." Sembari merangkul bahuku Ziyan tersenyum manis yang aku balas dengan mata melotot.
"Udah pernah belum digampar!" Aku menunjukkan kepalan tangan berusaha terlepas dari Ziyan yang malah semakin menempel. Bau semacam ikan asin memenuhi hidung, ini aroma badan Ziyan.
"Durhaka sama pacar sendiri liat Damian meluk Ratu kaya guling." Ziyan manyun, jemarinya sibuk memilin ujung rambut pirangku yang sengaja tergerai.
Berjalan di koridor lobi vila, di sana Ratu dan Damian bertingkah bikin aku mendadak sakit mata. Aku jadi kasian Rey dari tadi memasang muka masam sembari kunci kamar yang Rey pegang diputarnya sesekali mengenai kepala Damian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)