Laskar dan aku dikepung, membuat agak kesal Laskar tak membiarkan aku turun dari punggungnya. Dia malah menguatkan pegangan, jujur aku risih.
Apalagi kini lima orang itu mengelilingi kami. Di sini aku perempuan sendiri, bagaimana kalau Laskar dendam terus menyerahkanku ke mereka.
Ketakutan tak bisa aku sembunyikan. Baiklah, izinkan seorang Freya mengambil perannya sebagai adik baik.
"Gue bukan pacar Laskar, tapi adiknya." Pandangan berpusat pada si cowok beranting. Sekilas kudapati ekspresinya terkejut kembali aku maklumi. "Iya, pasti kalian nggak percaya. Selama ini kita sepakat menutupinya, gue kan cantik jadi Laskar takut adiknya lecet."
Laskar mendelik aku tetap mengulas senyum manis, berharap senyum diwajah imut ini membuat mereka tunduk. Bukannya tunduk, suara sumbang bercampur ledekan terdengar.
"Perempuan gila di rooftop merengek lapar," katanya.
Aku menoleh cepat dengan mata memicing. Berkedip-kedip baru sadar mereka bertambah satu orang, dari postur tubuh dipastikan cowok. Kepalanya tertutupi tudung jaket.
"Siapa lo? Dasar aneh, kalian boleh ganggu Laskar dalam keadaan nggak ada gue, coba satu lawan satu gue bisa kalahin!" sahutku besar kepala.
"Siapa?" Dia justru bertanya balik.
"Ziyan." Gumaman Laskar dapat aku dengar, suasananya mendadak berubah mencekam semacam hawa dingin menusuk, Laskar terlihat jelas menahan emosi apalagi si cowok beranting yang sudah berdiri di samping kami.
Laskar yang terlalu memandangi tajam cowok bernama Ziyan itu, begitupula fokusku yang terbagi hingga tanpa sadar cowok beranting hitam tersebut tangannya sudah meraba paha kiriku.
Refleks aku menjerit. "SIALAN, KEPARAT! JAUHIN TANGAN LO COMBERAN!" Jujur, kejadian di hutan itu menghasilkan trauma. Aku yang nyaris disetubuhi, tatapan nakal mereka teringat di memoriku.
Mereka kaget dan aku tremor hebat. Laskar pelan-pelan menurunkan dari gendongannya, aku menangis terisak.
Laskar mengamuk kemudian, kakinya memukul perut cowok beranting yang meraba pahaku tadi.
"Bangsat lo, Rey. Gue bunuh lo!" bentakan kasar Laskar masih dapat aku tangkap entah ke siapa. "Dan lo, Ziyan. Sekali lagi lo melangkah ke adik gue, habis lo!"
Laskar memberikan ultimatum, aku tak tau apa yang terjadi karena aku sengaja menutup mata. Kucoba menenangkan diri, semuanya baik-baik saja! Dark adalah musuh Aster, begitupun sebaliknya.
Bagaimana aku tau?
Tentu saja, dari novelnya.
Akhirnya Laskar mengakuiku sebagai adiknya, kalau Freya asli kemungkinan mulut Laskar sudah ditendang.
"Laskar!" Aku memanggil lirih bersamaan mataku yang terbuka. Seolah angin membawanya, Laskar menoleh di sela kakinya berada di punggung cowok yang aku duga Rey itu. "Gue mau pulang...." Terakhir ini lebih pantas bibirku yang bergerak, aku tercengat. Kesusahan bernapas.
Dengan tangan kiri memegang dada, kepala menunduk aku terus terbatuk. Jantungku seolah diremas kuat.
"Freya!"
Laskar berseru sambil berlari, susah payah aku berusaha membuka mata namun berakhir gagal. Batukku makin menakutkan, di sisa kesadaran aku merasakan darah keluar dari mulut.
Terlampau banyak hingga aku bahkan gemetar. Kegelapan kemudian menyambut tanpa dibiarkan ujung cahaya hadir.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantezieBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)