"Makan yang banyak, Bang. Badanmu makin hari bertambah kurus," ujar Bude. Setengah jam lalu wanita bekerja sebagai penjahit terkenal di desa tersebut datang di tengah aku menangisi keadaan Ayah.
Ayah sedang tidak baik-baik saja. Jujur, hatiku luar biasa lega mendapati sosok mirip rupanya mendiang Bunda itu membuka pagar besi berkarat, memasuki halaman rumah sambil memegang rantang.
Bude tentu tidak melihat keponakannya ini sedang menangis sambil memeluk lutut.
"Jika Reya di atas sana memandangimu aku yakin Reya memasang raut sedih. Bagaimana bisa Bapaknya galak jadi nelangsa."
"Diam! Mulut kau bau naga!"
Aku terbatuk kering mendengarnya. Bau naga? Mendadak ingatanku terlintas nama Laksar, apa di dunia lain aku antara hidup dan mati.
Bude bersunggut-sunggut lalu menyerahkan botol minum ke Ayah, cangkir kopi sebelumnya sudah Bude buang karena semut mengerubungi.
"Bukan cuma galak pada Reya, dari dulu kau juga telah bohong padanya. Justru dosamu lah yang banyak pada anak perempuanmu," ujar Bude pelan nyaris seperti bisikan.
Aku duduk di samping kakinya tertegun dengan kedua telinga berdiri. Kening berkerut dalam, apalagi menangkap ekspresi Ayah berubah muram. Aku tidak menyukainya! Kutatap Bude kesal, pasti ucapan Bude menyinggung Ayah.
"Bibirmu pandai sekali berbicara, sialnya Reya percaya bertahun-tahun sampai sang pencipta pun mengambilnya. Kenapa tidak dari dulu kau mengatakan bahwa Fania masih hidup, seminggu lalu kau lihat kan begitu sayangnya Fania pada anak perempuannya."
Deg
Susah payah aku mengontrol diri, semakin merapatkan badan. Fakta apa yang tidak aku ketahui, sesuatu yang sengaja ditutupi rapat. Sudut mata melirik Freya berdiri sambil bersedekap, bibirnya membentuk seringai.
"Kau tidak tau dengan kehidupan rumah tanggaku jadi diam saja, Lila. Perempuan keparat itu meninggalkan kami, meninggalkan Reya di umur dua bulan padahal Reya butuh ASI!" sahut Ayah, kaki Ayah menendang keras meja hingga terpental jauh.
Bude kaget, bergeming lama. Begitupula aku, Bude seolah telah kalah manik matanya tadi berapi-api meredup perlahan, tidak bisa menyangkal ucapan Ayah.
"Aku berbohong hanya tidak ingin Freya kecewa, sakit hati berakhir membenci ibunya. Keputusan terbaik aku bilang saja ibunya meninggal walaupun sebenarnya ... Fania masih lah bernapas, menikah dengan orang lain bahkan kini punya anak dari pria kota itu," lanjut Ayah dingin.
Banyak yang ingin aku tanyakan, dibuat bingung memilah kata. Aku meremas kuat tangan, itu berarti Bunda masih hidup. Meninggalkan keluarganya demi orang lain diumurku dua bulan.
"Gimana rasanya?" Freya mendekat, bibirnya kali ini membentuk senyuman tipis, aku mendongak.
"Apa ini maksud kamu, Freya. Aku bakal sangat kecewa?" tanyaku lirih.
Freya berjongkok, kepalanya menggeleng pelan. Telapak tangan Freya terulur. "Belum seberapa, waktu kita makin sedikit dan sekarang kita harus bertemu seseorang."
"Bentar." Membelakangi Freya, aku mengamati lekat Ayah dan Bude yang kompak saling menyalahkan, membahas sesuatu yang tidak aku mengerti dan disetiap perdebatan mereka terus terselip nama Bunda.
Ayah benar-benar handal dalam hal manipulasi, sebelum Bude menghampiri. Ayah berhasil membersihkan telapak tangannya, memakai ujung kaos dan kaos Ayah kebetulan berwarna hitam, hingga Bude pun tak menyadarinya.
"Jika di sini lo baru satu jam berbeda di dunia gue bisa satu minggu bahkan satu tahun," ungkap Freya.
Keraguan menyelimuti kulihat sekali lagi Ayah, air mata mengalir aku berdiri lalu mendekati Ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)