(19) Ciuman Di Pipi

41.1K 5.8K 211
                                        

Aku kira perkataan Ziyan bercanda, tapi setengah jam kemudian saat semua tamu sedang sibuk menyemangati Lingga yang matanya tertutup sambil memegang tongkat base ball untuk memecahkan mobil plastik besar menggntung di atas, dalamnya kata Papa ada hadiah utama.

Ziyan menarik paksa Ganes keluar aula. Aku kaget, berjalan menyusul di belakang Yena yang kalut.

Gadis berhati putih salju tersebut nampak menyedihkan. Jijik!

"Dasar sepatu sialan!" Aku mengumpat, dengan napas terengah. Berjongok secepat mungkin melepas high hells melekat di kaki.

Sebenarnya keinginan Ziyan itu apa? Padahal Ziyan belum berkenalan dengan Yena. Dimata Yena Ziyan telah dapat pandangan buruk.

Kali ini aku berjalan tanpa alas kaki, persetan soal penampilan. Aku mengangkat gaun berlari sepanjang lobi hotel yang lumayan sepi.

"Ganes!" Aku terus bergumam memanggil Ganes. Dikepalaku cuma ada Ganes, takut jika Ziyan main keroyokan.

Ke mana para buntut Ganes yang sering mengekori? Jawabannya orang-orang itu sibuk hingga lupa sang pemimpin. Sempat aku lihat Glen dikelilingi para gadis cantik, Denis sedang bersulang bersama Laskar.

"Ganes!"

"Ganes!"

Jujur, mana hafal seluk-beluk tempat luas ini. Nuansanya mewah bersamaan elegan, Papa berhasil membuatku iri dengan Lingga. Diakhir tahun nanti ulang tahunku harus lebih meriah.

"GANES, BERHENTI!"

Suara Yena!

Segera aku melangkah kilat ke sumber suara. Benar saja di ujung lobi kedua orang ribut, sementara satu perempuan tengah duduk menangis. Aku melongo, kalau aku adalah Yena makaku lakukan melerai mereka tapi ini malah dibiarkan.

"Cih, protagonis lemah." Dua sepatu aku pegang terjatuh, jelas Ganes dan Ziyan seimbang. Mereka saling pukul bergantian, pakaian yang melekat dibuat kusut.

"Ziyan!" Aku berseru berang tepat ketika aku berdiri di hadapan Ziyan yang berniat melayangkan satu bogeman mentah ke Ganes langsung aku dorong kuat bahu Ziyan. "Gue enggak mau pesta ulang tahun adik gue rusak gara-gara lo, berhenti! Gue masih menghargai lo sebagai tamu kehormantan Argantara!"

Ziyan terdiam dan napasku terengah. Berbalik badan, aku menghampiri Ganes tanpa peduli Yena di samping Ganes. Oh, Yena tengah menangkup pipi Ganes, dengan perasaan kesal aku menepis tangan Yena.

"Jangan megang pipi Ganes gue, bego! Apa mata lo buta, pipinya lebam!" ketusku melirik Yena sinis.

Keadaan berjinjit aku melonggarkan dasi Genis, untungnya Ganes tidak melawan. Hal sekecil itu terasa membahagiakan, jemariku beralih merapikan rambut legamnya yang berantakan.

"Kamu harus diobati, enggak boleh dibiarin gitu aja. Nanti bisa infkesi." Aku lalu menggulung jas hitam mencapai sikunya, memeriksanya apa di sana ada lebam kebiruaan.

"Lepas!" Akhirnya Ganes mengeluarkan suara walaupun terdengar nada dingin aku tidak ambil peduli,

Kali ini mengangkat kepala membalas tatapan Ganes. "Kamu jangan cemburu ya soal aku tadi sama Ziyan, cuma sebatas kerja sama untuk tidak membuat Ziyan malu."

Manik mataku menatap Yena yang netranya berkaca-kaca, mungkin sakit hati aku mengatainya bego ... mau bagaimana lagi aku luar biasa gemas atas tingkah Yena.

"Gue harap lo bawa Ganes pulang, keadaan selamat. Awas aja kalau kagak, seharusnya lo sadar diri. Dasar nggak punya malu, apa lo merasa gue undang?! Hm, lo sopir baru Ganes." Sengaja aku tertawa diakhir perkataan.

Di sini, harus kalian ketahui. Aku tidak akan percaya pada siapapun termasuk Yena apalagi Yena kemungkinan penyebab Freya asli meninggal.

Empat orang dimaksud Freya di kafe itu. Ganes, Yena, Namira, dan Sena. Secepatnya aku mencari tau.

Mendapati Ganes hendak membuka mulut buru-buru aku membekap mulutnya, sudut mata melirik tajam Yena.

Dengan kaki masih berjinjit, sengaja aku membasahi bibir lalu... cup. Aku mencium pipi kanan Ganes cukup lama, sebelah tangan mengusap punggungnya. Jangan beranggapan kalau aku mesum.

Ini lah membunuh tanpa menyentuh. Yena wajib kubuat tertampar semu, balasan seorang Freya Lovely Astagina secara lembut bukan kekerasan.

"I love you, Ganes-nya Freya, Nanas punya Yaya." Aku berbisik penuh arti.

Hal yang aku sadari di ujung lobi tersebut untuk pertama kali bukan binaran bahagia atau kesedihan sering ditunjukkan tokoh utama wanita. Mata Rayena jelas memperlihatkan kemarahan dan tangan di sisi dress sederhananya terkepal kuat.


****




Aku marah.

Sangat marah.

Tapi ternyata ada yang lebih marah daripadaku yaitu Ziyan.

Giliran aku yang Ziyan seret keluar hotel di tengah malam itu, padahal acaranya belum selesai. Masih ada dua list yaitu menyumbangkan lagu secara suka rela dan pembongkaran kado dari orang terkasih.

"Lo balik ke pesta, Ziyan. Pasti belum kenalan sama Yena, kan! Ayo, gue antar!" Aku memegang stang motor di parkiran hotel yang kami berdua lewati.

Ziyan melotot galak.

"Bodo amat, siapa Yena? Gue kagak kenal! Gara-gara lo gue malu, lo udah mempermalukan gue di depan musuh gue yang sangat gue benci."

Cengraman Ziyan menguat di lenganku, aku berjalan tertatih-tatih. Ini sebenarnya Ziyan sadar tidak sih bahwa kakiku tanpa alas.

"Gue bakal teriak."

"Sebelum lo teriak, bibir lo udah gue tutup sama ciuman. Tadi lo cium Ganes dipipi dan gue cium lo dibibir."

Tentu aku takut, refleks menutup bibir rapat. ZIYAN EDAN! KURANG AJAR! Di balik sikap ketengilan Ziyan, Ziyah lebih berbahaya daripada Ganes.

"Gue ... panggil Kak Radit. Teriak tiga kali Kak Radit muncul!"

"Oh, siapa itu Radit? Lo kira si Radit-Radit itu jin botol!

"Eh, bukan jin botol tapi jin botolnya diusap tiga kali baru muncul!"

Pembicaraan aku dan Ziyan tiap detik bertambah ngawur, disela Ziyan tertawa sebab lawakan yang terlampau receh aku mencari kesempatan untuk kabur.

Aku gigit telapak tangan Ziyan kuat-kuat. Gruk! Seperti itulah bunyinya.

"Arghh, sialan!" Ziyan memekik kesakitan, tangan sebelah Ziyan mencengramku pun terlepas.

Aku berlari sambil mengangkat gaun, tawaku pecah begitu saja memasuki mobil. Di dalamnya Pak Toyo kaget karena kedatanganku yang melompat sampai mobil bergetar.

"Pak, antar Reya pulang!" titahku. "Ada orang gila mau culik Reya." Aku menoleh ke belakang, Ziyan celingak-celinguk mencari posisiku.



***

Sesuai janji, part sebelumnya rame langsung gas :)

Banyak yang benci Ganes ya😂 kalem beb

Tinggalkan vote atau komen. Vote udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya🌟 Kalo part ini rame, aku update lagi.

Terima kasih❤

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang