Di istirahat pertama mejaku digebrak kasar, Aku dan Namira tersentak kaget. Asik mengobrol tak menyadari tiga orang kelas lain memasuki ruangan.
Pelakunya Ganes, di belakang Glen bersama Denis. Sama sekali tidak ada Laskar.
"Kenapa?" tanyaku pada Genis berdiri menjulang. Kursi yang menghalanginya Ganes singkirkan, Sena perlu berdiri naik ke meja untuk keluar dari bangkunya.
"Glen liat lo di parkiran minimarket sama musuh gue, Ziyan. Apa rencana lo?" sahut Ganes sinis.
Aku mengulas senyum tipis.
"Oh, semalam Ziyan rampas hasil belanja aku. Kamu nggak usah cemburu, aku dan Ziyan cuma temenan."
"Jangan dipercaya!"
Seruan Denis membuatku kesal, Denis tak jera sepertinya. Padahal akhir-akhir ini Denis selalu membuang muka setiap kami bertemu. Kemarahan Ganes mungkin Denis ambil kesempatan membalas dendamnya padaku.
"Sekali lagi gue tanya apa rencana lo?"
"Aku beneran gak paham maksud kamu."
"Lo sengaja ya deketin Ziyan karena Ziyan itu musuh gue, musuk Dark!"
Pemikiran apa itu?
Murahan sekali, tapi aku mustahil mengatakannya. Kumiringkan kepala, masih memasang senyum.
"Kamu harus tenang dulu, Nanas. Bakal aku jelasin kejadian yang sebenarnya."
Ganes malah makin emosi, dengan tangan terkepal mejaku di dorongnya. Aku kaget refleks memejamkan mata. Meja menyedihkan tersebut menghantam lantai.
Penghuni kelas yang memilih tak kantin bergeming di bangku masing-masing. Jelas mereka ketakutan, kalau-kalau misalnya nanti mengambil langkah kaki mereka akan dipenggal.
"Lo pasti tau kan siapa itu Ziyan?" tanya Ganes nada suaranya dingin mampu membuat kakiku gemetar.
"Ziyan leader Aster. Apanya yang salah?"
"Jelas salah, lo wajib jauhin Ziyan."
"Oh, kamu cemburu. Akui dulu kalo kamu cemburu maka aku bakal jauhin Ziyan padahal Ziyan teman baik, dia lucu."
Ganes mengeram gusar, aku berusaha mengontrol diri. Bohong aku tidak takut pada Ganes, jika Ganes sudah berhadapan dengan musuhnya sikap pemuda bermanik biru ini sering semaunya dan kenyataan menamparku Ganes membenciku.
"Ganes..." tergagap sambil meraba laci meja, aku mencari sesuatu di sana. Ganes datang lebih dahulu sulit ditemukan walaupun keadaannya Ganes tengah naik pitam.
Menemukannya kemudian aku berdiri, berjalan hingga kami berdua saling berhadapan.
'Padahal di masa kecil Ganes nggak pernah benci, Ganes selalu pegang tangan gue. Matanya penuh kasih dan cinta.'
Perkataan Freya terus merasuki pikiranku.
"Ini foto kita pas TK." Mataku berembun dengan dua tangan gemetar mengulurkannya pada Ganes, hidungku mulai terasa basah.
Sungguh, sakit sekali. Layaknya hatiku yang telah terluka lebar kembali ditabur air garam.
Ganes mengamati foto yang aku tunjukkan, bukan cuma satu kini aku bergantian memperlihatkan delapan foto yang tersisa, satunya rusak karena aku meremasnya terlalu kuat.
"Kenapa di foto itu ada gue?" Akhirnya pertanyaan aku tunggu. Seandainya ada Freya asli di sini pasti Freya dilanda euforia.
"Di sebelah kamu ini aku, nggak papa kok aku maklumin kamu lupa, maka peranku sekedar mengingatkan. Kita bahkan punya panggilan khusus ... kamu Nanas dan aku Yaya," sahutku lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)