(47) Penolakan

27.3K 4.7K 404
                                        

Sebelum Ganes bersama Mamanya tiba, Ziyan dan Denis kompak berdiri. Raut wajah Denis kaku seolah baru saja kepergok melakukan kesalahan besar. Berbeda dengan Ziyan yang sengaja merapat di sampingku lalu tangannya kini mengisi jemari kananku yang kosong.

"Selamat malam, Tante Ayra!" Ziyan menyapa semringah mengabaikan decakan Ganes.

Menunduk dalam, kaki di bawah sana gemetar. Aku sangat berharap Ganes apalagi Mamanya tidak mengamuk karena aku meninggalkan meja makan lalu berakhir di resto ini.

"Kamu anak Bram?"

"Iya."

Aku dapat merasakan kemudian sebelah tangan yang tidak Ziyan genggam ditarik lebih pantas disebut tarikan kasar hendak berontak tapi aku kalah. Tenaganya besar.

"Ganes, kamu menyakiti Freya!" Beruntung Mama Ganes menyadari aku menahan sakit segera menghentikan tindak kekerasan anaknya itu.

"Jangan pernah sentuh pacar gue. Apa lo nggak punya malu? Dengan cara memaksa udah jelas lo adalah cowok bajingan. Mana gadis naif yang sering nempelin lo itu, brengsek?!" desis Ziyan sembari menarik mundur badanku.

Setidaknya aku merasa aman bersembunyi di balik punggung Ziyan.

"Jadi, Reya. Ini alasan lo menolak pertunangan kita? Papa lo kecewa atas jawaban lo tadi," kata Ganes.

Aku bingung meresponnya, ada Mama Ganes di sini. Salah saja dalam berbicara, posisiku kemungkinan berbahaya. Belum lagi Papa yang bisa jadi di rumah menunggu, sudah bersiap memberikan luka pada anak perempuannya.

"Freya, kamu pacaran sama Ziyan?" Berbeda dengan sang anak, Mama Ganes bertanya tenang bibirnya terpoles lipstik merah tersebut mengukir senyum tipis.

Tetap was-was aku melirik Ziyan dan genggaman Ziyan di tangan kananku menguat tapi tak menimbulkan sakit.

"Iya, Tante, Ziyan pacar aku. Baru resmi satu bulan sih..." Jujur, jantung berdebar kencang aku rasanya mau pingsan.

Pandangan lurus pada Mama Ganes yang mengangguk-angguk, dari matanya kulihat ada kelegaan di sana. Mama Ganes lalu merangkul anak tunggalnya itu.

"Kamu lihat Reya sudah punya pacar jadi rencana pertunangannya dibatalkan, sesuatu yang dipaksakan pasti akan berakhir tidak baik. Kamu bisa mendapatkan calon istri lain sangat ideal daripada Reya!" ujar Mama Ganes. Entah kenapa diakhir katanya ditelingaku seolah berupa ejekan.

Relung pendengaran terpenuhi tawa. Denis di sebelah kiri Ziyan langsung menginjak sepatu Ziyan, namun sayangnya cuma sebentar Ziyan langsung menendang kaki Denis.

"Bagus dong, itu berarti Freya-ku  terbebas dari orang yang nggak waras. Hehe, maaf, Tante."

Ekspresi Mama Ganes berubah drastis, aku tau perkataan Ziyan keterlaluan. Buktinya Ganes yang melangkah cepat, satu tangannya yang terkepal nyaris mendarat di wajah Ziyan kalau seandainya ... aku tidak menarik kuat ujung jaket Ziyan, hingga aku bersama Ziyan berjongkok di lantai.

Ziyan malah tertawa.

Jantungku justru jumpalitan.

"Ngenes lihat deh pacar gue minta di peluk." Ziyan lalu menjatuhkan kepalanya di pundakku.

Ziyan ikut serta ketika aku berdiri. Ini Ziyan pintar banget mencari kesempatan! Mengeram tertahan, aku mencoba kembali memasang senyum ramah pada Mama Ganes.

Kemudian mundur perlahan aku tak mau terlalu dekat dengan Ganes.

"Saya permisi."

"Reya!"

Bukan Antagonis [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang