(13) Kamu Itu Milikku

56.6K 6.8K 336
                                        

Tiga hari aku demam selama itu pula absen di kelas. Hari rabu, pagi menjelang siang aku berjalan di koridor yang sepi karena semua kelas sedang KBM.

Ada alasan suara sepatuku mengisi lantai koridor, yaitu bertemu Ganes.

Banyak perubahan yang terjadi. Laskar lebih perhatian bahkan sering membuatkan surat sakit lalu memberikannya ke wali kelas.

Satu lagi Radit, berbeda dengan Laskar. Di balik kebaikan Radit, kami saling mengobrol terselip bertanya tentang hidupku dikehidupan sebelumnya.

Aku menjawab seadanya dan anehnya Radit percaya.

"Lama-lama Freya kamu bisa stres." Sembari memjit pelipis aku bersembunyi dipilar. Pemuda tampan tersebut sadar bahwa ada yang mengikutinya ke gedung belakang.

Walaupun sesaat karena Ganes kembali berjalan seraya membawa kantong bola basket.

"Itu guru udah tau muridnya cape masih aja disuruh-suruh." Kulanjutkan membuntuti Ganes yang berbelok ke kiri, tujuan Ganes pasti ruang alat-alat olahraga.

Sebentar.

Tidak ada siapapun.

Jelas, tadi Ganes lewat sini.

"Orangnya mana?" Aku celingak-celinguk. Gawat, jika ketinggalan jejak. Mencari Ganes tanpa para buntutnya sulit, mereka selalu bersama. Belum lagi Denis rasanya aku ingin mengeplak pipinya jika bertemu.

"Ngapain lo ikutin gue?" Bersamaan nada sarkas di arah belakang lenganku ditarik, badanku terbalik paksa. Nyaris saja membentur sosok jangkung di hadapanku kini.

Ganes memandangi sinis dan aku tersenyum maklum.

"Lo lupa sama kejadian di kantin itu?" katanya lagi.

Aku menggeleng, kepala Ganes menunduk sepertinya Ganes sengaja. Tapi sayang di tubuh Freya adalah aku, jikalau ini Freya asli pasti Freya bakal buang muka dan gugup. Respon yang aku lakukan sengaja memajukan kepala, mengikis jarak.

Raut wajah Ganes nampak terkejut.

"Ingat kok, khilaf karena menaruh hati aku ke kamu. Hmm, itu salah ... perlu aku ralat, sedikit pun nggak pernah khilaf. Aku marah, kamu tertawa bersama Yena."

Pantas aku menangis mengatakannya, secara Freya asli sudah mengenal lama Ganes. Bukan, saat memasuki SMA Aurora atau ketika MOS berlangsung, mengenalkan diri dan Freya asli jatuh cinta pandangan pertama pada Ganes.

Freya kembali menemukan Ganes setelah bertahun-tahun berpisah. Banyak rahasia tertutupi, aku harus menyibaknya satu-satu.

"Jauh-jauh sana! Ketawa tiap detik bersama Yena enggak ada urusannya sama lo," ketus Ganes.

Di kehidupan sebelumnya aku mustahil diperlakukan kasar oleh lawan jenis, khusus untuk Ayah berbeda. Mencubit menurutku tidak lah kasar melainkan peringatan sebab aku sering ceroboh yang malah membahayakan diri. Namun detik ini Ganes mendorong badanku kasar.

Tatapan pemuja yang dulu aku dapatkan beralih tersirat hinaan padahal yang melakukan satu orang.

"Kalo kamu ketawa terus, nanti gigi kamu bakal rontok." Gerakan cepat aku menarik ujung pakaian olahraga Ganes, sadar Ganes sangat menunjukkan ketidaksukaannya yang makin kentara.

"Lepasin!" Ganes berseru kesal, keningnya mengerut. Alis tebalnya menyatu, benar-benar menahan diri dalam emosinya.

Kekurangan Genis menurutku emosi yang sering meluap-luap tanpa bisa terkendali.

"Lo beneran mau bola basket ini gue hantamin ke kepala lo!" serunya.

Aku keras kepala bertambah kuat menarik pakaiannya.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang