Selamat membaca;)
.
.
.
.
.
Ini bukanlah kemauan ku, tapi ini adalah takdir ku.
Ooo
"Tina suka jewer kamu ya Ca?" Tanya wanita tua itu sambil terkekeh geli.
"Iya Oma tuh sering banget jewer kuping Caca, kadang-kadang juga Oma suka cubit pipi Caca, sampe jadi melar pipi Caca," seru Caca melirik sinis pada Omanya yang tersenyum malu sambil mencubit kecil paha Caca, "agh sakit Oma!" Pekik Caca refleks
Caca tersenyum miring menatap Omanya, "Oma jangan di cubit sakit ih, tuh liat Tante, nenek, Baru aja di omongin. paha Caca udah di cubit aja sama Oma," Ungkap Caca pura-pura polos.
"Kamu jangan bocorin aib Oma Ca," Kesal Oma berbisik.
"Siapa yang bocorin aib Oma? Caca cuman jujur," balas Caca dengan menaikan oktaf suaranya, Tina meringis. Caca bener-bener minta di sleding, awas aja nanti di rumah, batin Tina bergumam.
"Hahaha kamu lucu Ca, andai aja cucu Oma itu kamu," Kekeh Rina sambil menitikkan air matanya.
"Iya Caca receh banget, anaknya ceria, selalu tersenyum, seneng bisa ketemu sama kamu nak, kapan-kapan main kerumahnya Tante yah?" Tambah Gita menyahuti.
Caca berbeda sekali dengan cucu nya. Pasti keluarga Tina bahagia sekali memiliki seorang cucu yang ceria seperti Caca, otomatis rumah akan terasa hidup, tidak seperti keluarganya, terasa begitu sepi yang seolah-olah tidak ada kehidupan di dalamnya. Terkadang ia pun merasa sangat bosan tinggal di rumahnya itu.
"Itu mah gampang Tan, asal Siapin aja cemilan buat Caca, mulut Caca suka ga bisa diem, kecuali di supel sama makanan baru bisa diem," ungkap Caca tanpa rasa malunya, Tina menyenggol lengan Caca karena kesal, "malu-maluin, Oma tinggal kamu di jalan," ancam Tina, namun ancaman tersebut bagaikan angin lalu bagi Caca.
"Yang nyetir siapa? Caca, emang Oma bisa nyetir? Yang ada mobil Caca kiss sama pohonan," sahut Caca menatap remeh Omanya.
"Aduh, kamu ada-ada aja Ca, haha," Rina tergelak lucu, bahkan perutnya terasa keram.
"Udah Selesai ngobrolnya? Kalau masih lama saya mau pulang duluan," setelah sekian lamanya, pria yang hampir Caca lupakan keberadaan nya mengangkat bicara. tapi tunggu, suaranya kok ga asing? Batin Caca bermonolog,
Caca pun menoleh ke sumber suara, refleks kedua mata Caca membola kala matanya melihat jelas makhluk apa yang ada di hadapannya ini. "SETAN?!" Sentak Caca refleks, demi tuhan Caca tidak menyangka bahwa Tante Gita yang baik hati malah memiliki anak seperti dia, semoga saja mental Tante Gita aman menghadapi putranya yang seperti itu.
sebenarnya Raffi sudah tau bahwa cucu teman Omanya itu adalah si cewek rese. Maka dari itu ia memilih diam dan menunduk daripada menunjukan wajahnya, ia takut gadis itu berulah dengan mulutnya, ia sudah terlalu bosan mendengar ocehan gadis itu.
"Kok setan?" Beo Tina menatap Caca, Caca meringis seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, gimana ya jelasnya, batin Caca.
"Gini Oma kronologi nya, dia tuh musuh bubuyutan Caca, gara-gara dia Caca hampir sekarat kelolodan bakso, gara-gara dia juga baju Caca basah ketumpahan es tehnya dan satu lagi, gara-gara dia juga Caca dendam sama kata oh," ujar Caca ketus, demi tuhan darah Caca selalu mendidih saat melihat wajah sombongnya waktu Caca hampir sekarat.
"Aaa.. sakit Oma," Caca meringis saat tangannya di cubit kecil oleh Tina.
"Kamu jangan ngomong kaya gitu. Liat ada Tante Gita sama Oma Rina. Sopan dikit," bisik Tina, Caca meringis mendengarnya, ia lupa jika disini ada Tante Gita sama nenek Rina, terkadang ia suka heran, kenapa sih ia punya mulut susah banget buat di aturnya? "Eumm maaf ak--"
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)