Selamat membaca
.
.
.
.
Ikhlas kan dan doakan.
Ooo
"Ber-janji lah Ca—" lirih Anita pelan. dadanya terasa sangat nyeri, kepalanya berdenyut sakit. keringat dingin terus bercucuran di kening, lengan, punggung, bahu, dan leher. serta nafasnya yang terasa begitu sesak.
Caca mengangguk pasti. Tangannya yang bergerak menghapus air mata Anita, lalu tersenyum, "Caca janji, tapi tante juga harus janji untuk sembuh, demi Fita. Caca tau betul kalau Fita sayang banget sama Tante dan Caca ga mau Fita menjadi sedih melihat keadaan Tante."
"Tan-te ga kuat Ca, Tante minta tolong ya sama kamu? Tante titip Fita, dia ga bisa hidup sendirian," ucap Anita pelan bahkan seperti bisikan, tangannya meremat Brankar yang ia tempati.
Bruk!
Fita membuka pintu ruangan Anita dengan kasar, ia tidak perduli jika pintu itu bisa saja rusak karena ulahnya. Terlihat oleh mata telanjang Caca bahwa mata duta sembab, hidungnya merah dan rambutnya berantakan, gadis itu berlari kecil dan berhamburan kedalam pelukan bundanya, "Bunda! Hikss.." tangis Fita pecah membuat hati Caca ikut teriris melihatnya.
Anita tersenyum kecil, tangannya bergerak mengusap rambut princess nya, sebisa mungkin ia berusaha menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya. "Kenapa bunda ga bilang, kalau bunda sakit?" Tanya Fita menuntut.
Caca menyentuh tangan Anita yang dingin, lalu tersenyum. "Tan, Fit. Caca ke depan dulu ya?" Pamit Caca, Caca bergegas meninggalkan keduanya, Fita butuh waktu untuk berbicara dengan Anita.
Caca menghela nafas panjang, ia dudukan tubuhnya di kursi yang sudah tersedia, matanya melirik ke arah jam tangan yang ia gunakan, kini hari telah berganti malam, perut Caca pun ikut terasa perih, sejak tadi siang ia belum makan apapun, ia terlalu panik mendapat kabar tidak baik dari dokter yang selama ini menangani Anita—ibunda dari sahabatnya.
Caca selalu berdoa akan kesembuhan Tante Anita, bagi Caca beliau adalah seorang ibu yang sempurna. dia baik bahkan sangat baik, hatinya lembut selembut kain sutra, tutur katanya yang ramah membuat Caca selalu nyaman berada di sisinya.
"Caca yakin Tante bisa sembuh," gumam Caca lirih, ini bukan pertama kalinya ia menemani Anita di rumah sakit, jika kalian pikir Anita adalah seorang ibu yang tidak perhatian, maka kalian salah besar.
Selama dua tahun lebih Anita berjuang melawan penyakitnya, bertugas keluar kota adalah sebatas alibinya saja, Anita pikir penyakitnya ini akan hilang dengan cepat namun Anita salah seiring berjalannya waktu penyakit leukimia ini semakin menyiksanya.
Anita tidak pernah sedikitpun bercerita akan penyakitnya ini pada Fita, berulang kali Caca mencoba membujuk Anita agar mau berbagi dengan anaknya. namun, Anita seakan tuli, ia tidak mau mendengarkan apa yang Caca sarankan, dengan alasan takut Fita menjadi kepikiran akan penyakitnya ini, Anita tidak mau melihat Fita sedih.
"BUNDA!"
"bangun! Hiks! Bangun bunda!" Tubuh Caca membeku kala mendengar suara jeritan dari arah kamar Anita, Caca tau betul jika itu suara milik Fita, dengan perasaan yang tidak karuan Caca berlari menghampiri ruangan Anita.
"Bunda!" teriak Fita histeris tubuh Caca membeku di tempat, ini bercanda kan? Tante Anita baik-baik aja kan? Caca lagi mimpi kan? Tante Anita ga benar-benar pergi sepeti Omanya kan?
"Bangun! Bunda Fita mohon bangun! Hiks.."
Caca tersadar akan jeritan Fita, nafas Caca terasa berhenti berdetak, kenapa tuhan selalu mengambil orang-orang yang ada di sekelilingnya? Bahkan duka atas kepergian Oma Tina pun masih sangat membekas di hati kecil Caca, "Dokter!" Panggil Caca dengan suara yang bergerak menahan tangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Fiksi Remaja"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)