Selamat membaca
.
.
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum Mamah, Caca pulang!" Sapa Caca sambil membuka pintu rumahnya.
Sepi, keadaan rumah saat ini terlihat sangat sunyi, seolah-olah tidak ada kehidupan. Mungkin mereka sedang pergi ke luar padahal saat tadi pagi Papah nya tidak pergi ke kantor dan Aldi pun sedang tidak pergi kuliah.
Caca menghela nafas lelah, ia pun berjalan gontai menuju dapur, lalu menghampiri bibi yang sedang memasak, "Assalamualaikum bibi?" Salam Caca seraya menarik pelan tangan bi Ijah untuk menyalami nya.
Refleks bibi tersentak kaget, "Eh? Ca, tangan bibi kotor," gumam Bibi.
Caca terkekeh, bi Ijah ini sangat lucu. Ia selalu berkata 'tangan bibi kotor' saat ia menyalami nya, "ga kotor bibi, tangan bibi bersih gitu di bilang kotor. Lagian bibi kenapa si setiap Caca Saliman sama bibi, bibi selalu bilang kaya gitu?" Tanya Caca heran, bibi tersenyum kikuk, "bibi kan kotor Ca, terus keringetan juga, apa kamu tidak jijik menyalami bibi yang hanya seorang pembantu?" Ujar bibi berbalik tanya, bukanya menjawab Caca malah tertawa di buatnya.
"Jijik? Untuk apa bibi? Astaghfirullah, Caca ga habis pikir sama ucapan Bibi," Ujar Caca tidak menyangka.
Caca mendekat ia memeluk bibi dari belakang, seperti seorang anak memeluk ibunya dengan sayang. "Bibi denger ya? Bibi manusia dan begitu pun dengan Caca, kita sama-sama manusia yang telah tuhan ciptakan. Jadi untuk apa Caca jijik sama ciptaan tuhan? Apa lagi bibi yang udah lama kerja di sini, bahkan saat kecil dulu bibi yang selalu merawat Caca dengan baik, bibi itu udah Caca anggap ibu bagi Caca, jadi bibi ga boleh ngomong kaya gitu lagi ya? Ga boleh bilang jijik-jijik gitu, emangnya bibi ini apaan? kotoran? Bukan kan?" Bibi tertegun mendengar, pikiran Caca ini sangat dewasa, disaat orang lain menatap rendah seorang pembantu, seolah-olah pembantu adalah sebuah pekerjaan yang menjijikan, pekerjaan yang memalukan, padahal pekerjaan ini sangat halal. Andai saja semua orang punya pikiran seperti Caca ini mungkin tidak ada seorang pembantu yang selalu di tatap rendah dan diremehkan oleh kaum atas.
Bibi melepaskan pelukannya ia tersenyum melihat Caca, bibi sangat senang mendengar, Caca ini anak baik, ia jadi teringat pada Ila anak nya yang di kampung, padahal Minggu kemarin baru saja ia bertemu, "bibi seneng denger nya, makasih kamu udah selalu baik sama Bibi, padahal bibi urusin kamu saat kecil itu ya memang udah tugas bibi sebagai pembantu," tutur Bibi, Caca hanya mengangguk menanggapi nya.
Caca mengedarkan pandangannya, ia sampai lupa akan niat awalnya menghampiri Bi Ijah, "Oh iya, Mamah sama yang lain kemana bi?"
Bi Ijah kembali tertoreh setelah selesai mematikan kompor nya, " Tuan sama nyonya sedang pergi berbelanja, katanya nanti malam ada acara di kantor."
"Kalau Abang Sama kak Aini?"
"Kalau Den Aldi tadi bilangnya si mau ke rumah temannya, kalau Non Aini, bibi ga tau," Caca mengangguk kecil lalu tersenyum, "Yaudah makasih bi, maaf nih Caca udah gangguin acara masak-memasak Bibi," tutur Caca tidak enak.
"Justru bibi suka kalau kamu gangguin," sahut bibi terkekeh kecil, "haha, bibi bisa aja, kalau gitu Caca ke kamar dulu ya? Mau mandi, badan udah lengket banget kaya dodol," ujar Caca diiringi gurauan kecil.
"Bisa aja kamu."
°Caca°
"Fuyhhh..." Caca menghela nafas lelah, ia mengambil ikat rambutnya di meja lalu mengikat rambutnya dengan ngasal. Hari ini sangat melelahkan.
Drtt...
Caca mengernyit kala ponselnya berdering, tak lama kemudian ia tersenyum, Caca berharap yang menelponnya adalah Anna, "kayanya Mamah deh, mungkin Mamah mau ngajakin Caca ke acara kantor nanti malam," Gumam Caca berharap.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)