38. Caca Gapapa.

6.7K 423 5
                                        

Selamat membaca.
.
.
.
.

Yang terluka hati, tapi kenapa yang menangis, mata?

Ooo

"Pagi!" Sapa Caca dengan senyuman hangatnya, ia sudah mengambil keputusan. Seberapa sulitnya pun ia akan tetap berada di keputusan itu, setidak nya sampai ia mendapatkan bukti bahwa dirinya lah yang tidak bersalah.

Sapaan Caca bagaikan angin lalu, tidak ada respon sedikitpun, ketiga asik dengan makannya masing-masing seolah-olah tidak ada keberadaan Caca.

Mata Caca terpejam, sesak, ulu hatinya. Keberadaan Caca memang tidak pernah di anggap tapi untuk kali ini kenapa terasa begitu sesak? Tatapan kosong Mamah nya membuat hati Caca seketika hancur, ia lebih baik di pukuli dan di caci maki dari pada melihat Mamah nya seperti ini.

"Caca duduk ya?" Ungkap Caca dengan senyum, ia pun mendudukkan bokongnya di samping Aldi.

Nafas Caca tercekat saat melihat bulir air mata menetes dari pelupuk mata Mamahnya, bahkan tubuh Anna terlihat lebih kurus dari sebelum, bibirnya pucat pasi. Tanpa sadar air mata Caca menetes. "Caca, sakit lihat Mamah terluka," batin Caca.

Ingin sekali Caca memeluk, membekap dan memberikan semangat pada Anna, tapi ia sadar semakin ia mendekat maka semakin besar rasa benci Mamah nya pada dirinya.

"Papah mau pake lau—"

"Mah!" Sela Aldi, ia sudah benar-benar muak melihat Mamah nya seperti ini, hidup tapi tidak bergairah.

"Papah udah pergi Mah, Mamah ga bisa terus-terusan kaya gini, Papah pasti sedih disana liat Mamah seperti ini, ikhlas kan Papah, Mah. Aldi mohon," pinta Aldi dengan lembut. 

Anna terdiam dengan tangis, tubuhnya bergetar. Ia masih tidak ridho atas kepergian sang suami, bahkan cita-cita yang kedua nya bangun, belum terwujud. tapi sekarang suaminya benar-benar telah pergi.

"Mah, kamu tau ga? Untuk saat ini cita-cita aku cuman satu, aku ingin menua bersama kamu, Mah."

"setelah pensiun nanti aku mau habisin waktu tua aku bersama kamu, Mah."

Tangan Tomi terangkat mengusap pucuk kepala Anna dan tangan kanannya menggenggam tangan istrinya, "Aku akan ajak kamu pergi kemanapun yang kamu mau."

Anna mendongkrak menatap suaminya dengan senyuman, posisinya Anna tertidur di paha sang suami sedangkan Tomi terduduk dengan bersandar pada papan tempat tidurnya.

"Aku akan habisi waktu tua ku dengan kembali berpacaran dengan mu, Mah."

"Aku mau ajak kamu keliling dunia, cuman berdua. Aku dan kamu, Mah."

"Kita nikmati masa tua kita bersama."

Tubuh Anna kembali bergetar ketika kenangan tentang cita-cita sang suami kembali terlintas. Sesak sekali hatinya, tanpa berbicara sedikitpun Anna beranjak dari kursinya, ia tidak kuat hidup seperti ini.

Semenjak kepergian Tomi, Anna selalu murung, tidur tidak teratur dan makan pun tidak berselera, hal tersebut membuat hati Aldi semakin berkecamuk, ia marah terhadap Caca bagaimanapun juga ini kesalahan dia, jika saja Caca tidak membunuh Papah mungkin Mamah nya tidak akan se menyedihkan ini.

Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring mampu menyadarkan Caca, ia usap air matanya yang terjatuh. "Ini semua gara-gara Lo! Dasar anak ga tau diri!" Umpat Aini lalu melenggang meninggalkan keduanya.

Caca tersenyum menanggapi, ini sudah keputusan, apapun yang terjadi Caca ga boleh menyerah dan mengeluh, ia menghela nafas gusar.

Tidak lama kemudian Aldi pun Sama, ia menaruh sendok nya dengan kasar, sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.   Mood Aldi menjadi buruk kala melihat Caca, darahnya seakan mendidih.

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang