Selamat membaca;)
.
.
.
.
.
.
Kamu hanya debu. Jadi stop untuk berharap lebih kepada angin, sebagimana pun debu untuk bertahan maka, akan selalu di hempasan oleh angin.
Ooo
"OMA!" teriak Caca histeris saat di ambang pintu rumahnya, Caca berlari menghampiri jasad Omanya yang kini sudah tidak bernyawa.
Tangan Caca yang bergetar, terangkat untuk menyentuh Omanya. kenapa secepat ini? Ini mimpi kan? Tangis Caca kian terdengar sangat pilu, bahkan ia tidak memperdulikan darah yang kini masih mengalir di sudut bibir dan hidungnya, hati Caca benar-benar hancur saat ini juga, "kenapa ga nyawa Caca aja yang tuhan ambil terlebih dahulu? Caca ga sanggup liat Oma seperti ini. tuhan," gumam Caca di sela-sela isak-an nya.
Caca menubruk tubuh Tina yang terbujur tidak berdaya, Caca memeluknya seakan-akan enggan untuk melepaskan, ia menangis di pelukan Omanya yang mungkin akan menjadi pelukan terakhir bagi Caca.
"O-ma jangan pe-rgi, Caca ga punya siapa-siapa la-gi, O-ma."
Caca mengusap wajah Tina yang sangat pucat, ia mencium kedua pipinya dengan lembut lalu mengusap air matanya yang mengalir begitu saja, " Oma bangun ya? O-ma ga boleh tinggalin Ca-ca, Oma kan hikss udah janji sama Caca, Oma juga kan rumahnya Caca hikss kalau Oma pergi Caca pulang ke-mana, Oma? Ca-ca ga bisa tanpa Oma, hikss... OMA BANGUN! Bangun OMAA.. BANGUN!" jeritan tidak rela Caca membuat para pelayat ikut teriris dan iba melihatnya, terlebih melihat kondisi Caca yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Oma ba-ngun Hiksss..." kini suara Caca terdengar sangat lirih, Kenapa begitu cepat dia pergi? Padahal Omanya dulu sering berjanji, beliau akan selalu ada buat Caca, dan membantu Caca, agar Abang dan keluarganya kembali menyayangi nya, tapi kenapa Omanya malah pergi dahulu?
Caca mengecup kedua mata Tina yang terpejam, lalu ia tersenyum. "Oma mau Caca peluk kan? Ini Caca udah peluk Oma, sekarang Oma bangun ya?" Lagi-lagi tidak ada sahutan, namun Caca seolah-olah tuli akan pernyataan bahwa Omanya telah pergi, ia terus berusaha mengajak Oma nya berbicara.
Caca meringis saat tangannya sengaja mengusap darah yang ada di sudut bibirnya, "Caca berdarah Oma, Oma harus obati luka Caca, Oma bangun ya?" Pinta Caca lagi, tangis Caca kembali pecah saat tidak ada sahutan atau pergerakan kecil sedikit pun dari Tina. Caca tidak munafik, ia sangat tidak rela atas kepergian Oma nya "OMA!"
" CACA, MOHON OMA BANGUN!"
"BANGUN!"
"BANGUN OMA! HIKSSS.."
"AGHHH!" Caca kembali menjerit keras, menangis histeris. Bahkan ia meluapkan segala kesedihan dengan menjambak rambut, menampar pipi dan memukul kepalanya dengan brutal. Ini semua salah Caca.
Tomi sangat muak melihat tingkah Caca, ia pun menyeret tubuh Caca kasar menjauhi jenazah Ibunya, "Ikut saya!" Perintahnya, Caca memberontak, "LEPAS! LEPASIN CACA!" berontak Caca.
"Papah lepas! Hikss.." Pinta Caca, namun seolah-olah Tomi tuli, ia terus menyeret kasar Caca, dan mendorong nya masuk ke dalam kamar.
"OMA! HIKSS..."
"Caca mau sama Oma! Tolong lepasin Caca! Oma butuh Caca!"
PLAKKK...
Tomi menampar kasar pipi Caca yang memar, luka yang tadi pun belum sempat ia obati dan sekarang luka itu kian bertambah. "Atas dasar apa kamu bilang Oma butuh kamu?"
"Dimana pikiran kamu hah? Kamu bilang sayang sama Oma, lalu saat Oma menangis memanggil nama mu, kamu kemana?? KEMANA CA!?" Bentak Tomi, Caca hanya terdiam, ini bukan lah sepenuhnya kesalahan Caca tapi kenapa mereka semua melimpah kan kesalahan hanya kepada Caca?
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)