Selamat membaca
.
.
.
.
.
Percuma nangis, semuanya tidak akan pernah kembali.
Ooo
"Dia yang udah bunuh papah! Dia yang udah bunuh papah Hiksss!"
..................................................................
"AINI cukup!" Bentak Aldi, menarik tubuh kakaknya yang terisak kedalam pelukan.
"BIBI BAWA DIA KE KAMARNYA!" Titah Aldi menunjuk Caca dengan tatapan tajam, Caca hanya bisa tersenyum miris melihat Abang, tangannya yang bergetar ia angkat untuk mengusap air matanya.
"CACA GA BUNUH PAPAH!"
"CACA GA BUNUH PAPAH!"
"KENAPA SEMUANYA GA ADA YANG PERCAYA! KENAPA!?"
"CACA SAYANG PAPAH! CACA GA MUNGKIN BUNUH ORANG YANG CACA SAYANG! KENAPA KALIAN NUDUH CACA? KENAPA! CACA BENCI! CACA BENCI HIKSS.." teriak Caca memberontak saat bibi Ijah merangkulnya, tangan Caca tidak ikut diam, ia Jambak rambutnya sendiri, ia tampar pipinya dan ia pukul dadanya.
Raffi yang melihat keadaan Caca membuat hatinya ikut berdenyut, iya yakin Caca tidak sejahat itu. Aldi berjalan menghampiri Caca lalu memeluknya. "Gua disini jangan sedih. Gua percaya sama Lo," Ujar Raffi berbisik.
Andre pun tidak bisa tinggal diam, ia kenal Caca bukan sebulan, dua bulan, tapi bertahun-tahun. Andre yakin bahwa ada yang menjebak sahabatnya, "Lo tenang aja Ca, gua akan cari tau siapa pelaku sesungguhnya," batin Andre.
Andre mendekati Caca dan Raffi, keduanya membekap tubuh Caca yang bergetar, "Gua juga ada buat Lo. Lo harus kuat. Lo ga sendirian, kita akan selalu ada di samping Lo, jangan nangis lagi, mana Caca gua yang ceria?" Ujar Andre, tangis Caca pun mulai mereda, menyisakan suara sesegukan nya.
Aldi menarik paksa tangan Caca dalam pelukan Raffi dan Aldi, ia menyeret tubuh Caca, "IKUT GUA!"
Caca hanya bisa pasrah dengan tatapan kosong, tubuhnya terasa sangat lemah.
Raffi menahan tangan Aldi, Ia paling benci dengan pria yang suka bermain kasar, "lepasin Caca, bodoh!" Umpat Raffi marah.
Aldi menatap Raffi dengan sengit, ia terkekeh, "mau jadi pahlawan Lo untuk seorang pembunuh? Haha lucu Lo!"
Deg..
Air matanya Caca kembali mengalir, kata-kata Aldi sangat menusuk di ulu hatinya, Caca tersenyum miris dengan keadaan, Lagi, lagi dan lagi Caca di buat kecewa oleh sifat Aldi—abangnya, yang selalu percaya tanpa mencari tahu kebenaran.
Caca tersenyum menatap Raffi dan Andre bergantian, tatapannya beralih kepada Fita yang sedari tadi hanya diam, Caca menyunggingkan senyumnya ketika tatapannya bertemu dengan Fita "Caca baik-baik aja," gumamnya pelan. Caca meringis ketika Aldi kembali menyeret tubuh Caca masuk ke dalam kamarnya, perlakuan Aldi tidak luput dari perhatian orang-orang yang ada di ruang tamu, berbagai macam tatapan menghujani Caca, ada yang menatapnya iba dan ada juga yang justru senang melihat Caca di perlakukan kasar seperti itu.
°Caca°
Aini tersenyum menatap dirinya di kaca, rencananya membuahkan hasil, Aini pikir semua ini akan sia-sia, seperti biasanya. Namun, justru rencana ini malah berjalan dengan mulus tanpa ada cacat sedikitpun, Aini yakin setelah ini hidup Caca akan benar-benar menderita, bukan Anna dan Aldi saja yang membencinya, tapi orang akan menjauhinya termasuk teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Fiksi Remaja"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)