Selamat membaca
.
.
.
.
.
Kenapa kamu hanya datang untuk memberikan luka?
Ooo
"Bunda?!"
"Bunda? Raff—
"Aghh sakit ayang," Raffi mengaduh ketika pinggang nya di cubit kecil oleh Caca.
"Ucap salam dulu, jangan malah teriak-teriak, enggak sopan," terangnya membuat Raffi tersenyum gemas menatap sang pujaan hati, "Iya ayang."
"Najis banget gue Raf dengernya," ejek Andre benar-benar muak. niatnya ingin belajar bareng dan sekarang lihatlah? mereka Asik berdua kan? Sudah ia duga. Awalnya ia menolak untuk ikut, namun jika sudah di paksa oleh Caca dan Fita, andre bisa apa?
Bibir Caca melengkung ke bawah menatap Andre dengan songong, "biasa, Yang. Bocah kayak gitu mah irian," timpal Caca.
"Lo jangan samanya deh Ca, gue gibeng juga Lo," sahut Andre sebal.
"Eh Caca? Calon mantu bunda, Udah lama nyampe sayang? Udah malam belum? Makan yuk Nak, bunda temenin," ajak bunda Gita dengan mengambil alih tangan Caca yang ada di genggaman putranya dan menggandeng Caca begitu saja, membuat ketiganya terperangah. "Eh? Nggak perlu bunda, tadi Caca udah makan," balas Caca, namun tidak diindahkan oleh Gita.
Gita menghentikan langkahnya, lalu kembali menengok ke arah dua pemuda dan satu pemudi yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Raffi teman-temannya Kenapa Nggak pada di suruh duduk?" Tanya sang bunda kesal kepada putra satu-satunya.
"Enggak di suruh duduk juga kalau dia pegel mah bakal duduk, Bun." Balas Raffi dengan seringainya. "Raffi—"
"Eh iya bunda? Ayo teman-teman silakan duduk," balas Raffi ramah saat bundanya memelototi nya. "Iya Nak, silakan duduk, Tante siapin minuman dulu ya buat kalian," timpal Gita.
"Kamu ikut yak? Sekalian kamu makan dulu, kamu pasti lapar, Nak. Pulang sekolah langsung ke sini," ucap Gita dengan sangat lembut, tangannya pun merangkul tubuh kurus Caca.
Caca pun hanya bisa pasrah mengikuti setiap langkah bunda Gita, dulu saat pertama kali ia bertemu dengan bunda Gita, beliau terlihat sangat kalem justru Caca lah yang barbar, tapi kenapa sekarang kebalikannya?
Andre menepuk punggung Raffi, menatap Raffi dengan miris, "Kasian. Anak kandung yang tidak di anggap," ejek Andre.
"Bodo amat! Caca kan calon istri gua, mau apa Lo?" Ucap Raffi dengan sombongnya, "udah lah gua mau susul-in ibunda dan calon istrika," ujarnya lagi.
Dengan emosi Andre menoyor kepala Raffi sehingga kepala Raffi terdorong ke depan, "pala lu istrika, Lo kira si Caca setrikaan Lo panggil istrika. Lagian nggak ada kata istrika dalam kamus KBBI," sungut Andre.
"Belagu Lo Dre, gaya-gayaan ngomong kamus KBBI, bahasa Indonesia aja Lo remedial Mulu," sahut Raffi tidak kalah sebal, "udah lah males gua ngomong sama Lo, mending gua cabut," ucap nya dan melenggang begitu saja, membuat Andre mengendus sebal.
Ia pun mengalihkan perhatian menatap Fita yang sedari tadi hanya diam saja.
"Apa Lo lihat-lihat? mau gua colok?" Semprot Fita, jujur ia panas mendengar ucapan Raffi dan Tante Gita barusan.
Andre mengelus dada nya sembari beristighfar, "ini orang-orang pada kenapa sih? Bawaannya demen bener ngomel-ngomelin gua?" Gumam Andre, perasaan gerak gerik nya selalu salah di mata mereka semua, Andre harus apa tuhan!? Anjir, kok gua lebay banget.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)