Selamat membaca.
.
.
.
.
.
'Gapapa jika orang lain membenci kamu, asalkan kamu gak boleh membenci diri kamu sendiri, janji sama aku ya?'
-Caca-
Tok tok tok..
"Neng ini bibi, Buka pintunya neng!" Panggil Bi Ijah, ia terkejut ketika mendengar kabar dari mang Mamat bahwa Caca habis di tampar oleh Tomi—Papahnya.
"Neng buka pintunya sini bibi obati luka Caca," Ujar bi Ijah Lagi, bibi benar-benar khawatir ia takut terjadi sesuatu terhadap Caca, bagaimana pun juga Oma telah memberikan tanggungjawab nya kepada bibi dan bibi pun telah menyanggupinya.
"Bi-bi.." lirih Caca pelan, tubuhnya sangat lemas selama empat hari ini Caca makan dengan tidak teratur, ia terlalu sibuk menghibur Fita sehingga dirinya sendiri terlantar.
Tapi ia tidak menyesal, setidak nya keadaan Fita sudah membaik dan mulai memaafkan nya, bahkan saat tadi saja Fita sempat marah karena Caca hendak pulang.
Memang benar ya jika kita sudah benar-benar best friend forever, maka kita tidak akan pernah bisa marahan dengan waktu yang lama. Begitupun dengan Caca dan Fita, keduanya memang paling tidak bisa marahan lama-lama dan sekarang contohnya, Fita sudah mulai memaafkannya walaupun terkadang dia suka menyindirnya.
"To-long Caca Bi, sakit."
Bi ijah yang samar- Samar mendengar ucapan Caca tersebut segera turun untuk mengambil kunci cadangan. tidak lama kemudian ia menemukan nya lalu membukakan pintu kamar Caca, "Astaghfirullah Caca?!" Pekik bi ijah terkejut melihat wajah Caca yang sangat pucat dengan luka Lebam di kening dan sudut bibir.
bi Ijah jongkok agar bisa melihat jelas wajah Caca, tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Caca "O-bat Bi," ujar Caca pelan. menahan sakit di dadanya.
"La-ci," ujar Caca seakan tau apa yang bi ijah pikirkan, bi Ijah pun beranjak dari tempatnya berlari kecil menuju laci, setelah menemukan obat tersebut bi Ijah kembali menghampiri Caca memberikannya pada Caca.
Caca menerima obat itu, tanpa bantuan Air ia menelan obat yang berbentuk kapsul yang ukurannya lumayan besar.
Caca mengatur nafasnya, rasa panas di dadanya perlahan menghilang, "Kamu istirahat ya? Bibi mau ambilkan air makanan sama obat merah buat bibir kamu," bibi merangkul tubuh Caca yang lemas menuju kasur, mengenai penyakitnya yang Caca derita bibi sudah tau, Oma Tina yang memberi tahunya.
"Terimakasih Bi.." gumam Caca tersenyum.
Setelah pintu kamar tertutup Caca berusaha memejamkan matanya, menikmati rasa sakit yang ia rasakan, namun tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka, Caca pikir kira itu bi Ijah, Caca menolehkan kepalanya bola mata Caca membelo saat melihat orang yang tengah berada di depan pintunya, "Caca?" Panggil Aldi, sontak Caca memalingkan wajahnya, tanyanya gencar menghapus jejak air mata, mengelap kasar sudut bibir dan keningnya yang belum sempat di obati. Ia tidak mau Aldi khawatir akan keadaan nya, "Ish..." Ringis Caca pelan, lukanya terasa sangat perih, tanpa ia sadari air matanya pun kembali menitik.
"Jangan Ca, perih," Aldi menahan lengan, "bibir kamu luka," Ujar Aldi lembut. Caca memalingkan wajahnya.
Aldi menyentuh dagu Caca agar menatap padanya, "Kenapa bisa kaya gini? Siapa yang udah berani lukai adik Abang?" Ujar Aldi.
Melihat Caca terdiam Aldi menjadi yakin, bahwa yang memberikan luka ini adalah Papahnya sendiri.
Ia menghela nafas gusar, "Dan kemana kamu selama dua hari gak pulang? Nomor kamu pun tidak aktif Ca? Kamu ga tau seberapa khawatir nya Abang cariin kamu," Ujar Aldi lagi, membuat Caca kembali memalingkan wajahnya, Caca benar-benar merasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)