55. Caca Gapapa.

8.9K 464 28
                                        

Selamat membaca.
.
.
.
.
.

Setelah pulang dari permakaman tingkah Caca kembali menjadi sangat manja, bahkan yang sebelum-sebelumnya Caca takut untuk masuk ke kamar Aldi kini ia malah semakin berani. Contohnya saat ini Caca sangat berani memeluk kakaknya sambil membujuk Aldi agar mau melihat foto bunanya. "Abang ihhh liat dulu apa!" Kesal Caca, berdecak.

'Buna' adalah nama panggilan yang Mamah nya inginkan, tertulis jelas dalam lembar buku diary milik Cana yang bertuliskan 'cepat, lahir ya? Bubunya, Buna. Buna sayang kamu nak.'

lewat buku itu Caca mengetahui jika nama Caca Aeyza Allqiya adalah nama yang sudah di siapkan Buna nya dari jauh-jauh hari tanpa campur tangan dari Papah nya— Tomi. bukannya Cana tidak mau Tomi memberikan nama untuk putrinya melainkan Tomi sendiri lah yang enggan memberikan nama pada janin yang ada di rahim Cana.

Melalui buku harian ini juga Caca pun tau seberapa besar perjuangan Buna nya ketika mengandung Caca. Selama mengandung Caca, Cana tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang semestinya Tomi berikan, saat mengandung justru Cana selalu mendapatkan perlakuan kasar yang membuat kandungan nya melemah.

Buna Cana sering curhat melalui buku hariannya. perihal luka dan rasa sakit yang ia rasakan ketika Tomi memukulinya, Cana hanya ingin dimanjakan ketika mengandung seperti yang Tomi lakukan kepada Anna, namun nyatanya itu sangat sulit Tomi berikan padanya.

"Nggak Sudi!" Tolak Aldi mentah-mentah. Walaupun sejujurnya ia sangat ingin tau bagaimana rupanya ibunda dari Caca.

Bibir Caca melengkung sebal, "Buna Caca cantik Abang. Dia nggak buruk rupa kok, dia sama cantiknya kayak Caca."

"Bacot bangsat!" Umpat Aldi membuat Caca terdiam, "Lo bawa tuh buku atau gua bakar?" Ancamnya.

Kepala Caca menggeleng kecil, ia peluk buku diary Buna nya dengan posesif. "Jangan, Caca cuman punya ini. Kalau Abang bakar Caca bakal marah sama Abang," lirih Caca.

"Gua nggak perduli," ucap Aldi terdengar sangat sarkas.

Caca terkekeh kecil, ia berlari meninggalkan kamar Aldi, mampu membuat Aldi menghela nafas lega, akhirnya bocah itu pergi, namun tidak berselang lama bocah itu kembali datang dengan cengiran khas nya.

"Lepas anjing," geram Aldi kesal karena tiba-tiba Caca memeluknya dengan sangat erat.

"Nggak!"

"Sesek setan!" Umpatnya, Caca seolah-olah tuli, ia malah mengeratkan pelukannya, "Abang— Caca sakit," gumam nya, Aldi terdiam.

"Abang— Caca sakit," gumamnya lagi.

"Maksud Lo?" Tanya Aldi mulai kepo dengan topik pembicaraan dari Caca, "sakit, Caca nggak kuat. Kalau Caca nyerah boleh nggak bang?" Ia—Caca mendongkrak menatap sang kakak yang juga menatapnya dengan heran.

"Caca capek, hati Caca sakit. Caca mau nyerah tapi Caca masih punya janji sama Abang, Caca nggak mau pergi sebelum menepati janji sama Abang, Abang doain Caca ya? Semoga secepatnya Caca bisa menepati janji itu, supaya Caca bisa leluasa buat pergi."

"Lo ngomong apaan sih anjing?" Sentak Aldi, ia merasa janggal dengan apa yang Caca ucapkan barusan. "Sekali lagi Lo ngebacot, gua robek mulut Lo!"

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang