Selamat membaca
.
.
.
.
.
.
Dia dan segala impian kecilnya.
Ooo
Drtt...
Drtt...
Fita geram sendiri mendengar ponsel Caca yang terus berdering, sementara yang punya malah asik mengupas kuaci lalu di kumpulkan ke tempat yang ia buat sendiri dari kertas. "Ca, ponsel Lo bunyi mulu, setan. risih banget gua dengernya," tutur Fita, Caca tidak merespon ia pikir pasti nomor nyasar atau enggak fansnya, setiap hari memang ada aja yang iseng menelepon Caca, sehingga membuat Caca terkadang malas menggunakan ponselnya.
Tangan Fita merebut kuaci yang tengah Caca kumpulkan, "Angkat ga? Berisik tau ih!"
"Ga ah, palingan orang iseng. Kalo mau Lo aja yang angkat, sana," titah Caca lalu merampas kembali kuaci nya, "enak aja Lo main ambil-ambil aja, ga tau apa bibir gua udah kaya Tutut, monyong-monyong, gara-gara kupasin nih kuaci."
"Lagian Lo kek bocah tau ga? Ngapain coba di kumpulin gitu? Mendingan Lo kupas dan langsung makan, ribet banget dah hidup Lo Ca," Fita tidak habis pikir dengan Cara makan Caca, setiap ia membeli makanan sejenis kuaci dan kacang, gadis itu selalu mengupasnya dan mengumpulkan nya di kertas, setelah semuanya telah di kupas baru kuaci atau kacang itu ia makan.
"Biar enak di liatnya," balas Caca membuat Fita mengendus, dengan kesal ia merampas ponsel Caca yang tergeletak di mejanya, "siapa sih, berisik banget," Geram Fita.
"Dokter Raka?" Gumam Fita, sontak mata Caca membelo, tanpa aba-aba ia merampas ponselnya yang ada di tangan Fita, "Lo sakit?" Tanya nya.
Caca tertawa di buatnya, "kepo!" Cetus Caca lalu melenggang meninggalkan Fita yang mengendus sebal.
*
"Assalamu'alaikum?"
"..."
"Apa!?" Tubuh Caca seketika menegang, jantung nya terasa sesak seolah-olah baru saja di hantam oleh batu yang besar. "Dokter ga lagi bercanda kan?" Ucap Caca berusaha mengelak apa yang barusan dokter Raka ucapkan.
"..."
"Caca ke sana sekarang, terimakasih dokter."
Tutt
Setelah sambungan telepon ia putus secara sepihak, Caca segera bergegas menuju ruang guru untuk meminta izin pulang. "Caca yakin, Tante pasti bisa sembuh."
°Caca°
Hari kini telah berganti dengan malam, namun sampai detik ini tidak ada tanda-tanda akan kepulangan Caca, Aldi—pria itu terlihat sangat cemas memikirkannya, ini udah malam tapi kemana adiknya itu? Bahkan nomor teleponnya pun tidak aktif, "kamu dimana si Ca? Ga bisanya kamu ga ngasih kabar gini," gumam Aldi pelan.
Aini yang tengah berdiri di depan pintu utama pun tersenyum, ini adalah kesempatan nya untuk mengambil hati Aldi, ia pun berjalan mendekati adik laki-laki. Tangannya menyentuh pundak Aldi, sehingga sang empu terperanjat kaget, namun Aldi kembali menetralkan wajahnya, "Gua minta maaf, kemarin gua kelepasan. Mulut adek Lo yang bikin gua kesel," ucapan Aini sama sekali tidak di tanggapi oleh Aldi.
"Gua ga nyangka Caca bisa-bisanya nuduh gua kaya gitu, padahal gua sayang banget sama Papah, Se-benci itukah dia sama gua?"
"Padahal selama ini gua selalu berusaha berbuat baik sama dia, tapi apa balasannya? Dia selalu nuduh gua yang enggak-enggak."
"Lo bisa diem gak?!" Bentak Aldi emosi, membuat Aini terperanjat kaget. Dengan perasaan yang dongkol Aldi pergi meninggalkan Aini yang membeku.
Lagi-lagi tangan Aini terkepal, kenapa ia selalu kalah dengan Caca? Apa istimewanya bocah itu di hadapan Aldi? Sehingga ia selalu salah dan buruk Dimata adiknya itu, "Gua benci banget sama Lo, Ca."
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)