Selamat membaca.
.
.
.
.
Luka lama aja belum sembuh, kenapa kamu malah menciptakan luka yang baru?
Ooo
Dengan wajah sumringah Caca berjalan menelusuri koridor, sesekali ia menyapa teman-temannya. Caca sangat tidak sabar untuk berjumpa kembali bersama Andre dan Fita. Ia rindu gurauan demi gurauan yang selalu terlontar dari mulut Andre dan ia juga rindu kekehan Fita saat melihat wajah Andre ternistakan.
"Assalamualaikum," salam Caca, dengan menyembulkan kepalanya dibalik pintu, jarang-jarang Caca kalem kaya gini. "Wis— Madam kita jadi kalem gitu," sahut Sintia.
"Mungkin abis ke jedot otaknya," balas Jihan.
"FITA!" Pekik Caca membuat senyuman teman-teman nya luntur, baru aja di puji kalem, sekarang mulut nya udah kembali seperti toa masjid lagi. Emang pada dasarnya toa mah tetep toa aja.
"Nyesel gua muji, Caca kalem," sungut Sintia, namun sang empu malah tidak memperdulikan nya, ia bersenandung kecil menghampiri mejanya yang sudah ada Fita di sana. "Fita!" Seru Caca, namun tidak dihiraukan oleh sang empu.
Tangan Caca terangkat untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, bola matanya menatap Fita dengan binggung, "ngapa dah Fit? Lo gak ngambek kan, gara-gara gua kemaren gak sekolah?" Ujar Caca, namun tidak di respon oleh Fita, tatapannya terasa sangat berbeda.
Kemarin Caca gak pergi ke sekolah bukannya karena malas, tapi karena tubuhnya yang masih lemas dan luka lebamnya masih sangat membekas, ia takut teman-temannya khawatir.
"Lo gak sakit kan?" Tutur Caca lagi, punggung tangannya mendarat tepat di kening Fita. "kaga panas ah," gumamnya.
"Lo kenapa?" Tanya Nya, menyentuh pundak Fita, namun lagi-lagi ditepis oleh Fita, "lepas!" Sentak nya.
Kening Caca mengernyit melihat tingkah aneh Fita, sahabatnya yang satu ini gak lagi marah kan? Tapi kalau marah ya apa alasannya? Perasaan hubungan Caca dan Fita sudah membaik, bahkan kemarin malam Caca sempat menemani Fita makan melalui sambungan video call. "Lo kenapa?" Lagi-lagi Caca bertanya heran.
Andre yang baru saja datang langsung menghampiri meja Caca dan Fita, "gila kemana aja Lo Ca—"
"Lo kenapa Fit? Lo ga sakit kan?" Ucapan Andre terpotong, tatapannya mengarah kepada Caca dan Fita secara bergantian, "ada apa nih, bestie? Fita? tumben amat tuh muka ketus bener. Lo juga ngapa Ca? muka Lo kusut bener?" Ucap Andre bertanya-tanya.
"Bisa diem ga?" Cetus Caca dan Fita kompak, bukannya merasa bersalah Andre malah tercengir.
"Kalem dong."
"lama-lama bisa sawan gua, Deket - Deket Lo berdua. di omelin mulu, udah kaya anak pungut kalo gini ceritanya mah," gerutu Andre membuat bola mata Caca dan Fita memutar.
°caca°
"Boleh gabung?" Mata Caca, Andre dan Fita tertoreh ke sumber suara.
"Yo, gabung aja," sahut Andre. Lalu menyeruput es tehnya pesanannya, tatapan Raffi tertoreh kepada gadis yang duduk di sampingnya, dia Caca gadis yang beberapa hari yang lalu ia cari keberadaan nya. "Lo baik-baik aja?" Tutur Raffi namun tidak di respon oleh Caca, ia masih setia dalam dunia lamunannya dengan tangan yang terus mengaduk-aduk siomay pesanannya.
"Ca?" Kali ini Andre yang bersuara. Ia mendesah lelah, akhir-akhir ini ia sering sekali memergoki Caca yang tengah melamun. Caca berubah, ia tidak seceria dulu. Andre jadi rindu saat-saat dimana Caca menjahilinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)