Selamat membaca;)
.
.
.
.
.
.
Mengikhlaskan adalah jalan satu-satunya.
Ooo
"LO ITU BENALU! KENAPA HARUS OMA YANG PERGI, KENAPA BUKAN LO?!"
Berulang kali Caca menghela nafas namun rasa sesak di dadanya tak kunjung mengurang, ia tatap satu persatu keluarganya dengan tatapan kecewa, sebegitu benci kah mereka pada Caca? Hanya kalimat tersebut yang selalu ada di pikirannya, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salah Caca?
Caca mengusap air matanya yang mengalir begitu saja, lalu tersenyum, "Caca salah apa sama kalian?" Lirih Caca lembut, namun tersirat luka yang amat menyakitkan.
"Caca salah apa sama kalian? Selama ini Caca selalu berusaha untuk dekat sama kalian tapi kenapa kalian selalu mencoba menjauh? Apa salah Caca? Kenapa kalian jahat? Kenapa kalian selalu menganggap Caca ga ada? Apa salah Caca?" Ujar Caca, baru kali ini Caca berani meluapkan apa yang ada di hati dan pikiran.
Aini mendekat ia mencengkram erat rahang Caca, sakit. Tapi Caca tahan, ia tidak mau kelihatan kesakitan di harapan mereka semua, ingat kata Oma. Caca itu kuat, Caca ga boleh keliatan lemah. "Seharusnya kehadiran Lo itu ga ada! Lo itu seharusnya ga hadir di keluarga ini, Lo itu hanya benalu, sialan!"
"TAPI KENAPA!? CACA TANYA KENAPA? APA SALAH CACA?!"
Tomi, Anna, Aini bahkan Aldi hanya bisa bungkam dan membeku, keempat nya syok. Baru kali ini ia melihat seorang Caca marah seperti ini.
Caca tersenyum, " KENAPA KALIAN DIAM?" Ia terkekeh dibuatnya, "AH ATAU MUNGKIN KALIAN GA BISA JAWAB?" Lanjutnya.
"Mir-
PLAKKK...
Lagi-lagi tubuh Caca terhuyung ke belakang, sudut bibir Caca yang tadinya kering kini kembali basah oleh cairan Segar berwarna merah.
"BERANI KAMU MELAWAN SAYA?!" Bentak Tomi murka.
Caca berusaha bangkit lalu berdiri tepat di hadapan Papahnya, ia kembali tersenyum, "kenapa? Papah ga terima?"
"Mau pukul lagi? Ayok Caca masih kuat, pukul aja kalau itu membuat kalian puas! kenapa diam? Ayok pukul, kalau perlu bunuh aja Caca, bunuh!" ucap Caca menantang, kala Aldi hendak kembali menamparnya. Dapat Aldi lihat dari wajah Caca terlihat gadis itu sangat kecewa, bahkan mungkin benci.
Dengan berani Bi Ijah keluar dari persembunyiannya, ia menghampiri keluarga kecil tersebut yang tengah berkelahi, ia memeluk tubuh Caca yang gemetar, "saya mohon jangan pukuli Caca Pak," pinta Bibi.
"Caca, kamu gapapa kan?" tanya bi Ijah khawatir.
Caca menggeleng pelan, "Caca Gapapa, tapi hati Caca yang lagi ada apa-apa," balasnya, ia tersenyum walaupun perih, agar bibi yakin kalau dirinya ini baik-baik saja.
"Menjauh bi," perintah Tomi, Bibi menggeleng tidak mau, ia takut Caca kembali di pukuli, "Maa-
"MENJAUH LAH!" Bentak Tomi emosi.
"Tap-"
"Bibi Caca Gapapa, bibi ga usah khawatir ya?" Sanggah Caca memotong ucapan bi Ijah.
Tanpa berfikir panjang Tomi menarik tangan Caca dan menyeret nya masuk ke dalam toilet. Caca tidak memberontak ia hanya diam menerima perlakuan keji sang Papah.
Bi Ijah kembali terisak melihat betapa kejamnya seorang pengusaha yang selama ini menjadi sorotan publik, menjadi idola dari setiap kalangan, namun mirisnya beliau begitu kejam terhadap putri semata wayangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Ficção Adolescente"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)