15. Caca Gapapa.

8.1K 484 16
                                        

Selamat membaca;)
.
.
.
.
.
.
.

Kenyataan itu memang pahit.

Ooo




"Sialan!"

"Bajingan!"

"Gua ga akan pernah maafin Lo, kalau Oma gua kenapa-kenapa," ucap Caca tidak main-main, jika sudah bersangkutan dengan Omanya ucapan yang tadinya tidak serius pun akan menjadi bumerang bagi orang lain nantinya.

"Raffi, bajingan!" Umpat Caca benci, ia terus berjalan menelusuri jalan yang kian menggelap dan sepi, seharusnya ia kabur dari sore tadi, apalah daya Caca yang mempunyai sifat tidak enakan.

Saat ia menolak sesuatu, maka ia akan selalu merasa bersalah. namun, jika ia selalu menyanggupi semua permintaan orang lain pada dirinya, maka dirinya sendiri lah yang akan kesulitan nantinya.

Ada yang sama kaya Caca?

Jam sudah menunjukan pukul 21.02 Caca sedikit takut berada di jalanan sepi seperti ini, apalagi keadaan nya sudah malam.  berapa kali ia mencoba menghentikan kendaraan yang lalu lalang namun hasilnya nihil, tidak ada yang mau membantunya.

"Bantu Caca ya Robbi," Lirih Caca sambil berjalan, ia mengusap tangannya yang terasa dingin, terlebih ia hanya menggunakan seragam sekolah saja.

Disisi lain. Tomi, Anna, Aini dan Aldi sedang kumpul di kamar Omanya, terkecuali Caca. Aldi terkejut kala pulang dari rumah temannya tiba-tiba Bi Ijah berteriak meminta tolong, Aldi pun langsung Bergegas menuju sumber suara, dan ternyata Omanya tidak sadarkan diri.

*

"Gimana keadaan ibu saya dokter?" Tanya Tomi, khawatir.

Sang dokter hanya tersenyum, lalu menepuk pundak Tomi pelan, "kita hanya bisa menunggu keajaiban Tuhan, doakan saja, buat lah beliau bahagia di saat-saat seperti ini. Karena hanya kebahagiaan lah yang bisa membuat beliau kembali bersemangat untuk sembuh, kalau begitu saya permisi."

"Terimakasih banyak Dokter."

Tomi menghela nafas panjang seraya mengusap wajahnya dengan gusar, "sembuhkan ibu saya, tuhan."

Setelah sadar dari pingsan nya, Air mata Tina mengalir, ia menangis. ia sangat khawatir dengan keadaan Caca, ini sudah malam tapi cucunya belum pulang juga. "Jam be-rapa?" Tanya Oma di sela-sela menangis nya.

"Jam 9 malam Oma, memangnya kenapa? Oma mau sesuatu?" Balas Aldi yang duduk di samping Omanya.

Tangis Tina kian mengencang, ia takut terjadi sesuatu dengan cucunya, "Ka-mu dimana Ca? Kamu baik-baik aja kan? Pulang Ca, Oma butuh ka-mu, Pulang sa-yang, Hikss.." gumam Tina menangis. Aldi yang tidak tega pun akhirnya memutuskan untuk kembali menelpon Caca.

Namun hasilnya tetap sama, nomor Caca masih tidak aktif. Tak dapat Aldi pungkiri, ia pun sangat khawatir pada adiknya itu, tidak biasanya Caca pergi tanpa memberi kabar, "Kemana Lo Ca?" Gumam Aldi pelan.

°Caca°

Caca tersenyum, dari sekian lamanya Caca berjalan, akhirnya ia bertemu dengan dua orang pria. Yang satu berbadan tinggi besar, berambut gondrong dan yang satunya lagi botak, bertato. Caca pun menghampiri kedua pria itu untuk meminta bantuan. "Permisi Pak, boleh saya minta tolong? tolong pesankan taksi online, buat saya pak? Ponsel saya lowbat," Ungkap Caca memohon. Ia tidak perduli, apakah kedua pria ini orang baik atau orang jahat, yang terpenting ia bisa pulang secepatnya.

Salah satu pria itu tersenyum melirik ke arah temannya, seraya menaikan salah satu alisnya, "oh tentu saja boleh," balasnya.

Caca bernafas lega, akhirnya ia bertemu dengan orang baik. "Terimakasih ya Pak," tutur Caca.

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang