Selamat membaca
.
.
.
.
"Lo pulang ya Ca? Muka Lo pucat Banget," bujuk Raffi, lagi-lagi tidak di indahkan oleh Caca. seusai pemakaman tadi Caca masih kekeh ingin menemani Fita di rumahnya, sedangkan, Fita sendiri tidak pernah menganggap keberadaan Caca, bahkan menatap Caca pun Fita enggan.
"Lo pulang aja, gua mau disini. Lagian Lo kenapa tumben-tumbenan baik sama gua?" Tanya Caca membuat Raffi mendongkrak, Caca pun heran dengan sikap Raffi yang tiba-tiba berubah saat di rumah sakit. "Gua pengen Nebus kesalahan gua," tuturnya.
"Maaf, gua benar-benar minta maaf Ca, andai—"
"Gua udah maafin Lo, gua sadar ini semua udah takdir. Dan gua ga bisa merubah takdir gua," balas Caca, dalam hati Caca tidak pernah ada yang namanya kebencian, Caca bukan orang yang pendendam, ia memang marah pada Raffi tapi bukan berarti ia membencinya.
Raffi tersenyum, ia hendak memeluknya namun Caca segera mundur, "jangan macem-macem," ancam Caca, dibalas cengiran dari Raffi. "Makasih ya? Gua seneng banget dengernya," Caca hanya mengangguk menyahuti.
"Bibi Fita udah makan belum Bi?" Tanya Caca ketika melihat bi Uni menghampiri nya.
Bu uni menggeleng pelan, "Non Fita ga mau makan neng, bibi udah bujuk tapi non Fita kekeh ga mau makan, bibi takut dia kenapa-kenapa," ujarnya khawatir, sebenarnya yang paling lapar diantara yang lain adalah Caca. gadis itu sejak kemarin siang belum makan apa-apa, bibirnya pun terlihat sangat kering dan pucat.
"Bibi siapin makanannya ya? Biar Caca yang bujuk Fita, bibi ga usah khawatir. Bi uni mengangguk lalu ia pamit kembali untuk menyiapkan makanan, "Lo juga harus makan Ca. Gua tau Lo belum makan dari kemarin. Gua ga mau ya sampai liat Lo sakit." Tutur Raffi, "dih sok tau Lo!" Elak Caca.
Raffi menghela nafas menatap Caca dengan serius, "Ga usah boong. Lo belum makan kan? Muka Lo aja pucat banget gitu."
"Kepo!" Setelah mengucapkan satu kata itu, Caca benar-benar melenggang menghampiri bi Uni yang tengah membawa nampan berisi makanan.
"Fit makan ya? Nanti Lo sakit," ujar Caca namun tidak mendapat sahutan dari dalam, Caca menarik nafas panjang lalu mengambil kunci cadangan yang di kasih Tante Anita, dulu. lalu membukakan pintunya.
Caca memejamkan matanya begitu melihat keadaan Fita jauh dari kata baik, mata gadis itu benar-benar bengkak, di pelipisnya terdapat luka, "Fita?" panggil Caca namun tidak di respon olehnya.
Setelah menaruh makannya, Caca berjalan menghampiri Fita yang tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Caca menyentuh pundak Fita sehingga sang empu terperanjat kaget, ia menoleh ke belakang. ia menatap Caca dengan sinis, lalu tangannya menyentak tangan Caca yang ada di pundaknya, tatapannya kembali mengarah pada langit yang mendung, "Gapapa kalau Lo emang marah dan benci sama gua, gua ikhlas Ta. Tapi Lo harus tau, gua benar-benar sayang sama Lo," Caca terdiam sejenak.
Fita menoleh tersenyum miris."bulshit!seharusnya Lo jujur sama gua. Bagaimana pun juga dia bunda gua, gua udah benar-benar kecewa sama Lo, Ca. Lo udah lukai gua."
"gua terpaksa menutupi semua ini karena permintaan bunda Lo, gua ga bisa apa-apa Fita, gua udah terikat janji sama bunda Lo."
"Disisi lain gua selalu mikirin Lo, Lo pasti kecewa banget sama gua tapi disisi lain juga gua ga bisa ingkar janji dan buat bunda Lo sedih, karena gua tau bunda Lo gak boleh banyak pikiran, kalau gua jujur bisa-bisa Tante Anita drop, dan gua ga mau itu terjadi. kalau Lo di posisi gua, Lo harus apa Fit? Gua serba salah," lirih Caca, air matanya kembali menitik, ia pun tidak mau berada di posisi seperti ini.
"Andai aja Lo jujur sama gua, Ca.
mungkin—gua, ga akan sesakit dan sesesak ini," air mata Fita kembali menetes menahan sesak di dadanya, tangannya meremat ujung bajunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Tienerfictie"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)