39. Caca Gapapa.

6.5K 420 10
                                        


Selamat membaca!

.
.
.
.

.

"Bibi, Caca kuat kan Bi?"

"Caca gak lemah kan ya Bi? Oma pasti makin sayang deh sama Caca, secara kan Caca anak baik, Caca cantik, Caca kuat dan Caca gak cengeng."

"Satu lagi! Ga boleh ketinggalan."

"Caca juga pinter hehehe.." gumam gadis itu dengan polosnya, Bibi Ijah hanya tersenyum menanggapinya, jujur hati Bi Ijah terasa nyeri, ketika mendengar berbagai macam ocehan Caca.

Sedari tadi Bibi di buat meringis melihat banyak luka lembab di kening gadis itu, tapi sementara yang memiliki luka itu seolah-olah tidak merasakan sakit apa-apa, ia terus berceloteh tentang apapun yang ada di pikiran nya, dengan mata yang kosong dan berkaca-kaca.

"Jangan sakiti diri kamu lagi ya? Lihat, luka di pelipis kamu banyak banget, kamu ga kasian sama tubuh kamu?" Nasihat Bi Ijah lembut, tangannya bergerak mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata Caca yang belo.

Caca merenggut, jari telunjuknya ia taruh tepat di bibir bi Ijah, ia terlihat sangat menggemaskan, "abisnya Caca kesel, Caca kan kuat tapi kenapa saat mereka Caci Caca."

Caca terdiam sejenak, telunjuknya ia arahkan ke dadanya, "dada Caca sakit ya? Sesek bi. mata Caca juga perih padahal Caca udah tahan-tahan supaya gak nangis tapi susah bi."

Keduanya sama-sama terdiam.

Bibir Caca bergetar, menahan isak saat ucapan Oma nya terlintas, "Bi-bi?" Aktivitas bi Ijah terhenti. kepalanya mendongak saat mendengar suara Caca yang bergetar.

"Oma pasti kecewa sama Caca, Oma di sana pasti marah sama Caca dan Oma pasti ga mau lagi ngakuin Caca sebagai cucunya," lirih Caca dengan kepala tertunduk.

"Caca udah nakal, Caca sekarang jadi cengeng dan Caca tau Oma pasti ga suka. Oma pasti marah sama Caca."

Caca tersenyum, ia menggenggam tangan Bi Ijah yang terasa hangat di kulit nya yang dingin, "Bibi bantu Caca ya? Bilangin sama Oma, Caca janji setelah ini, Caca ga akan nakal lagi. Caca ga akan cengeng lagi. Bibi bilangin ya sama Oma? Oma suka ga mau ngomong sama Caca kalau Caca cengeng dan nakal, Caca minta tolong ya bi?"

Bi Ijah tidak kuat, di detik itu juga tangis Bi Ijah pecah. Hati bi Ijah teriris mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Caca. Selama ini ia memang dekat dengan Caca, tapi belum pernah ia dibuat menangis seperti ini, biasanya gadis itu selalu membuat dirinya tertawa sampe terkencing-kencing melihat tingkah konyolnya.

Caca menarik tubuh bergetar Bi Ijah kedalam pelukannya, ia usap lembut punggung Bibi. "Bibi, kata Oma sahabat sejati itu akan selalu ada kan?" Bi Ijah mengangguk, setelah merasa lebih membaik ia melepaskan pelukannya.

"Seorang sahabat akan selalu ada di samping mu, di saat semua orang berusaha menjauhi mu dan membenci mu."

Caca terdiam mencerna apa yang Bibi ungkapkan.

Bi Ijah kembali berucap, "Ibarat kata, sahabat itu seperti bra yang bagus, sulit di cari, mampu membuat diri mu terlihat lebih baik, membuat nyaman dan tentunya selalu dekat di hati."

(Please jangan diketawain, soalnya aku nggak Nemu kata-kata yang bagus lagi. ini pun hasil contekan dari google yang aku renovasi dikit😭)

Caca terdiam, raut wajahnya kembali sendu, "tapi Fita gak kayak gitu ya Bi? Fita malah jauhi Caca, Caca harus apa Bibi?" Tanya Caca polos.

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang