Selamat membaca;)
.
.
.
.
.
Lindungi dia, ya tuhan. Tolong sampaikan padanya, kalau aku sangat menyayangi nya.
Ooo
Aldi terkekeh ringan, hatinya kembali sesak. Tangannya bergerak melempar semua foto dirinya bersama Caca kedalam api menyala, satu persatu kenangan dirinya bersama Caca lenyap dimakan si jago merah, Aldi tersenyum miris, "Bahkan sampai saat ini Lo ga datang buat meyakinkan gua, kalau bukan Lo yang membunuh Papah," gumam Aldi miris.
setelah kepergian Tomi, malam itu Aldi pergi ke kamar Caca, ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun sayangnya Caca tidak ada di dalam kamarnya, Aldi sempat bertanya kepada bi Ijah dan ternyata bi Ijah pun tidak mengetahui keberadaan Caca.
Hari berhari telah berlalu, dan sampai sekarang, satu bulan lamanya. ia tidak menemukan keberadaan Caca, gadis itu menghilang seperti di telan bumi. hal itu yang membuat Aldi semakin yakin bahwa memang benar Caca lah yang membunuh Papahnya.
"Gua ga nyangka Lo sekejam itu Ca-gua udah coba meyakini diri gua sendiri, kalau kejadian 12 tahun yang lalu bukan kesalahan Lo, tapi-"
Aldi terdiam sejenak, ia kembali tersenyum miris, "setelah kejadian ini gua sadar, Bahwa emang Lo yang kejam, Lo ga pantes dapat kasih sayang dari siapapun."
Ia menatap nanar tumpukan foto yang sedikit demi sedikit dilahap jago merah, perasaan Aldi tidak karuan, kecewa, marah, dan tidak rela melebur menjadi satu.
"Bang, Abang apa-apaan sih!" Sentak Caca mendorong pelan tubuh Abangnya, tangannya bergerak mematikan api yang melahap beberapa foto dirinya dan Aldi, ia pukul-pukul api itu dengan sendal yang ia gunakan.
Sesekali ia meringis kala tangannya terkena bara api tersebut.
Aldi tersenyum remeh menatap gadis yang selama satu bulan ini menghilang, ia terkekeh kecil, " Kenapa? Lo ga terima gua bakar foto-foto Lo?"
Caca tidak menyahuti, ia terus berusaha mematikan api dengan bantuan sendalnya, setelah api itu padam Caca mengambil sebagian foto yang belum sepenuhnya hangus terbakar dengan tangan telanjang nya," Kalau Abang benci Caca, Caca gapapa, Caca ikhlas. tapi jangan kayak gini caranya."
"Caca tau Abang kecewa dan Abang marah sama Caca tapi Jangan dibakar gini Bang Kasih aja foto-foto ini ke Caca, Caca akan menyimpannya, hanya ini kenangan yang Caca punya," lirih Caca, tubuhnya kembali bergetar menahan tangis.
Aldi membeku, tatapannya beralih pada tangan Caca yang melepuh, "Tangan Lo kebakar bodoh!" Maki Aldi di dalam hati.
Aldi terkekeh, "gua ga perduli. Mau itu berharga bagi Lo atau enggk. Gua- ga perduli. Paham Lo?" Ujarnya dingin penuh penekanan.
Caca memejamkan matanya, lalu mengambil nafas panjang berharap rasa sesak di dadanya menghilang. Kakinya melangkah meninggalkan Aldi yang mematung, namun suara Aldi mampu menghentikan langkahnya, ia menoleh ke abangnya.
"Punya muka juga Lo, balik lagi ke rumah ini?" Kepala Caca mendongkrak, tatapan keduanya bertemu, sedetik kemudian Aldi memalingkan wajahnya, seakan-akan enggan menatap wajah adiknya itu.
"Ini rumah Papah Caca, dan Caca anaknya. jadi Caca berhak tinggal disini," tutur Caca, Aldi tergelak, membuat kening Caca mengerut, "Berhak kata Lo?"
Aldi kembali terkekeh." Bahkan jika rumah ini bisa berbicara pun, mungkin. dia akan berteriak dan tidak terima jika tempatnya di injak oleh kaki seorang pembunuh."
Caca hanya diam, percuma jika ia membela dirinya sendiri, semuanya tidak akan pernah mempercayainya. bukan? Apalagi jelas-jelas bukti mengarah kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Novela Juvenil"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)