Selamat membaca;)
.
.
.
.
.
"Caca, gua mohon, tunggu!" Panggil Raffi, namun Caca seolah-olah tuli, ia terus berlari kecil tanpa mengindahkan panggilan dari Raffi.
Caca menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari taksi yang lewat, sejak kejadian malam itu entah kenapa emosi Caca selalu meluap-luap kala berhadapan dengan Raffi. Ia selalu berandai-andai, andai Raffi tidak meninggalkan nya, andai ia tidak ikut bersama Raffi dan andai ia pulang lebih cepat, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
"Caca?" Panggil Raffi lagi.
Caca tersenyum kala melihat taksi yang tidak jauh darinya, ia melambaikan tangannya, "pak, Taksi?!" Seru Caca, tak lama kemudian taksi itu berhenti tepat di depannya.
"Taksinya neng?" Tanya sang supir taksi tersebut, Caca tersenyum seraya mengangguk, namun ketika Caca hendak membuka pintu taksinya, Tangan Caca di tahan oleh seseorang yang telah membuat mood Caca hancur, siapa lagi kalau bukan pria yang meninggalkan nya malam itu, "Maaf Pak, dia pulang sama saya aja," Ujar Raffi, lalu menutup kembali pintu taksinya, Caca memberontak ia berusaha melepaskan tangannya dari cekal-an Raffi.
"Lep-"
Raffi membekap mulut Caca agar berhenti berbicara lalu merangkul nya, "Bapak ga usah khawatir, dia pacar saya. Biasa lah, ngambek," tutur Raffi lagi, tangan kanannya menarik Caca kedalam pelukannya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membekap mulut Caca.
"Haha, Yaudah jagain pacarnya jangan sampe ngambek-ngambekan gitu. Kalau gitu saya duluan ya," ujar sang supir taksi itu, tak lama kemudian taksi tersebut melaju meninggalkan keduanya.
Jleb!
"Agh!" Pekik Raffi mengaduh, saat menginjak keras kakinya sehingga cekalannya terlepas, namun Raffi begitu cekatan dalam mencengkram tangan Caca, sehingga gadis malang itu tidak bisa melarikan diri. "DIAM!" bentak Raffi yang mulai emosi, seketika tubuh Caca menegang, ia terkejut atas bentakan Raffi barusan.
Raffi menghela nafas berat, "Maaf," ujarnya dengan nada bicara yang lebih tenang, Caca diam tanpa merespon, dengan mudahnya ia meminta maaf setelah ia hampir saja membuat Caca gila karena di hantui rasa takut nya?
"Lepas!" Ucap Caca penuh penekanan.
"Gua minta maaf. Lo ga TULI KAN?" Ujar nya lagi dengan menekan dua kata terakhir nya.
Caca memberontak, tangannya mengepal marah, bahkan rahangnya mengeras, "GUA BILANG LEPAS YA LEPAS, BODOH!" Murka Caca, tanpa berfikir panjang Caca langsung mengigit tangan Raffi sehingga cengkraman nya terlepas.
"AGH!" Pekik Raffi mengaduh, ia mengusap tangannya yang darah dan terasa ngilu, bekas gigitan Caca, "gila tuh cewek, siluman gorila kali. Tangan gua Maen gigit-gigit aja," keluh Raffi, tanpa ia sadari Caca sudah melenggang pergi menggunakan ojek yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ca, tu-" Raffi mendesah berat saat melihat sosok Caca yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Anjing!" Umpat Raffi, ia tau ia salah tapi apa susahnya, memaafkan?
°Caca°
Malam ini, Caca, Andre dan Fita tengah berada disalah satu tukang batagor pinggir jalan, batagor favorit dari ketiganya, tak jarang ketiganya sering menghabiskan waktu bersama di tempat mang Dadang, bahkan ketiganya sudah sangat dekat dengan penjualnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Fiksi Remaja"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)