24. Caca Gapapa.

7.2K 461 8
                                        

Selamat membaca
.
.
.
.

Kenapa kamu selalu merasa kebahagiaan tidak berpihak padamu? Karena kamu jauh dengan pencipta mu.

Ooo


Brugh..

Raffi melempar tubuhnya ke ranjang, pikirannya melayang entah kemana, kepalanya berdenyut pusing, akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang menimpanya, di tambah lagi dengan melihat Oma nya yang terus menangis.

Andai saja malam itu dirinya tidak gegabah, mungkin ia tidak akan merasa bersalah seperti ini.

Raffi berdecak kesal, ia lempar kasar guling yang ada di sampingnya, "sialan!" Umpat Raffi, setiap malam ia tersiksa oleh rasa bersalahnya di tambah lagi ucapan Caca waktu itu selalu berputar di pikiran Raffi membuat dirinya semakin tersiksa.

"Lemah, Lo bilang? Saat gua hampir aja trauma karena malam itu Lo bilang lemah? Dimana otak Lo saat Lo ninggalin gua malam itu Raffi? Lo ga tau seberapa takutnya gua saat dua preman hampir merenggut kehormatan gua! Gua hampir aja hancur gara-gara Lo!"

Raffi terdiam.

Caca mengusap air matanya kasar, lalu terkekeh geli, "bukan itu aja, Gara-gara Lo gua ga bisa meluk Oma gua di saat-saat terakhir nya, gua gada di sampingnya saat tuhan merenggut nyawanya, ini semua, GARA-GARA LO! LO BRENGSEK! GUA BENCI, LO!"

Raffi mengusap wajahnya frustasi, ia bangkit dari tempatnya rebahan dan menghela nafas berat, "gua harus minta maaf, bisa gila lama-lama kalau gua selalu merasa bersalah terus."

°Caca°

"Abang kita mau kemana!" Caca menaikan oktaf suaranya agar terdengar oleh Aldi yang tengah mengendarai motor.

Aldi menoleh ke arah Caca sehingga kedua pipi mereka bersentuhan. "Kamu ga capek ngomong terus ay?" Tuturnya membuat Caca berdecak kesal, Aldi terkekeh melihat ekspresi Caca dari spion motor nya, "Abang mau ajak kamu ke tempat bersejarah." 

Sontak Caca tersenyum mendengarnya, ia sangat tau tempat apa yang Aldi maksud, "Ciee Abang mau ke taman kan?" Goda Caca, Aldi pun tertawa.

Tidak lama kemudian motor yang Aldi kendarai telah sampai pada tujuan, seperti yang Caca ucapakan tadi, taman bunga. Taman ini lah yang menjadi saksi bisu bahwa keduanya sangat dekat, bahkan saling melindungi satu sama lain.

Aldi menggenggam tangan Caca, berjalan menelusuri taman yang terlihat sangat menyejukkan dan indah, mata Caca berbinar kala melihat kupu-kupu mengepakkan sayapnya, demi tuhan ini sangat indah.

Caca bersorak gembira berlari kecil menghampiri Hamparan bunga mawar yang di terdapat banyak kupu-kupu yang hinggap mencari makan, senyum Caca tidak kalah mekarnya dengan bunga, tanpa Caca sadari Aldi memfotonya dari samping.

"Suka?" Tanya Aldi kala sudah berada di samping Caca, Caca mengangguk matanya berbinar ia selalu suka jika berada di taman ini, banyak sekali kenangan nya, Aldi dan Oma di tempat ini.

Caca menunjuk ke arah danau membuat Aldi ikut tertoreh ke arah jari telunjuknya, "Abang inget gak? Dulu saat kita masih kecil, Oma selalu aja kita main di sana," tutur Caca, Aldi terdiam.

"Saat Oma pergi ke Jepang, Caca selalu mampir ke sini terus ajak Oma Vidio call untuk melepas rasa rindu Caca sama Oma, tapi sekarang Oma udah benar-benar pergi," lanjutnya, tanpa Caca sadari air mata Caca menitik, kini Oma benar-benar sudah pergi, Caca rindu.

Aldi menghela nafas, ia tarik pelan pundak adiknya agar mendekat, lalu memeluknya. "Kata siapa Oma pergi? Oma itu ada, dia hanya pulang ke rumah yang sebenarnya, bukan pergi," ujar Aldi.

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang