57. Caca Gapapa.

11K 528 43
                                        

Selamat membaca.
.
.
.
Kalau bisa baca part ini sambil dengerin lagu, 'tutur batinku' karya yura Yunita, biar ada feel-nya.

.
.
.

Hai luka, terimakasih kamu sudah mau menjadi bagian dari hidupku, tapi bisa kah kita berdamai? tolong jangan sakiti aku terus menerus.

Coretanbutterfly.

Tepat pukul 16. 30 Caca baru sampai di kediaman keluarga nya, fyuhh.. lagi-lagi Caca berharap pada mereka. Caca berharap saat ia masuk ke dalam rumahnya, semua sudah menunggu Caca untuk merayakan ulangtahun nya sama-sama, tapi apakah itu mungkin?

Beberapa macam pertanyaan memenuhi pikiran Caca, apakah Mamah dan abangnya akan memeluknya sembari berucap happy birthday Caca!

Ataukah mungkin mereka sudah menyiapkan kue dan doa-doa baik untuk Caca?

Apakah di hari spesial nya ini, semua kan kembali baik baik saja?

Mungkin kah hal itu terjadi?

Ceklek...

Pintu terbuka, dan dengan bersenandung kecil sembari berjalan, namun langkah kakinya terhenti saat di ruangan tamu, tatapan Caca beralih pada Aldi yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Aini dan Mamahnya yang tengah menatap Caca dengan tatapan yang hendak menghunus nya detik ini juga.

Caca itu gadis yang bodoh, jelas-jelas terlihat dari wajah Mamah dan kakak perempuan nya, bawah keduanya tengah menahan emosi namun gadis itu tetap menatapnya dengan senyuman termanisnya, "Mah Caca cantik nggak pake gaun yang dari Oma?" Tanya Caca tulus.

Setelah pulang dari taman Caca menyempatkan diri untuk mengganti bajunya dengan gaun pemberian Oma, Caca terlihat sangat cantik nan anggun menggunakan gaun ini. Jujur Caca sedikit sedih karena Oma tidak bisa melihat dan menemaninya di hari ulangtahun nya ini, tapi Gapapa insyaallah Caca udah ikhlas, "Cocok kan di badan Ca—"

PLAK!

tubuh Caca di buat kaku oleh tamparan keras dari Anna—Mamahnya, senyuman di bibirnya pun, kini tidak terukir lagi.

Tatapan tajam dari Anna membuat Caca semakin bertanya-tanya,
Bisa-bisanya ia berfikir kalau Mamahnya tengah mengepranknya. Tapi kalau benar ngeprank kenapa begitu keras tamparannya? Bahkan sudut bibir Caca pun sampai mengeluarkan darah segar. "Hehe Mamah mau ngeprank Caca ya?" Gumam Caca tersenyum tipis.

Anna mencengkram kuat rahang Caca sehingga Caca meringis. Sementara Aldi hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak tega melihat Caca yang di perlakukan seperti ini, apalagi melihat tubuh Caca yang sangat kurus.

"Kemarin-kemarin kamu masih bisa membela diri kamu sendiri, karena belum ada bukti yang jelas, tapi—sekarang saya nggak akan biarkan kamu hidup bahagia setelah berani membunuh suami saya!" Bentak Anna murka.

"Mamah lagi prank Ca-ca kan?" Cicit Caca lirih, matanya berkaca-kaca, Caca takut.

BRUGH!!

Dengan sangat kasar Anna mendorong tubuh kurus Caca, sehingga Caca yang belum siap akan serangan dadakan itu pun tersungkur ke lantai, keningnya Lebam dengan mengeluarkan darah segar. "Ish.. sakit.." Caca meringis, memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.

Anna mengambil ponsel yang menjadi bukti kejahatan Caca selama ini. lalu menghidupkan rekaman, yang sialnya sudah di rekayasa oleh Aini dan Mita.

Sementara ponsel bi Ijah yang asli sudah berada pada Aldi, Aldi diam bukan karna Aldi takut. tetapi ia sedang bersandiwara, agar Aini tidak mencurigainya dengan begitu ia akan mengetahui siasat apa yang akan Aini lakukan setelah ini.

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang