Selamat membaca
.
.
.
.
.
Sebelum aku pergi, izinkan aku melukis pelangi, seindah mungkin.
Ooo
Hari ini adalah hari terakhir kelas 12 menjalani ulangan kelulusan, Caca tidak percaya, sebentar lagi ia akan meninggalkan bangku SMA dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
semua terasa sangat cepat. perasaan Caca baru saja kemarin, ia menginjakkan kakinya di SMA ini, sebagai murid baru. Dan sekarang, tinggal menghitung hari lagi Caca akan benar-benar meninggalkan sekolah kebanggaan nya, sekolah yang dimana Caca merasakan indahnya kekeluargaan, walaupun sekarang semuanya terasa berbanding kebalik. tapi setidaknya, ia dulu memiliki banyak orang yang menyayangi nya.
Banyak suka duka yang ia rasakan di sekolah ini, mulai dari ia merasakan arti dari kata kekeluargaan dan kebersamaan, yang membuat Caca benar-benar nyaman tinggal di sekolah. dan bahkan disekolah ini pun ia hampir kembali merasakan trauma yang mendalam.
"Ca?" Tubuh Caca tersentak kaget saat Raffi menyentuh pipinya, "nangis?" Caca tersadar ia memalingkan wajahnya, lalu menghapus air matanya yang jatuh begitu saja.
"Kenapa hm?"
Caca menggeleng kecil, ia tersenyum tipis, "nggak kerasa ya, Fi? Perasaan baru kemarin Caca duduk di bangku ini sebagai murid baru. dan kini, tinggal hitungan hari kita bakal keluar dari sekolah ini," tutur Caca. hati nya merasa tidak rela, ia sudah terlalu nyaman berada di sekolah ini tapi ya mau gimana lagi? Ini sudah menjadi siklus kehidupan.
Raffi tersenyum, tangannya menggenggam jemari Caca yang dingin, "aku justru menyesal dan merasa bodoh, Ay."
Kening Caca bergelombang, ia menatap Raffi dengan heran, "kenapa?"
"Aku merasa bodoh karena baru sadar kalau di sekolah ini ada seseorang yang aku cari-cari kehadiran nya. Andai aku bisa sadar akan kehadiran kamu sedari dulu Ay, mungkin hubungan kita akan semakin erat," balas Raffi lirih, tapi setelah ini ia berjanji, ia tidak akan membiarkan Caca kembali meninggalkan nya untuk kedua kalinya.
Caca tersenyum, ia membalas genggaman Raffi, "bukan kamu yang bodoh, Fi. Hanya saja kita sedang di permainkan oleh takdir," balas Caca.
Keduanya sama-sama terdiam, sehingga Raffi kembali berucap, "setelah ini, kamu mau lanjut ke universitas mana?"
Caca menggeleng kecil, ia pun binggung. Ada rasa takut di dalam lubuk hati Caca yang paling dalam. dulu saat masih ada Omanya, Caca ingin melanjutkan ke universitas yang ada di Jepang, biar bisa tinggal kembali bersama Oma nya. tapi kini, Caca benar-benar merasa hilang arah, Caca tidak tau harus kemana. "Kamu nggak mau kuliah Ca?" Tanya Raffi, Caca membalasnya dengan gelengan.
"Aku nggak punya arah Fi, aku juga tidak mempunyai kehendak untuk memilih kuliah dimana, semua ada di tangan Tuhan. Dulu memang aku bisa menentukan apa yang aku suka dan apa yang aku tidak suka, tapi sekarang aku tidak mampu untuk melakukan itu," gumam Caca lirih, ia tidak yakin akan bisa meraih cita-cita di saat semua badannya terasa sangat lelah.
"Maksud kamu?" Seketika otak Raffi ngelak.
Mata indah Caca menatap sayu sang kekasihnya, air matanya kembali menetes, "nanti kalau aku nggak bisa kuliah, aku titip salam ya, sama bangku kuliah. Kalau kamu di kasih kesempatan untuk kuliah jangan di sia-siakan, belajar yang baik kejar mimpi kamu demi aku, aku mau liat kamu sukses nantinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Ficção Adolescente"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)