Selamat membaca
.
.
.
.
Semangatnya mana? Masa di katai gitu aja langsung nyerah? Tunjukin dong, kalau kamu itu hebat.
Ooo
"Semangat ulangannya, biar nanti kita bisa masuk ke universitas yang sama."
"Soal yang susah lewatin aja."
"kerjain yang mudah dulu, biar nggak terlalu pusing," Tuturnya lagi, Caca berdecak sebal, mendengarnya. sudah sepuluh kali Raffi berucap seperti ini, apakah dia tidak capek dan bosan?
"iya, iya. Bawel banget sih?" Ucap Caca, bukannya sebal justru ia senang di perhatikan seperti ini, biasanya Bang Al yang selalu berbicara seperti itu ketika Caca hendak ulangan.
Raffi tidak mengindahkan nya ucapan Caca, "nanti istirahatNya aku jemput," Caca mengangguk seraya tersenyum.
"Iya, iya. Ya udah sana ke kelas, dikit lagi bel," usir Caca, biasa-biasa dia diabetes jika terus-terusan berada di dekat Raffi.
Raffi mencibir, "dih? Kok ngusir."
Kepala Caca menggeleng seraya tersenyum, "nggak, biar kamu bisa belajar sebelum ulangan, udah sana, Caca juga mau belajar," ucapnya lagi seraya mendorong tubuh Raffi sehingga mundur beberapa langkah.
"Iya, iya, sayang. Ini mau ke kelas, jangan kangen ya?" Tutur Raffi genit, membuat bola mata Caca memutar, "nggak!" Ketusnya, melenggang masuk ke dalam kelas meninggalkan Raffi yang tergelak lucu melihatnya.
"Gemesin banget sih Lo Ca!" Ucap Raffi Mencak Mencak.
Didalam kelas Fita di buat emosi oleh tingkah konyol Caca, " Agresif banget sih, Lo? tangan gua sampe merah, anjing," umpat Fita geram, namun Caca hanya tersenyum menanggapinya, entahlah ia merasa sangat asing dengan Fita.
Umpatan yang berupa candaan yang biasa Fita berikan, kini terasa benar-benar seperti sebuah umpatan bukan sekedar candaan belakang, seperti dulu.
"Kasar Lo mah, kan gua cuman cerita masa Lo marah sih? Lagian biasanya juga gua suka gitu," tutur Caca pura-pura kesal mendengar respon Fita.
Fita memutar bola matanya malas, "Prik banget sih, Lo? Alay tau nggak, baru pacaran gitu aja lebay banget, kaya bocah tau nggak!" Cibir Fita, Caca tersenyum menanggapinya, sesak sih tapi Gapapa mungkin Fita sedang pms jadi mudah emosi, lagian ini salah Caca juga, ia bercandanya keterlaluan.
"Namanya juga bocah psycho, maklum aja Fit. lagian Lo masih mau-maunya temenan sama dia, gua sih ogah," sahut Sintia dengan sarkas.
Lagi-lagi Caca hanya tersenyum menanggapinya.
"Bener Banget, Lo tuh Beloon tau Fit, mau maunya temenan sama bocah gila kayak dia, asal Lo tau yak? Gua tuh nyesel pernah berbaik hati sama dia, nyesel pernah jadi temennya, seharusnya cewek kayak dia tuh sekarang ada di penjara, masih untung kakak perempuan nya berbaik hati dengan tidak menjebloskan dia ke penjara, tapi gua sih lebih mendukung dia di penjarakan," tambah Sarah tidak kalah sarkas nya.
"Lo—"
Brughh!
"BACOT LO PADA!" Umpat Andre emosi, tangannya memerah bekas gebrakan meja yang ia lakukan. Tidak terima? Ya jelas!
"Sekali lagi gua denger bacotan Lo pada, gua nggak akan segan-segan laporin Lo semua ke guru BK!" Ancam Andre seraya menunjuk ke arah teman-temannya.
Ia mendekat ke arah Caca, lalu memeluk tubuhnya yang bergetar, "jangan takut, ada gua," tuturnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)