Selamat membaca;)
.
.
.
.
Sudah bersyukur kah, untuk hari ini?
Ooo
"Assalamualaikum. Mamah, Caca pulang!" Seru Caca bersenandung riang menuju ruang tamu.
"Eh? Papah udah balik?" Lanjutnya saat melihat Papah nya yang tengah duduk di sofa— ruang tamu, bersama dengan Anna dan Aini.
"Punya Mata kan? Kalau saya ada di sini berati saya udah pulang, gitu aja pake nanya," tuturnya dingin, Caca terdiam sejenak.
"Hehe," Caca tergelak lalu duduk di samping Papah nya, "maaf ya Pah?" Ujar Caca, namun tidak ada balasan dari Tomi.
Caca menyentuh lengan Papahnya, lalu tersenyum riang, "Papah, tanya Caca deh, Caca abis dari mana, gitu," tutur Caca, ia pun ingin seperti teman-temannya yang tidak pulang sehari lalu di tanya oleh Papah nya, abis dari mana?
Anna berdecak, sebal, "mulut kamu emang ga pernah bisa diem ya, Ca?"
"Kamu ga liat, Papah kamu tuh capek! Jangan buat dia semakin capek!" Cetus Anna, lagi-lagi Caca hanya bisa tersenyum membalasnya.
"Caca pijitin ya Pah?" Tawar Caca, setelah terdiam sejenak.
"Ga usah so perhatian. Gua tau Lo pasti punya niat buruk kan sama Papah? Ngaku aja Lo!" Tuding Aini dengan ketusnya.
Caca tertawa mendengarnya, membuat Aini mengernyit sebal, disini dia tidak sedang melawak tapi kenapa si gila itu malah tertawa? Batin Aini. "Dih dih, jangan-jangan kakak ya yang punya niat jahat sama Papah? Hayo ngaku haha," Gurau Caca bercanda, alih-alih tertawa justru emosi Aini terpancing, tangannya mengepal, rahangnya mengeras, ia marah dan—
PLAK!
"Jaga mulut Lo bangsat!" Umpat Aini setelah menampar keras pipi Caca.
Caca memejamkan matanya, menahan rasa perih dan panas di pipinya, sakit? Jangan di tanya. Terkadang Caca selalu bertanya pada dirinya sendiri, apa tidak ada cara lain selain kekerasan?
"Caca cuman bercanda tapi kenapa kakak tampar Caca?" Tanya Caca menatap Aini.
Aini mengeram, ia menghampiri Caca lalu mencengangkan kuat lengannya, Caca menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih karena kuku-kuku panjang Aini yang menancap pada lengannya, sementara Anna dan Tomi seolah-olah buta dan tuli, ia malah asik bercerita tanpa mau menengahi Caca dan Aini. "Lo—"
"Caca?!" teriakan Aldi mampu melepaskan cengkraman Aini pada lengan Caca, ia berjalan mundur menjauhi Caca.
"Kamu gapapa kan?" Tanya Aldi, Caca mengangguk, tangan kanannya ia angkat untuk menutup luka yang ada di lengannya, Caca tidak mau abangnya khawatir dan akan semakin marah, ia tau betul siapa Aldi.
Caca tersenyum pada Aldi, "Caca gapapa Abang, udah ah ga usah lebay," balas Caca, membuat Aldi mengendus kesal, gimana ga lebay coba? Melihat adiknya di perlakukan kasar seperti itu? Terlebih saat melihat Papah dan Mamah nya yang seolah-olah tidak perduli.
"Lo gila? Ha? Otak Lo di mana si sialan? Berani-beraninya Lo sakiti Caca kaya gitu?" Cetus Aldi marah.
"Lo salah liat," Aldi berdecih mendengar nya, ia tatap wajah Aini dengan tajam dan dingin, Aldi tertawa, "gua ga buta! Dan gua liat jelas Lo tampar Caca sampe bibirnya berdarah dan bahkan Lo cengkraman tangan Caca, bodoh!" Murka Aldi, kali ini bukan Caca yang terdiam, melainkan Aini, ia tidak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun.
"Gua ga sengaja, Lo tuli? Adik Lo aja yang ya tau diri!" Emosi Aini mulai terpancing, ia paling tidak suka di pojokan seperti ini.
Plak!
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Jugendliteratur"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)