Selamat membaca
.
.
.
.
.
Caca takut tuhan..
Ooo
"PAPAH!?"
........................................................................
"Papah.." lirih Caca, memeluk tubuh Tomi yang berlumuran darah. lidahnya Kelu tenggorokan nya terasa tercekat, tubuhnya seketika melemas.
"Papah.. hikss.." Caca menangis dengan tubuh bergetar.
"Jangan nangis.." balas Tomi lirih, ia tersenyum menatap putrinya, matanya terpejam, tomi hampir saja hilang kesadaran, bibirnya pun bergetar, "Aghhh! Sa-kit Ca.."
Caca dibuat semakin panik, ia menggenggam tangan Papahnya, "MANG UJANG!" teriak Caca di sela-sela sesegukan nya. Ia tidak kuasa melihat keadaan Papahnya seperti ini, hati nya sakit.
"Mamang!" Teriak Caca histeris.
Caca beranjak dari tempatnya, menghapus air matanya, "Caca akan bawa papah ke rumah sakit."
Kepala Tomi menggeleng, "enggak Ca, Papah cuman mau minta maaf— maafin Papah ya?"
Nafas Caca tersengal. Tubuh Caca lemas, ia kembali terjatuh ke lantai, terduduk dengan tangis.
"Papah harus kuat, Caca gak akan biarin papah kenapa-kenapa," ucap Caca sesegukan, ia merangkul tubuh Tomi dan membaringkan nya di sofa, "papah tunggu, Caca mau cari bantuan, papah yang kuat ya?" Tomi menggeleng kecil, air matanya menetes, tangannya mencengkram erat tangan Caca agar tidak pergi meninggalkan nya, "jangan nangis.. papah sayang kamu.. agh!" Jerit tomi memegangi dadanya yang terasa begitu sakit, Caca dibuat semakin panik melihat keadaan Papahnya, tangis Caca terdengar semakin parau, "Papah hiks!"
"Papah titip Mamah ya? Walaupun dia bukan ma—AGHH! SAKIT!" jeritan Tomi memenuhi gendang telinga Caca, "papah gak kuat, ish..." Caca menggeleng cepat ia tidak siap untuk kembali kehilangan orang yang ia sayang sudah cukup, Oma dan Tante Anita, Caca tidak mau Papah nya ikut kembali kepada sang maha kuasa.
"Enggak! Papah ga boleh ngomong kayak gitu! Papah harus kuat! Papah ga boleh pergi! Caca ga suka!"
Tomi tersenyum ia peluk tubuh anak yang selama ini ia sakiti, anak yang selama ini tidak pernah ia anggap kehadiran dan anak yang sering kali ia perlakuan dengan tidak manusiawi, air matanya menitik, "Maafin pa-pah... Ma-af..."
"Maafin Papah Ca.. maafin Mamah kamu juga. jaga dia ya?"
"Dia memang bukan ma— AGHHH! PA-PAH GA KUAT CA! SA-KIT!" Tomi mencengkeram kuat lengan Caca, sehingga kukunya menancap dan berdarah, sakit? Tapi Caca tidak perduli, Papah nya jauh lebih sakit dari pada dirinya.
"Ma-af—" terakhir. Pandangan Tomi menggelap, bersamaan cengkraman tangannya pada lengan Caca mengendur, matanya terpejam dengan ikhlas. tepat pada hari Senin pukul 14.04 Tomi menghembuskan nafas terakhirnya.
"PAPAH!" jerit Caca, hati nya benar-benar hancur, untuk ketiga kalinya dalam dua bulan Caca kembali berduka.
Caca menggeleng cepat, bibir nya pun bergetar, "PAPAH BAN-GUN!" Caca menggila, ia mengguncang-guncang tubuh Tomi yang sudah terpejam dengan tenang, "bangun! Papah! Bangun!" Histeris Caca.
"Papah bangun. Caca ga akan maafin Papah, kalau Papah ga mau ba-ngun.
Papah! Hiksss.."
Caca memejamkan matanya, Caca melonggarkan pelukannya menatap nanar pisau yang menusuk pada bagian dada Tomi, dengan tangan yang bergetar Caca memberanikan diri untuk mencabut pisau yang menusuk dada papahnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Teen Fiction"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)