40 Caca Gapapa.

7.7K 397 7
                                        

Selamat Membaca
.
.
.
.
.


"Bisa diam ga?!"

Gadis kecil itu mencibir sebal, " Dasar baperan, di gituin aja ngambek," ejek gadis kecil dengan tampang songong nya, siapa lagi kalau bukan Caca Aeyza Allqiya.

"Balikin sepatu aku! Atau Aku aduin sama bunda!!" Ancam bocah pria, dengan sangat kesal, baru pertama kali bertemu dengan gadis ini, tapi kesabaran bocah pria tersebut di uji, ia di buat kesal setengah mati.

"Dasar anak bunda, dikit-dikit ngadu, sekalian aja ngadu sama domba sana!" Balas Caca lalu menjulurkan lidahnya mengejek.

Bruk!

Dengan sangat kesal bocah laki-laki itu melemparkan sepatunya kehadapan Caca, alih-alih mengenai badannya justru Caca kecil malah menangkap lemparan sepatu dengan sangat gesit, "Wis dapat sebelah lagi, sepatu nya. lumayan, di jual laku kayanya, soalnya masih bagus," Gumam Caca, kedua mata bocah pria itu membelo.

"Balikin sepatu aku!" Bocah pria itu berusaha mengambil alih sepatunya. namun, dengan gerakan lincahnya, Caca mampu menghindar.

"Ayok ambil kalau bisa, jangan lemah!" Ucap Caca meledek.

"Berisik!" Bentak bocah itu dengan wajah merah padam, tawa Caca pun lepas saat itu juga.

"Bocah lemah, dasar bocah lemah!"

"Kam—"

"WOY!" Pekik Raffi membuat tubuh Caca tersentak kaget, jantungnya berdegup dengan kencang.

"Setan Lo yak!" Sembur Caca dengan sangat gondok.

Raffi tersenyum simpul, ia mendudukkan bokongnya di rerumputan kecil, samping Caca. "Dari mana aja Lo? Izin ke toilet sampe lama banget?" Tanya Caca sewot.

Raffi tersenyum penuh arti membuat Caca merinding sendiri melihatnya, "Lo ga lagi kesurupan kan?"

Kepalanya menggeleng kecil, ia mengambil sesuatu yang ada di kantung celananya. "Nih!" Sesuatu yang dibalut keresek hitam.

Kening Caca mengerut, "ini bukan bom, tai atau sejenisnya kan?"

Raffi lagi-lagi tergelak mendengarnya, ia menggeleng kecil, "buka aja," titahnya, dengan ragu Caca mencoba membuka ikatan yang ada di kantung kresek tersebut.

"AAAA!"

"GULALI BUTTERFLY? SAMA GULALI FLOWER!?" pekik Caca, heboh.

Reflek ia bertepuk tangan sembari meloncat-loncat kegirangan. seperti bocah kecil yang di belikan balon oleh kedua orang tuanya.

"Demi apa sih? Gua seneng banget ya ampun!" Seru Caca, sebenarnya ia sudah lama menginginkan kedua gulali tradisional itu, yang tentunya berbentuk kupu-kupu dan bunga, bagi Caca gulali tradisional adalah moodnya, namun seiring berjalannya waktu sekarang jarang sekali ia menemui seorang yang berjualan gulali seperti ini.

"Seriusan, ini buat gua?" Tanya Caca sedikit tidak percaya, lagi-lagi Raffi tersenyum sambil mengangguk dengan mantap. "Kok Lo bisa tau sih, kalau gua lagi pengen makan gulali kaya gini? Mana bentuknya kupu-kupu sama bunga lagi, Lo tau dari mana dah?" Tanya Caca dengan kepo.

"Seneng ga?" Tanyanya, dengan ngegas Caca menjawab, "seneng lah! Ya kali enggak!" Sentak Caca.

"Kapan-kapan gua beliin lagi, kalau Lo emang suka," balasnya, senyum Caca kembali terbit, dengan refleks ia memeluk tubuh Raffi sehingga membeku. "Aaaa.. makasih!" Seru Caca dalam pelukan Raffi.

CACA GAPAPA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang