Selamat membaca.
.
.
.
.
.
"DOKTER!"
"DOKTER!" Teriak Raffi lagi, sembari menggendong Caca yang terkulai lemas, dengan darah yang terus mengalir dari pelipisnya.
"DOKTER!" Kali ini Aldi yang berteriak, berlari mencari keberadaan sang dokter, air matanya tak kuasa ia bendung. Hati nya teriris saat mendengar ucapan Caca yang melantur.
"SUSTER! CEPAT SIAPKAN RUANG OPERASI!" Titah dokter itu, sembari membantu Raffi dan Aldi merebahkan tubuh Caca yang pucat dan lemas di Brankar rumah sakit.
"Bu-na makasih kue sa-ma lilinnya—" Ucap Caca melantur, dengan mata terpejam, deru nafasnya sangat melemah.
"Ca-ca ikut Bu-na ya?" Ucap Caca lagi, tiba-tiba air matanya menetes dari sudut matanya, Raffi mengusap air mata Caca lalu berbisik. "Kamu harus kuat, sayang. Kita semua sayang kamu."
Berbeda dengan Aldi ia mengecup kening Caca, mengusap pelan rambut nya yang basah dengan darah. Bahkan gaun putih yang ia pakai kini menjadi warna merah darah, "Abang dan Mamah, udah sayang lagi sama Caca, maka dari itu Caca harus janji buat sembuh," kali ini Aldi yang berbisik, lalu kembali mencium pipi Caca sebelum Brankar itu dibawa masuk ke ruang operasi.
Sementara Anna baru saja sadar dari pingsannya. Kini Anna tengah bersama dengan bibi di dalam mobil Raffi, Mulut bi Ijah tidak henti-hentinya melantunkan doa untuk keselamatan Caca, bagaimana pun juga caca sudah seperti anak baginya, susah dan senang nya Caca, bibi Ijah tau semua. "Kamu harus kuat Ca, disini bibi menunggu kamu hikss.."
sedangkan Fita ia terus menangis dengan menyalahkan dirinya, hal itu membuat Andre tidak kuasa menahan air matanya, hatinya sakit, kedua sahabat sedang terluka.
"Cukup Fita. Gua yakin Caca akan baik-baik aja, dan dia akan marah kalau Lo terus-terusan menyalahkan diri Lo sendiri," Tidak bisa di pungkiri hati Andre juga ikut sakit dan sesak. tidak ada yang tidak terluka, jika melihat sahabat nya sendiri sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya.
Fita menggelengkan, tangisnya terdengar pilu, "Ini semua gara-gara gua. andai aja Caca nggak dorong gua pasti—hikss. Ca-ca nggak akan ka-ya gini Dre, gua be-nci hikssss.." jika terjadi sesuatu pada Caca, Fita tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Cukup Fit, doain Caca aja. Gua yakin Caca pasti kuat," Ungkap Andre meyakinkan. walaupun dirinya juga ragu akan hal itu, apalagi saat melihat keadaan Caca yang jauh dari kata baik, tubuh kurus Caca terlihat sangat pucat seolah-olah tidak berdaya, tatapannya kosong dan darah di keningnya, tidak mau berhenti mengalir.
"Ta-pi Caca, Dre. hikss..." Tangis Fita semakin menjadi-jadi saat kembali teringat akan tanggal sekarang, Fita mengusap air matanya. lalu menatap Andre dengan lekat dan ia kembali menangis sembari bertanya, "Andre hikss.. sekarang tanggal berapa?" Tanyanya diiringi isak-kan.
Andre terdiam sejenak, dadanya kembali merasakan sesak yang semakin mendalam, "29 Juni," Gumam Andre lirih.
Mendengar itu Fita langsung memalingkan wajahnya, tubuh Fita lemas hingga terjatuh di lantai rumah sakit. Tangisnya kembali pecah, "Caca kita ulang tahun kan Dre? Hikss.."
Andre memejamkan matanya lalu berjongkok menyetarakan tingginya dengan Fita, ia peluk tubuh Fita yang gemetar, "iya. Caca kita ulangtahun sekarang, dia—" tenggorokan Andre tercekat. ia tidak mampu berucap selain menangis dalam pelukan Fita. keduanya sama-sama rapuh.
°Caca°
Disisi lain, Caca di tangani oleh tiga dokter dan lima suster sekaligus. Peluru yang masuk kedalam kening kanan Caca cukup dalam. Bahkan pendarahan yang Caca alami tidak ada henti-hentinya, padahal para dokter sudah semaksimal mungkin untuk menghentikan nya, karena hal ini mampu berakibat fatal, Caca akan kehabisan darah.
KAMU SEDANG MEMBACA
CACA GAPAPA [END]
Fiksi Remaja"Mendapatkan kasih sayang dan cinta dari kalian itu, seperti halnya aku berharap ada bintang yang jatuh, pada siang hari." Caca Aeyza allqiya. -selesai di revisi Kamis 05-05-2022 Warning! Plagiat dilarang mendekat. Ini murni h...
![CACA GAPAPA [END]](https://img.wattpad.com/cover/265651001-64-k768565.jpg)