Arezzo dan Asifa juga terkejut, saat mendapati ada Aisyah di ruang priksa kandungan. Terutama untuk Asifa, perempuan itu bahkan sampai membolakan matanya.
"Silahkan masuk, Tuan, Nyonya," ucap suster tadi.
Aisyah gelagapan. "Saya harus pergi," ucapnya.
Aisyah pikir, Arezzo memang benar-benar sibuk di kantornya, sampai tidak punya waktu untuk mengantarnya tadi pagi. Namun lihat, laki-laki itu menemani Asifa periksa kandungan.
Saat Aisyah akan melewati Arezzo, dengan cepat suaminya itu menahan istrinya. "Kenapa pergi, kau tidak mau melihat ponakanmu?" tanya Arezzo.
Tubuh Aisyah menegang. Tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan, kewarasan suaminya patut dipertanyakan. Wanita mana yang kuat menemani madunya periksa kandungan? Kalaupun memang ada, itu bukan Aisyah.
"Maaf, Mas. Namun, Aisyah harus menolak, karena masih ada pekerjaan yang harus Aisyah urus," ucap Aisyah lembut dan pelan. Sangat ia usahakan, agar suaranya tidak terdengar bergemetar.
"Kamu masih pulang lama?" tanya Arezzo.
Aisyah menggeleng. "Aku tidak tahu."
Arezzo menaikan sebelah alisnya. "Saya dan Asifa akan menunggu kamu, jadi setelah selesai, hubungi Asifa."
"Saya tidak mau dimarahi mama lagi, karena tidak membawa pulang menantunya," lanjut Arezzo. Selalu, Arezzo berujar datar, walaupun itu bersama dengan Asifa.
Di bagian lain ruangan itu, ada Ulfa yang tengah menatap keheranan dengan tiga orang di hadapannya. Ulfa tau Arezzo, dia adalah suami dari Aisyah. Lalu, siapa wanita lain yang datang bersamanya? Dan siapa yang akan memeriksakan kandungan. Ulfa mendadak menjadi merasa orang yang paling lama koneks di situ.
"Permisi, bisa kita langsung mulai saja pemeriksaannya? Soalnya masih banyak pasien lain yang mengantri di luar," instruksi Ulfa mengalihkan atensi pandangan ke arahnya.
"Iya, Dok!" Asifa tersenyum girang.
Aisyah melepaskan tangannya dari Arezzo. "Maaf Mas, ini bukan bidang saya. Saya permisi."
Aisyah tergopoh-gopoh keluar dari ruangan itu, tentu saja air matanya sudah terurai mengalir deras membasahi cadarnya.
Aisyah yang berlarian, menangis di sepanjang lorong rumah sakit menuju ruangnya, tentu hal itu menjadi pusat perhatian. Namun, Aisyah tidak memperdulikan hal itu.
Sampai pada akhirnya, Aisyah sudah sampai pada ruangannya. Langsung saja dia mengunci diri. Namun, suara tangisnya ia tahan, karena ruangan itu tidak kedap suara.
Aisyah menekan dadanya yang terasa sesak. Dengan gerakan yang tidak tentu, Aisyah mengambil obatnya yang berada di dalam laci. Segera, ia telan bulatan tablet obat itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursinya.
Ddrrrtt...
Suara ponsel dari saku snelli Aisyah berdering. Dengan sigap, ia meraih benda pipih itu. Di sana tertera nama suster Lia.
"Dok, datang ke bangsal, ada pasien yang kejang-kejang," ungkap orang di seberang sana.
Aisyah melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. Dia butuh waktu untuk ke ruang bangsal, karena ruangannya berada cukup jauh.
"Lakukan pertolongan pertama, saya akan sampai di sana segera mungkin." Lalu, Aisyah mematikan sambungan telepon itu.
"Shitt..." Aisyah merintis saat kepalanya masih saja berdenyut, padahal dia menggunakan obat dengan dosis yang cepat untuk menghilangkan sakit walaupun cuma sementara, itu cukup untuk dirinya bekerja saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Madu (Lengkap)
RastgeleCERITA INI BISA MEMBUAT EMOSI ANDA JUNGKIR BALIK SALTO MENGGELINDING ⚠️ Aisyah harus menghadapi kenyataan pahit ketika suaminya, Arezzo, menghamili adiknya, Asyifa. Hatinya hancur, merasa dikhianati oleh dua orang terdekatnya. Meski terluka, Aisyah...
