****
Seluruh pandang mata seketika langsung tertuju ke arah Gerlan yang baru saja masuk ke dalam basecamp bersama Luky dan Revan. Ketiga laki-laki itu tampak masih lengkap menggunakan seragam SMA Pelita Bangsa yang hanya di tutupi oleh jaket kebanggaan Refour. Dan juga tas ransel yang di sampirkan di pundak kanan mereka masing-masing.
"Ada apa Bang? Kenapa lo minta kita semua buat kumpul di sini," tanya Aksa memperhatikan sosok Gerlan yang seperti sedang mengalami banyak pikiran. Laki-laki itu mendudukkan tubuhnya di kursi yang masing kosong. Melingkarkan kedua tangannya ke belakang kepala lalu menundukkan pandangannya.
"Nafisha hilang," suara itu bukan berasal dari sang ketua Refour. Melainkan dari Revan yang berdiri tidak jauh darinya.
"Lagi?!" sela Aksa merasa begitu terkejut.
Kenapa perempuan itu selalu saja menjadi incaran pertama dari musuh-musuh Refour. Apa mereka tidak bisa menghadapi anggota Refour secara langsung sampai harus melibatkan orang yang lemah.
"Kita harus kasih tahu Bang Dava."
"Jangan!" sergah Gerlan saat melihat Gibran yang hendak mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Untuk menghubungi Dava yang sudah beberapa hari ini berada di luar kota.
Gibran yang mendengar hal itu tampak menghentikan gerakan tangannya. Menatap Gerlan dengan kedua alisnya yang saling bertautan satu sama lain. "Kenapa?" tanyanya.
"Dava sama sekali nggak boleh tahu soal ini. Karena gue sudah di kasih kepercayaan sama dia buat jagain Nafisha selama dia pergi. Gue nggak mau bikin dia kecewa buat yang kedua kalinya," jelas Gerlan seraya bangkit dari posisi duduknya.
Sebelum Dava pergi keluar kota laki-laki itu memang sempat datang menemuinya. Meminta Gerlan untuk menjaga Nafisha selama dia dan Elvina pergi untuk menemui kerabat mereka yang ada di sana. Serta mengurusi bisinis yang sedang mengalami sedikit masalah.
Kejadian itu terjadi tepat beberapa hari setelah Gerlan mengakhiri hubungannya dangan Nafisha. Namun sepertinya Dava sama sekali tidak mengetahui akan hal itu.
"Tapi sekarang apa yang terjadi? Lo sudah lalai buat jagain Nafisha!"
"Gue tahu! Gue juga sadar. Tapi hubungan gue sama Nafisha sudah berubah dan itu yang buat gue susah buat jagain dia," ungkap Gerlan.
"Kenapa? Kalian berdua putus." Aksa tiba-tiba saja tertawa membuat semua yang ada di sana menatapnya bingung. "Bahkan dulu lo pernah bilang sama Bang Dava kalau lo nggak bakal pernah putusin Nafisha. Tapi ternyata lo sama sekali nggak bisa buktiin itu," sindirnya.
Gerlan tampak terdiam menatap Aksa yang saat ini sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Bagaimana laki-laki itu bisa tahu soal kalimat yang pernah ia ucapkan kepada Dava. Padahal pada saat itu Aksa sama sekali tidak ada di basecamp Refour.
"Lo sama sekali nggak tahu alasan Gerlan ngelakuin itu. Jadi lebih baik lo diam," cetus Luky.
"Apa yang gue nggak tahu?!"
Suara dering telepon tiba-tiba saja terdengar nyaring di sekitar ruangan. Membuat perdebatan mereka terhenti dan beralih ke arah sumber suara. Memperhatikan Gerlan yang sedang mengangkat telepon dari seseorang yang berada di seberang sana.
"Gue sudah tahu siapa anggota Nevar yang selama ini kita cari."
Gerlan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya. Berdiri seraya menghadap ke arah anggota Refour yang sudah berjejer rapih di depannya.
"Siapa?"
Suara hembusan nafas kasar seketika terdengar dari speker ponsel Gerlan. Membuat laki-laki itu penasaran dengan apa yang akan Dava ucapkan selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GERLAN (END)
RomansaGerlan Mauriz, laki-laki tampan yang terkenal memiliki sifat sedingin es yang selalu menampilkan wajah datarnya. Selama 18 tahun ia menjalani hidup, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya terpikat oleh perempuan. Hingga akhirnya waktu it...
