****
Gerlan keluar dari dalam kamarnya. Berlari kecil menuruni satu persatu anak tangga dengan begitu bersemangat. Malam ini ia akan mengajak Nafisha pergi ke sebuah pasar malam yang berada tidak terlalu jauh dari kediaman mereka. Dan karena alasan itulah yang membuat senyum di kedua sudut bibirnya tidak berhenti mengembang sejak tadi.
Gerlan naik ke atas sepeda motornya yang terparkir di depan teras rumah. Melajukan motor itu menuju rumah Nafisha dengan kecepatan sedang.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dava memperhatikan penampilan Nafisha yang tidak seperti hari-hari biasanya.
Sedangkan Nafisha yang baru saja turun dari kamarnya sedikit terkejut. Ketika mendapati ruang tamu rumahnya sudah terisi penuh oleh teman-teman Dava. Mereka semua tampak ikut memperhatikan penampilan Nafisha dari atas sampai bawah. Hingga membuat perempuan itu merasa gerogi di tempatnya.
"Aku mau keluar sama Kak Gerlan," sahut Nafisha mencengkram erat tali tas yang menggantung di pundak kanannya. Kenapa sekarang ia jadi merasa gugup ketika berbicara dengan Kakak laki-lakinya itu.
"Kenapa dia nggak bilang apa-apa sama Kak Dava kalau mau ajak kamu keluar," cetus Dava seraya bangkit dari posisi duduknya.
Nafisha sedikit menundukkan pandangannya. Ia pikir Gerlan sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Dava untuk mengajaknya keluar malam ini, tapi ternyata belum.
"Positive thinking aja. Mungkin dia lupa buat izin sama lo," celetuk Putra yang duduk tidak terlalu jauh dari kedua Kakak beradik itu.
Suara deru motor tiba-tiba saja terdengar di sekitar mereka. Dan Dava yang menyadari itu pun segera berjalan keluar rumah. Dengan di ikuti oleh Nafisha dan juga temannya-temannya dari belakang.
"Lo mau ajak Adik gue ke mana?" Gerlan yang baru saja akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu seketika kembali mundur. Ketika melihat sosok Dava yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan teras rumahnya.
"Ke tempat yang bisa buat dia senang," sahut Gerlan melirik sekilas ke arah Nafisha yang baru saja muncul dari dalam rumahnya.
Dahinya sedikit berkerut ketika melihat anggota inti Refour yang ternyata juga ada di sana. Namun tidak ada niatan sedikitpun untuk ia bertanya-tanya tentang mereka.
"Gue bolehkan bawa Nafisha pergi malam ini?" tanyanya kepada Dava.
Dava sempat terdiam selama beberapa saat di tempatnya. Sebelum kemudian ia menyuruh Nafisha untuk berjalan mendekat ke arah Gerlan. Sebagai jawaban dari pertanyaan laki-laki itu.
"Lo harus bawa Adik gue pulang lagi ke rumah ini dalam keadaan yang utuh."
Gerlan sempat menoleh sekilas ke arah Nafisha yang berdiri di sampingnya. Kemudian kembali melihat ke arah Dava dan mengangguk.
****
Banyak sekali wahana permainan serta lampu warna-warni yang terpasang di sekitar pasar malam itu. Seperti membuat keindahan tersendiri di mata para pengunjung yang melihatnya. Dan di tambah lagi dengan bintang-bintang di langit yang bersinar begitu terang.
Nafisha dapat melihat ada banyak sekali sepasang kekasih yang juga datang ke tempat itu. Untuk menghabiskan waktu malam minggu mereka dengan keseruan menaiki berbagai wahana yang ada di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
GERLAN (END)
RomantizmGerlan Mauriz, laki-laki tampan yang terkenal memiliki sifat sedingin es yang selalu menampilkan wajah datarnya. Selama 18 tahun ia menjalani hidup, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya terpikat oleh perempuan. Hingga akhirnya waktu it...
