Part 28. Di Balik Kecelakaan

709 57 5
                                        

****

Gerlan dan ketiga temannya terlihat sedang berjalan menuruni anak tangga. Menuju parkiran motor yang berada di lantai dasar. Beberapa murid perempuan yang menyadari kehadiran mereka memilih untuk berhenti. Agar bisa melihat ketampanan dari ke empat laki-laki itu.

"Tunggu!" Daniel tiba-tiba saja merentangkan salah satu tangannya ke samping. Saat mereka sudah berada dekat dengan motor mereka masing-masing. Membuat langkah kaki teman-temannya itu seketika langsung terhenti.

"Ada apaan si lo?" tanya Luky yang berdiri tepat di samping tubuh Daniel. Ia tadi hampir saja terjatuh karena terkejut saat temannya itu merentangkan tangannya.

"Itu bukannya Nafisha," ucap Daniel kepada teman-temannya. Ketika tidak sengaja melihat sosok Nafisha yang sedang berdiri di dekat pagar sekolah seorang diri.

"Tumben dia cuma sendiri. Biasanya juga sama teman-temannya," celetuk Revan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Kayaknya dia mau pulang tuh, Ger. Lo nggak mau tawarin dia buat pulang bareng?" ucap Daniel memberikan usul.

Gerlan sempat menoleh sekilas ke samping tubuhnya. Melihat Nafisha yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Kemudian menggeleng lalu berjalan menaiki sepeda motornya.

****

Nafisha berjalan keluar gerbang SMA Pelita Bangsa seorang diri. Sedangkan ketiga temannya beberapa menit yang lalu sudah di jemput oleh supir pribadi mereka masing-masing. Nafisha mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas. Ia ingin menanyakan tentang keberadaan Dava saat ini. Karena ada sesuatu yang ingin ia ceritakan kepada Kakak laki-lakinya itu.

Nafisha Razetta: Kak Dava lagi ada di mana sekarang?

Nafisha memperhatikan sekilas situasi di sekitarnya. Sekalian menunggu balasan dari Dava yang sepertinya sedang sangat sibuk.

Ia merasa heran, kenapa sejak tadi belum juga ada satu taksi pun yang melintas di depannya. Apa ia harus pulang dengan meniki bus? Menunggu di depan halte sampai hujan deras. Persis seperti kejadian beberapa minggu yang lalu.

Ponsel yang berada di gengaman tangan Nafisha tiba-tiba saja bergetar. Menampilkan sebuah balasan chat dari sosok Dava.

Dava Kalandra: Di cafe. Ada apa?

Nafisha Razetta: Cepat pulang ya Kak. Ada yang mau aku ceritain.

Dava Kalandra: Tunggu, Kak Dava pulang sekarang.

Nafisha menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ketika membaca chat yang di kirimkan oleh Dava. Laki-laki itu memang selalu ada setiap ia membutuhkannya.

Nafisha memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas. Memindahkan posisi tubuhnya menjadi sedikit ke kanan. Agar tidak menghalangi murid-murid yang ingin keluar gerbang. Tidak berselang lama setelah itu akhirnya ia melihat sebuah taksi yang melintas di depannya. Ia pun langsung menghentikan taksi itu dan segera masuk ke dalamnya.

"Kenapa lo tadi nggak mau tawarin Nafisha buat pulang bareng?" tanya Daniel ketika taksi yang di tumpangi oleh Nafisha sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.

"Buat apa ngelakuin itu. Kalau gue sendiri sudah tahu dia bakal tolak tawaran gue," sahut Gerlan menarik salah satu sudut bibirnya.

GERLAN (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang