****
Gerlan menyentuh pipi kirinya yang terasa perih. Seraya menatap wajah Nafisha dengan tatapan terkejutnya.
"Aku buru-buru datang ke sini buat misahin kalian berdua. Karena aku nggak mau kalau Kak Gerlan sampai kenapa-kenapa. Tapi Kak Gerlan sama sekali nggak ngehargain usaha aku!" seru Nafisha.
Nafas perempuan itu terdengar begitu memburu. Sedangkan tangan kanannya yang sempat ia gunakan untuk menampar wajah Gerlan kini dalam kondisi terkepal. Ia juga tidak menyangka jika akan melakukan hal itu di depan banyak orang seperti ini.
"Tapi lo hampir aja terluka gara-gara dia Naf," sahut Gerlan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Leon yang sejak tadi berdiri di belakang tubuh Nafisha.
"Pacar lo aja yang bego. Buat apa dia diam di sana kalau sudah tahu ada bahaya," ucap Leon menepis tangan Gerlan yang ada di depan wajahnya.
"Kak!" Nafisha segera mencegah Gerlan yang akan kembali menghajar Leon. Menyentuh pundak laki-laki itu menggunakan kedua tangannya.
"Kenapa? Lo ngerasa nggak terima sama ucapan gue?" tanya Leon mencoba memancing kembali amarah Gerlan yang sudah sempat redam.
"Kita pergi dari sini." Nafisha langsung menarik begitu saja pergelangan tangan Gerlan. Membawanya cepat-cepat pergi dari sana.
****
Sebuah mobil dinas yang sudah dalam keadaan kosong terlihat terparkir rapih di depan SMA Pelita Bangsa. Sedangkan beberapa polisi yang tadi menaiki mobil itu. Kini sedang sibuk menanyakan tentang kronologi kerusuhan yang terjadi sekitar beberapa menit yang lalu. Kepada Pak Elno selaku kepala sekolah dari SMA Pelita Bangsa. Dan juga orang yang sudah menghubungi polisi itu untuk segera datang ke tempat ini.
Murid-murid di sekolah itu satu persatu mulai keluar dari dalam kelas. Dengan tas ransel yang ada di pundak mereka masing-masing. Walaupun para guru sudah menyuruh murid-muridnya untuk segera pulang ke rumah. Tapi masih saja ada beberapa murid yang tetap berada di dalam sekolah itu.
Nafisha menaruh sebuah kotak P3K di atas kedua pahanya. Mengeluarkan selembar kapas putih yang sudah sempat ia berikan beberapa tetes cairan alkohol di atasnya. Dengan hati-hati ia pun mulai mengobati luka yang ada pada wajah Gerlan.
Mereka berdua kini sedang berada di atas rooftop. Di temani oleh Luky, Daniel, dan juga Revan yang duduk tidak terlalu jauh dari tempat mereka.
Gerlan sesekali terlihat meringis kesakitan. Ketika Nafisha sengaja menekan luka yang ada pada pelipis kirinya. Namun perempuan itu sama sekali tidak peduli dan tetap mengobati luka Gerlan. Tanpa ada satu kata pun yang keluar dari dalam mulutnya.
"Nafisha, sakit!" ucap Gerlan mencengkram pergelangan tangan Nafisha hingga gerakan perempuan itu terhenti.
"Sakit? Kalau begitu obatin sendiri lukanya." Nafisha memberikan kapas yang ada di tangannya kepada Gerlan. Membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap ke arah dinding pembatas yang berada beberapa meter di depannya.
"Kepala gue juga sakit," gumam Gerlan seraya menyandarkan kepalanya pada pundak kiri Nafisha. Kepala bagian belakangnya saat ini benar-benar terasa begitu sakit. Mungkin akibat dari lemparan batu besar tadi.
"Kalau sudah tahu sakit. Kenapa Kak Gerlan tetap mau ngelanjutin pertengkaran itu?"
"Gue masih ngerasa belum terima sama kejadian tadi," sahut Gerlan memejamkan kedua matanya secara perlahan.
Gerlan tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Martin dan juga teman-temannya, yang sudah merusak beberapa fasilitas yang ada di SMA Pelita Bangsa. Karena Leon lah akar dari semua permasalahan ini. Setidaknya beberapa pukulan darinya tadi bisa sedikit membalaskan dendam Martin kepada Leon.
KAMU SEDANG MEMBACA
GERLAN (END)
RomansaGerlan Mauriz, laki-laki tampan yang terkenal memiliki sifat sedingin es yang selalu menampilkan wajah datarnya. Selama 18 tahun ia menjalani hidup, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya terpikat oleh perempuan. Hingga akhirnya waktu it...
